
Emisi kendaraan bermotor menjadi salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca di Indonesia sehingga diperlukan berbagai solusi untuk menekan dampaknya terhadap lingkungan.
Salah satu langkah yang dinilai paling efektif adalah mempercepat penggunaan kendaraan listrik yang didukung oleh energi bersih dan infrastruktur yang memadai.
Seiring meningkatnya jumlah kendaraan di jalan raya, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) juga terus bertambah. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan emisi karbon, tetapi juga memperbesar ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Karena itu, transisi menuju kendaraan listrik menjadi bagian penting dari upaya mencapai target net zero emissions (NZE) yang telah ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan berbagai studi, sektor transportasi merupakan salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca di Indonesia. Sebagian besar emisi tersebut berasal dari transportasi darat, terutama kendaraan pribadi.
Oleh sebab itu, pengurangan emisi kendaraan bermotor menjadi agenda penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan menjaga ketahanan energi nasional.
Baca Juga: Mengenal Cara Kerja Mobil Listrik, Berdasarkan Jenis-Jenisnya
Mengapa Emisi Kendaraan Bermotor Menjadi Tantangan Besar di Indonesia?
Menurut laporan Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2024 yang dirilis Institute for Essential Services Reform (IESR), sektor transportasi menghasilkan sekitar 150 juta ton CO2e pada 2022.
Dari jumlah tersebut, sekitar 90% berasal dari transportasi darat, sedangkan kendaraan penumpang menyumbang hampir 78% dari total emisi transportasi darat.
Peningkatan jumlah kendaraan setiap tahun juga membuat konsumsi BBM terus meningkat. Di sisi lain, sebagian besar kebutuhan BBM Indonesia masih dipenuhi melalui impor.
Ketergantungan ini tidak hanya membebani anggaran negara melalui subsidi energi, tetapi juga menimbulkan risiko terhadap keamanan energi nasional.
Karena itu, pemerintah menargetkan pengurangan emisi sektor transportasi sebagai bagian dari strategi mencapai NZE pada 2060.
Berbagai langkah dilakukan, mulai dari peningkatan efisiensi kendaraan, penggunaan bioenergi dan hidrogen, hingga percepatan elektrifikasi transportasi darat.
Peran Kendaraan Listrik dalam Menurunkan Emisi Kendaraan Bermotor
Berikut adalah beberapa peran penting kendaraan listrik untuk menurunkan emisi yang dihasilkan kendaraan bermotor.
1. Kendaraan Listrik Menghasilkan Emisi Lebih Rendah
Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) memiliki keunggulan utama berupa tidak adanya emisi gas buang langsung dari knalpot. Berbeda dengan kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel, EV tidak menghasilkan karbon dioksida (CO2) saat digunakan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jejak karbon kendaraan listrik lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional, bahkan jika memperhitungkan proses produksi baterai.
Pengurangan emisi kendaraan bermotor menjadi semakin signifikan ketika listrik yang digunakan untuk mengisi daya berasal dari sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, atau panas bumi.
IESR mencatat bahwa emisi kendaraan listrik per kilometer saat ini sekitar 18% lebih rendah untuk kendaraan roda dua dan 25% lebih rendah untuk kendaraan roda empat dibandingkan kendaraan konvensional.
Angka tersebut diperkirakan terus meningkat seiring semakin bersihnya sistem kelistrikan nasional.
2. Biaya Operasional Lebih Efisien
Selain ramah lingkungan, kendaraan listrik juga menawarkan biaya operasional yang lebih rendah.
Total biaya kepemilikan kendaraan listrik roda dua diperkirakan sekitar 7% lebih murah dibandingkan kendaraan konvensional, sedangkan kendaraan roda empat dapat menghemat hingga 14%.
Penghematan ini berasal dari biaya energi yang lebih rendah dan jumlah komponen kendaraan yang lebih sedikit sehingga biaya perawatan menjadi lebih murah.
Seiring penurunan harga baterai secara global, harga kendaraan listrik juga diperkirakan akan semakin terjangkau bagi masyarakat Indonesia.
3. Teknologi Baterai Terus Berkembang
Kemajuan teknologi baterai turut memperkuat peran kendaraan listrik dalam mengurangi emisi kendaraan bermotor. Baterai lithium-ion yang saat ini banyak digunakan telah mengalami peningkatan kapasitas, umur pakai, dan efisiensi.
Selain itu, pengembangan teknologi solid-state battery diperkirakan akan menghadirkan kendaraan listrik dengan jarak tempuh lebih jauh, waktu pengisian lebih cepat, dan tingkat keamanan yang lebih tinggi.
Perkembangan ini dapat mendorong lebih banyak masyarakat beralih ke kendaraan listrik.
4. Infrastruktur Pengisian Daya Semakin Bertambah
Pemerintah dan pelaku industri juga terus memperluas infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.
Kehadiran Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) membantu mengurangi kekhawatiran masyarakat terkait jarak tempuh kendaraan listrik. Meski demikian, tingkat pemanfaatan SPKLU di beberapa daerah masih relatif rendah.
Oleh karena itu, peningkatan jumlah pengguna kendaraan listrik perlu berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur agar investasi yang dilakukan dapat memberikan manfaat maksimal.
Kendaraan Listrik Perlu Didukung Energi Bersih
Meskipun kendaraan listrik mampu mengurangi emisi kendaraan bermotor, manfaat lingkungan yang diperoleh akan lebih optimal apabila listrik yang digunakan berasal dari energi terbarukan.
Saat ini, sebagian listrik di Indonesia masih dihasilkan dari pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
Karena itu, transisi menuju energi bersih harus berjalan bersamaan dengan elektrifikasi transportasi. Semakin besar porsi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional, semakin rendah pula emisi yang dihasilkan kendaraan listrik.
Selain itu, strategi pengurangan emisi transportasi juga perlu didukung oleh peningkatan penggunaan transportasi publik, pengembangan kota yang lebih ramah pejalan kaki, serta penerapan konsep mobilitas berkelanjutan.
Baca Juga: 10 Cara Menghemat Energi di Industri, Hemat Biaya dan Ramah Lingkungan
Mari Bersama TBS Mendorong Masa Depan Transportasi Rendah Emisi
Percepatan adopsi kendaraan listrik merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor di Indonesia.
Selain membantu menekan emisi karbon, kendaraan listrik juga mendukung efisiensi energi, mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Komitmen terhadap transisi energi tersebut juga ditunjukkan oleh TBS melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.
Pada 2021, TBS bersama GoTo Group mendirikan PT Energi Kreasi Bersama (Electrum) yang berfokus pada pengembangan kendaraan listrik, teknologi baterai, infrastruktur battery swapping, stasiun pengisian daya, hingga pembiayaan kendaraan listrik.
Pada 2022, Electrum turut berkolaborasi dengan Pertamina, Gogoro, dan Gesits dalam peluncuran ekosistem kendaraan listrik yang diresmikan Presiden Joko Widodo.
Electrum juga berpartisipasi dalam penyelenggaraan KTT G20 dan B20 di Bali dengan menyediakan 50 motor listrik, 11 shelter, dan 150 mitra pengemudi Gojek untuk melayani para delegasi.
Dukungan terhadap pengembangan ekosistem kendaraan listrik semakin diperkuat melalui pendanaan sebesar US$15 juta dari Asian Development Bank (ADB), Australian Climate Finance Partnership, dan Bank DBS Indonesia pada 2024.
Pendanaan ini digunakan untuk memperluas armada kendaraan listrik dan jaringan battery swapping dengan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 123.000 ton per tahun.
Electrum juga terus menghadirkan inovasi melalui peluncuran motor listrik H3i pada 2024 dan Electrum H1 di 2025. Hingga saat ini, Electrum telah mengoperasikan lebih dari 370 Battery Swapping Station yang mendukung lebih dari 6.000 motor listrik di Jakarta.
Saat ini, TBS telah mengoperasikan lebih dari 6.000 unit kendaraan listrik, lebih dari 370 lokasi battery swapping station, lebih dari 19.000 kali penukaran baterai per hari, serta pengurangan emisi karbon lebih dari 3.200 ton CO2.
Melalui inovasi dan investasi berkelanjutan, TBS Energy terus berperan dalam menciptakan masa depan transportasi yang lebih bersih, efisien, dan rendah emisi bagi Indonesia.