KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menata fondasi transisi portofolio menuju sektor hijau dan berkelanjutan. Upaya ini melalui tiga pilar utama bisnis hijau, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan dan electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik.
SVP Corporate Strategy & Investor Relations TOBA, Nafi Sentausa menjelaskan, dalam pengembangan segmen pengelolaan limbah, perseroan kini memiliki tiga anak usaha, yaitu Cora Environment, Asia Medical Enviro Services, dan Arah Environmental. Ketiga entitas ini dibangun menjadi platform pengelolaan limbah terintegrasi.
Di semester I-2025, Cora Environment telah mengelola 480.000 ton sampah dan melayani sekitar 470.000 pelanggan di Singapura. Lalu, Asia Medical Enviro Services mengelola sekitar 2.300 ton limbah medis dengan pangsa pasar 50%.
Lalu Arah Environmental mengumpulkan sekitar 10.000 ton limbah per Juni 2025. Jadi segmen pengelolaan limbah mencatatkan pendapatan US$ 59,6 juta dengan EBITDA US$ 10 juta, serta margin 17%.
Mirza menambahkan, di lini energi terbarukan, hingga semester pertama tahun ini TOBA telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga mini hidro berkapasitas 6 megawatt.
Tak hanya itu, emiten energi ini juga tengah membangun proyek PLTS terapung di Batam berkapasitas sekitar 46 megawatt peak.
Target pendapatan
“Dua proyek ini telah mengantongi kontrak power purchase agreement (PPA) dengan PLN berjangka waktu 25 tahun,” ucap Mirza dalam paparan publik, Jumat (12/9).
Managing Director Investor Relations, Gita Sjahrir menimpali, untuk segmen ekosistem EV, pihaknya memburu potensi bisnis hingga US$ 7 miliar per tahun melalui penjualan motor listrik serta pengelolaan infrastruktur baterai lewat Electrum, perusahaan hasil kerja sama dengan PT Goto Gojek Tokopedia Tbk.
Sejak awal tahun 2024, bisnis EV tumbuh hingga 90%. Dengan berbagai strategi, TOBA menargetkan pendapatan di sepanjang 2025 melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan semester I-2025 sebesar US$ 172,2 juta.
Tapi, untuk bottom line, TOBA mengestimasi kerugian. Ini dipicu adanya kerugian divestasi non kas dua anak usaha pembangkit listrik tenaga uap sebesar US$ 96 juta.
Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey menilai, proyek energi terbarukan TOBA memiliki potensi investasi sekitar US$ 200 miliar. Ini didukung pembiayaan Danatara melalui penerbitan Patriot Bond senilai Rp 50 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditiya Wicaksana melihat, saham TOBA masih uptrend. Dia merekomendasikan trading buy TOBA. Target harga Rp 1.350–Rp 1.395 per saham.
