jpnn.com, JAKARTA - PT. TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mengambil langkah transformatif dengan meluncurkan Rencana Transisi Iklim (Climate Transition Plan).

RTI oleh TOBA menargetkan pencapaian netralitas karbon pada 2030, jauh lebih cepat dari target nasional Net Zero 2060.

Langkah ambisius itu didasari komitmen untuk membentuk kembali portofolio bisnis perusahaan agar selaras dengan agenda dekarbonisasi global dan menciptakan nilai jangka panjang berkelanjutan.

Sebagai pilar utama dari rencana tersebut, TBS berkomitmen mendivestasi aset batu bara secara bertanggung jawab.

Upaya perusahaan meliputi investasi kembali secara strategis ke sektor rendah karbon dan menerapkan dekarbonisasi operasional di seluruh lini bisnis. 

Pada 2024, TBS telah mengambil langkah signifikan dengan mendivestasi anak perusahaan pembangkit listrik tenaga batu bara, yang diperkirakan akan mengurangi total emisi perusahaan hingga sekitar 85%. 

Langkah itu juga secara drastis menurunkan paparan perusahaan terhadap risiko penetapan harga karbon dan potensi aset terlantar (stranded asset) di masa depan.

SVP Sustainability TBS, Triana Krisandini, menegaskan rencana ini sebagai bagian dari bukti nyata komitmen perusahaan. 

“Climate Transition Plan TBS merupakan komitmen nyata dan panduan strategis menuju dekarbonisasi yang kredibel, dengan fokus pada penghentian bisnis batu bara, reinvestasi ke pertumbuhan rendah karbon, dan efisiensi operasional menuju target netral karbon 2030,” kata Triana di Jakarta Selatan, baru-baru ini.

TBS telah menyatakan niatnya untuk menghentikan operasi penambangan batu bara secara bertahap pada 2027.

Transformasi didorong kebutuhan mendesak untuk beradaptasi dengan lanskap global yang berubah cepat.

Mengingat sektor berbasis fosil menghadapi tekanan dari risiko iklim, regulasi, dan pergeseran ekspektasi investor.

Fokus pertumbuhan perusahaan kini dialihkan pada tiga pilar utama, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, yang diyakini menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat. 

Guna mendukung ambisi tersebut, TBS berencana menginvestasikan hingga US600 juta pada bisnisr endah karbon hingga 2030.

“Didukung oleh investasi senilai USD600 juta dan kolaborasi dengan DBS Bank, rencana ini menegaskan keberlanjutan bukan pelengkap bisnis TBS—melainkan inti dari strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan,” imbuh Triana.

Di sektor energi terbarukan, anak usaha PT Energi Baru TBS sedang mengembangkan portofolio proyek energi surya, air, angin, dan biomassa, dengan beberapa proyek utama ditargetkan beroperasi pada 2025. 

Salah satunya, yakni PLTS terapung 46 MWp di Batam, hasil kemitraan dengan PT. PLN Nusantara Power. 

Pada sektor kendaraan listrik, anak usaha TBS, Electrum telah mengoperasikan 4.161 motor listrik dan 269 stasiun penukaran baterai (BSS) di Jakarta. 

Sementara itu, di pilar pengelolaan limbah, TBS telah melakukan akuisisi strategis di Indonesia dan Singapura, untuk membangun platform komprehensif, mencakup limbah medis, industri, dan perkotaan.

SVP Sustainability DBS Bank Indonesia, Agnes Theresa, menyoroti pentingnya kredibilitas dalam setiap rencana transisi.

Dia menjelaskan kredibilitas transisi ditentukan target yang terukur, realokasi modal, serta tata kelola dan transparansi yang kuat.

Agnes menambahkan dukungan finansial dan keahlian dari mitra perbankan sangat penting untuk memperkuat kepercayaan investor. 

“Dukungan DBS membantu TBS memperkuat akses ke pembiayaan berkelanjutan dan kepercayaan investor,” kata Agnes. 

“Melalui kolaborasi dan instrumen pembiayaan transisi seperti blended finance Electrum, TBS menunjukkan bagaimana ambisi dekarbonisasi dapat diwujudkan dengan cara yang nyata dan kredibel,” imbuhnya menjelaskan.