tbs

Sejumlah emiten pertambangan batubara di Indonesia dilaporkan kian gencar melakukan diversifikasi bisnis ke sektor energi baru terbarukan (EBT) dan energi bersih. Langkah taktis ini diambil guna memitigasi risiko bisnis jangka panjang akibat transisi energi global, regulasi lingkungan yang ketat, serta keterbatasan pendanaan sektor fosil. Dilansir dari Investasi, PT Indika Energy Tbk (INDY) tengah dikabarkan membahas opsi divestasi kepemilikan saham di PT Kideco Jaya Agung, meskipun pembahasan masih berjalan dan belum ada keputusan final.

INDY menjadi salah satu emiten yang aktif membangun ekosistem kendaraan listrik, mulai dari motor listrik ALVA, armada komersial Kalista, hingga distributor bus dan truk listrik INVI.

Selain sektor hijau, INDY juga tengah menggarap Proyek Tambang Emas Awak Mas yang dijadwalkan beroperasi secara komersial pada awal 2027. Langkah serupa dilakukan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang berekspansi ke tiga proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Cipanas, Cisolok, dan Nage berkapasitas total 140 MW untuk target operasional 2029.

DSSA juga mendirikan pabrik panel surya terintegrasi dengan kapasitas mencapai 1 hingga 2 gigawatt peak (GWp) per tahun di wilayah Jawa Tengah. Sementara itu, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) membangun pembangkit listrik tenaga air serta surya, sekaligus melakukan pemisahan (spin-off) bisnis batubara termal melalui PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).

Adapun PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) telah menjual aset PLTU miliknya pada 2025 demi fokus pada pengelolaan limbah, motor listrik Electrum, dan pengoperasian PLTMH berkapasitas 6 MW di Lampung. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa langkah diversifikasi ini bukan disebabkan batubara kehilangan daya tarik karena komoditas tersebut masih menghasilkan arus kas melimpah.

"Industri ini memasuki fase mature, sehingga perusahaan mulai memanfaatkan cash flow dari batubara untuk membangun mesin pertumbuhan baru," ujar Nafan pada Kamis (16/7/2026).

Nafan menambahkan bahwa emiten sebaiknya membangun portofolio EBT yang bervariasi serta aktif mencari green financing, sustainability-linked loan, maupun mitra strategis.

Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menilai aksi ini penting agar emiten tetap dipercaya oleh lembaga keuangan internasional.

"Aset-aset pertambangan tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi emiten batubara di tengah agenda diversifikasi," kata Kiswoyo pada Kamis (16/7/2026).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia Abida Massi Armand menyebutkan keuntungan diversifikasi ini meliputi pengurangan risiko regulasi, akses investor ESG global, serta kestabilan pendapatan kontrak jangka panjang.

Namun, tantangannya adalah investasi awal EBT membutuhkan biaya tinggi, sensitif terhadap rupiah, dan memiliki proses kontribusi pendapatan yang cukup lama.

"Selain itu, divestasi aset batubara terlalu dini sebelum EBT siap berkontribusi berisiko menciptakan funding gap yang signifikan," ucap Abida pada Kamis (16/7/2026).

Dari kacamata pasar modal, Kiswoyo merekomendasikan saham INDY dengan target harga Rp 3.600 hingga Rp 4.000, DSSA pada level Rp 2.500 hingga Rp 3.000, dan ADRO di kisaran Rp 3.000 per saham.

Source : https://www.readers.id/emiten-batubara-ekspansi-energi-hijau-mitigasi-risiko