
Sembilan konstituen tersebut kemudian digantikan oleh BFIN, BIPI, BNBR, COIN, EMAS, GGRM, LSIP, MINA, dan RMKE.
Periode efektif konstituen indeks ini dimulai pada 3 Agustus 2026 hingga 29 Januari 2027. Sementara itu, periode efektif jumlah saham yang digunakan dalam penghitungan indeks berlangsung mulai 3 Agustus 2026 hingga 30 Oktober 2026.
Dengan demikian, berikut daftar saham penghuni Indeks Kompas100 setelah penyesuaian:
AADI, ACES, ADMR, ADRO, AKRA, AMMN, AMRT, ANTM, ARCI, ARTO, ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BBTN, BBYB, BFIN, BIPI, BKSL, BMRI, BNBR, BRIS, BRMS, BSDE, BUKA, BULL, BUMI, BUVA, CBDK, CMRY, COIN, CPIN, CTRA, CUAN, DEWA, DSNG, ELSA, EMAS, EMTK, ENRG, ERAA, ESSA, EXCL, GGRM, GOTO, HEAL, HRTA, HRUM, ICBP, IMPC, INCO, INDF, INDY, INET, INKP, ISAT, ITMG, JPFA, JSMR, KIJA, KLBF, KPIG, LSIP, MAPA, MAPI, MBMA, MDKA, MEDC, MIKA, MINA, MYOR, NCKL, PANI, PGAS, PGEO, PNLF, PSAB, PTBA, PTRO, PWON, RAJA, RATU, RMKE, SCMA, SGER, SMGR, SMIL, SMRA, SSIA, TAPG, TINS, TLKM, TOBA, TOWR, TPIA, UNTR, UNVR, WIFI, dan WIRG.
Menanggapi perubahan tersebut, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy, menilai terdapat beberapa saham pendatang baru yang cukup menarik di Indeks Kompas100, antara lain BFIN, EMAS, dan RMKE.
BFIN dinilai memiliki fundamental yang relatif matang dan likuiditas yang baik. Sementara itu, RMKE diuntungkan oleh bisnis logistik dan batubara yang masih cukup resilien. Adapun EMAS dinilai menarik karena mewakili sektor pertambangan emas yang tengah mendapat perhatian investor.
Sebaliknya, saham seperti COIN, BNBR, dan BIPI dinilai masih memerlukan pembuktian lebih lanjut dari sisi fundamental dan konsistensi kinerja.
Di sisi lain, saham-saham yang keluar dari Indeks Kompas100 seperti HMSP, INTP, SIDO, dan BTPS berpotensi terdampak secara teknikal karena sebagian investor, termasuk fund manager, dapat melakukan penyesuaian portofolio.
Menurut Budi, dalam jangka menengah, pergerakan harga saham tetap akan lebih banyak ditentukan oleh fundamental dan prospek bisnis dibandingkan statusnya sebagai anggota Indeks Kompas100.
Sementara itu, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai EMAS menjadi salah satu konstituen pendatang baru yang paling menonjol karena menjadi satu-satunya emiten yang telah dual listing di Bursa Efek Hong Kong (HKEX) dan diakui pasar global.
Selain itu, terdapat LSIP yang dinilai sebagai proxy terhadap katalis kebijakan B50, BFIN sebagai pilihan saham defensif di sektor layanan keuangan, BIPI yang relevan dengan sentimen tingginya harga energi, serta BNBR yang cenderung lebih spekulatif karena keikutsertaannya dinilai lebih dipengaruhi oleh minat investor ritel dibandingkan fundamental.
Wafi menilai rebalancing Indeks Kompas100 memang diperlukan, tetapi bukan merupakan jaminan bahwa kinerja indeks akan pulih secara signifikan.
Hingga Senin, 27 Juli 2026, Indeks Kompas100 telah terkoreksi 33,05% secara year to date (ytd) ke level 806,84. Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 29,29% ytd.
Menurut Wafi, rebalancing dilakukan untuk memperbaiki kualitas komposisi indeks, bukan sebagai pemicu rally.
Indeks Kompas100 dinilai dapat pulih apabila MSCI mempertahankan status emerging market Indonesia pada tinjauan November 2026, aliran dana investor asing berlangsung konsisten, serta nilai tukar rupiah stabil di bawah Rp17.500 per dolar AS.
Lebih lanjut, Wafi memperkirakan sektor perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI masih akan menjadi tulang punggung Indeks Kompas100 hingga akhir tahun.
Selain itu, sektor komoditas dengan harga yang sedang meningkat seperti EMAS, LSIP, dan BIPI juga berpotensi menopang kinerja indeks. Saham-saham konsumer yang bersifat defensif turut dinilai dapat membantu kinerja indeks.
Saham pilihan utama Wafi di Indeks Kompas100 antara lain BBCA, BMRI, ADRO, dan PTBA. Selain itu, LSIP, EMAS, dan BFIN juga dinilai layak dicermati investor. Sementara itu, BNBR lebih disarankan untuk speculative trade dengan penerapan stop loss yang ketat.
Di sisi lain, Budi tidak menyarankan investor membeli saham hanya karena saham tersebut baru masuk ke dalam Indeks Kompas100.
Menurutnya, saham yang masuk indeks memang dapat mengalami peningkatan likuiditas dan menjadi lebih menarik bagi dana pasif. Namun, efek tersebut umumnya bersifat sementara.
Dari sejumlah saham pendatang baru di Indeks Kompas100, Budi relatif lebih menyukai BFIN dan RMKE karena dinilai memiliki fundamental yang lebih jelas. Untuk saham yang cenderung volatil seperti COIN, BIPI, dan BNBR, investor disarankan lebih berhati-hati hingga terdapat bukti perbaikan kinerja yang berkelanjutan.
Budi juga tidak memberikan target harga spesifik karena kondisi pasar masih sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor global.
Fokus utama investor sebaiknya tetap pada valuasi, pertumbuhan laba, kualitas tata kelola, dan prospek bisnis, bukan semata-mata perubahan status keanggotaan dalam indeks.