tbs

Bisnis berkelanjutan kini menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal.

Tidak hanya soal keuntungan, investor juga melihat bagaimana perusahaan mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola agar mampu bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang.

Perubahan ini terlihat semakin kuat di Indonesia dan Asia. Investor mulai memahami bahwa laporan keuangan saja tidak cukup untuk menilai kesehatan perusahaan.

Risiko seperti konflik sosial, pelanggaran lingkungan, hingga tata kelola yang buruk bisa langsung memengaruhi reputasi dan valuasi perusahaan dalam waktu singkat.

Investor Kini Tidak Hanya Melihat Profit

Dulu, investor cenderung fokus pada laba, arus kas, dan pertumbuhan bisnis. Namun, sekarang ini banyak investor mulai memperhatikan aspek ESG (Environmental, Social, Governance) sebelum mengambil keputusan investasi.

Perubahan ini terjadi karena lanskap risiko bisnis ikut berubah. Banyak risiko besar yang tidak selalu terlihat di laporan keuangan, seperti:

  • Sanksi regulator
  • Masalah rantai pasok
  • Konflik dengan masyarakat
  • Skandal tata kelola
  • Penolakan konsumen terhadap produk perusahaan

Ketika masalah tersebut muncul, harga saham dapat turun dengan cepat bahkan sebelum perusahaan sempat memperbaiki kondisi. Karena itu, ESG menjadi alat penting bagi investor untuk membaca risiko yang sebelumnya sulit terlihat, seperti:

  • Aspek lingkungan untuk membantu menilai kesiapan perusahaan menghadapi transisi energi dan regulasi emisi.
  • Aspek sosial yang membantu melihat hubungan perusahaan dengan pekerja, masyarakat, dan konsumen.
  • Tata kelola sebagai indikator penting untuk menilai integritas perusahaan.

Bagi investor, ESG bukan sekadar citra “ramah lingkungan”, tetapi bagian dari strategi pengelolaan risiko jangka panjang.

Mengapa ESG Bisa Meningkatkan Nilai Perusahaan?

Banyak investor percaya bahwa perusahaan dengan strategi ESG yang baik memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang. Ada beberapa alasan mengapa ESG dianggap mampu meningkatkan nilai perusahaan:

  • Mengurangi Risiko Bisnis. Perusahaan yang memperhatikan dampak lingkungan dan sosial biasanya lebih siap menghadapi perubahan regulasi dan tekanan pasar.
  • Memperkuat Reputasi. Di era digital, reputasi perusahaan dapat berubah sangat cepat. Perusahaan yang memiliki hubungan baik dengan masyarakat dan konsumen cenderung lebih dipercaya pasar.
  • Menarik Investor Jangka Panjang. Investor institusi kini semakin aktif mencari perusahaan dengan tata kelola yang baik dan strategi keberlanjutan yang jelas.
  • Membuka Peluang Bisnis Baru. Transisi menuju ekonomi hijau menciptakan peluang besar di sektor energi bersih, kendaraan listrik, dan teknologi ramah lingkungan.

Generasi Muda Mendorong Tren Investasi Berkelanjutan

Minat terhadap bisnis berkelanjutan juga dipengaruhi oleh perubahan perilaku generasi muda saat ini.

Berdasarkan laporan Sustainable Signals: Individual Investors 2025 dari Morgan Stanley, mayoritas investor global kini tertarik pada investasi berkelanjutan, terutama Gen Z dan milenial.

Investor muda percaya bahwa keuntungan finansial dapat berjalan beriringan dengan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Mereka cenderung memilih perusahaan yang memiliki arah bisnis jelas, transparan, dan bertanggung jawab.

Hal ini membuat perusahaan mulai menyadari bahwa sustainability bukan lagi sekadar program tambahan untuk membangun citra. Kini, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam menjaga daya tarik perusahaan di mata investor.

Transparansi Menjadi Penentu Kepercayaan Investor

Meski minat terhadap ESG meningkat, investor masih memiliki kekhawatiran terhadap kualitas data dan praktik greenwashing.

Greenwashing terjadi ketika perusahaan terlihat mendukung keberlanjutan, tetapi tidak memiliki tindakan nyata yang signifikan. Karena itu, investor kini lebih percaya pada perusahaan yang:

  • Memiliki target keberlanjutan yang jelas
  • Menyampaikan laporan ESG secara rutin
  • Menampilkan data yang terukur
  • Menggunakan verifikasi independen

Perusahaan yang transparan biasanya lebih mudah mendapatkan kepercayaan investor dibanding perusahaan yang hanya menggunakan slogan keberlanjutan tanpa bukti konkret.

Di Indonesia, tantangan ini masih cukup besar karena standar pelaporan ESG belum sepenuhnya seragam. Investor perlu lebih teliti dalam membandingkan perusahaan antar sektor maupun antar negara.

Energi Terbarukan Jadi Sorotan Investor

Salah satu sektor yang paling menarik perhatian investor adalah energi terbarukan. Banyak investor melihat transisi energi sebagai peluang pertumbuhan jangka panjang.

Saat ini, perusahaan energi tidak lagi hanya dinilai dari kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dari kesiapan menghadapi transisi menuju energi bersih.

Investor mulai memperhatikan apakah perusahaan memiliki target pengurangan emisi dan rencana dekarbonisasi yang jelas.

Hal ini penting karena tekanan global terhadap pengurangan emisi karbon terus meningkat. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko kehilangan minat investor dan menghadapi tantangan regulasi di masa depan.

Di Indonesia sendiri, potensi energi bersih masih sangat besar, mulai dari tenaga air, tenaga surya, hingga tenaga angin. Kondisi ini membuka peluang besar bagi perusahaan yang ingin mengembangkan bisnis berkelanjutan di sektor energi.

TBS Menunjukkan Langkah Nyata Bisnis Berkelanjutan

Di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap ESG, TBS menunjukkan komitmen nyata dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Melalui anak usahanya, PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS terus memperluas portofolio energi bersih melalui berbagai proyek strategis.

Pada 2020, TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 2x3 MW di Lampung.

Proyek ini berhasil mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dan kini berkontribusi menyediakan energi bersih sebesar 6 MW untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan.

Selain menghasilkan energi stabil dan berkelanjutan, proyek ini juga mendukung pembangunan infrastruktur dan akses listrik bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, TBS juga mengembangkan proyek Floating Solar PV berkapasitas 46 MWp di Tembesi, Batam.

Beberapa pencapaian proyek ini meliputi Financial Closing selesai pada 2024, yang ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2026 dan terhubung dengan jaringan listrik nasional

Proyek ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon, menciptakan lapangan kerja hijau, serta mendukung pengembangan teknologi energi bersih di Indonesia.

Langkah TBS menunjukkan bahwa bisnis berkelanjutan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang menciptakan pertumbuhan bisnis jangka panjang yang lebih stabil dan menarik bagi investor.

Di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap ESG, perusahaan yang mampu menghadirkan aksi nyata seperti TBS berpotensi memiliki daya tarik lebih kuat di mata investor sekaligus mendukung transisi energi Indonesia.