
Energi terbarukan menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mendukung ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi.
Hal ini dikarenakan hampir seluruh aktivitas manusia membutuhkan energi, mulai dari bekerja, memasak, menjalankan transportasi, hingga mengoperasikan industri.
Namun, kebutuhan tersebut masih banyak dipenuhi oleh sumber energi tak terbarukan, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terbentuk dan menghasilkan emisi gas rumah kaca ketika digunakan.
Karena itu, peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih semakin mendesak.
Di Asia, termasuk Indonesia, pengembangan energi terbarukan tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan energi.
Apa Itu Energi Terbarukan?
Energi terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui lebih cepat daripada tingkat penggunaannya.
Matahari dan angin, misalnya, tersedia secara terus-menerus sehingga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi dalam jangka panjang.
Berbeda dengan bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar saat dibakar, sebagian besar sumber energi terbarukan ketika beroperasi menghasilkan emisi yang sangat rendah atau bahkan tidak menghasilkan emisi langsung.
Perkembangan teknologi juga membuat energi terbarukan semakin kompetitif. Biaya pembangkit energi bersih terus menurun dan sektor ini menciptakan peluang kerja baru, mulai dari manufaktur, instalasi, pemeliharaan, hingga penelitian dan pengembangan.
Baca Juga: Mengapa Transisi Energi Indonesia Tidak Bisa Ditunda dan Apa Saja Tantangannya?
Jenis-Jenis Energi Terbarukan
Ada berbagai jenis energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi, baik dalam skala rumah tangga maupun industri.
Setiap sumber memiliki karakteristik, cara kerja, serta potensi yang berbeda, sehingga pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan suatu wilayah.
1. Energi Air
Pembangkit listrik tenaga air memanfaatkan aliran sungai, bendungan, waduk, maupun tenaga pasang surut untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Pembangkit listrik tenaga mini hidro juga dapat dikembangkan dalam skala yang lebih kecil.
Energi air memiliki keunggulan berupa pasokan listrik yang relatif stabil sehingga dapat melengkapi sumber energi seperti surya dan angin yang produksinya bergantung pada kondisi alam.
2. Energi Surya
Energi surya memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan listrik. Teknologi yang paling umum digunakan adalah solar photovoltaic (PV), yaitu panel surya yang mengubah sinar matahari menjadi energi listrik.
Selain itu, terdapat teknologi concentrating solar-thermal power (CSP) yang menggunakan cermin untuk memusatkan sinar matahari dan menghasilkan panas untuk memproduksi listrik.
Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan tenaga surya karena berada di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari yang melimpah.
3. Energi Angin
Energi angin memanfaatkan energi kinetik dari pergerakan angin untuk menggerakkan turbin. Teknologi ini dapat digunakan dalam skala kecil maupun pembangkit listrik tenaga angin berskala besar.
Potensi angin di sejumlah wilayah Asia, termasuk Indonesia, dapat menjadi bagian dari diversifikasi sumber energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
4. Energi Panas Bumi
Energi panas bumi berasal dari panas di dalam bumi. Uap atau panas dari reservoir panas bumi dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik.
Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki potensi panas bumi besar karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Pengembangannya dapat membantu menyediakan sumber listrik yang lebih stabil sekaligus rendah emisi.
5. Biomassa
Biomassa menggunakan material organik dan produk sampingnya untuk menghasilkan listrik, panas, maupun bahan bakar seperti biodiesel dan etanol. Sumbernya dapat berasal dari limbah pertanian, kehutanan, dan material organik lainnya.
Namun, pemanfaatan biomassa tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan karena pengelolaan yang tidak tepat dapat menimbulkan emisi dan mendorong perubahan penggunaan lahan.
Manfaat Energi Terbarukan
Penggunaan energi terbarukan tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, tetapi juga memberikan berbagai manfaat bagi lingkungan, ekonomi, dan masyarakat.
Oleh karena itu, pengembangan energi bersih menjadi semakin penting di tengah kebutuhan untuk membangun sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Manfaat bagi Lingkungan
Penggunaan energi terbarukan dapat membantu menurunkan emisi gas rumah kaca karena sebagian besar sumbernya tidak menghasilkan emisi langsung saat menghasilkan listrik.
Peralihan dari batu bara, minyak, dan gas juga membantu mengurangi polusi udara, air, dan tanah serta menjaga sumber daya alam yang jumlahnya terbatas.
Manfaat Ekonomi dan Sosial
Energi terbarukan juga memberikan manfaat di luar aspek lingkungan. Pertumbuhan sektor ini dapat menciptakan lapangan kerja dalam bidang instalasi, pemeliharaan, manufaktur, penelitian, dan pengembangan teknologi.
Diversifikasi sumber energi turut memperkuat ketahanan energi suatu negara dan mengurangi risiko akibat fluktuasi harga bahan bakar fosil.
Di wilayah pedesaan, proyek energi surya, angin, air, dan biomassa juga berpotensi mendorong pembangunan infrastruktur serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Peran Investasi Energi Terbarukan di Indonesia dan Asia Tenggara
Pengembangan energi terbarukan membutuhkan investasi yang besar dan perencanaan jangka panjang.
Fabby Tumiwa, CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), menekankan pentingnya investasi yang cerdas dan terencana, termasuk membangun industri energi terbarukan di dalam negeri agar Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi dari luar.
Pengalaman negara Asia lain juga menunjukkan pentingnya kebijakan pendukung. Vietnam, misalnya, berhasil meningkatkan kapasitas energi surya secara cepat melalui insentif dan kemudahan akses ke jaringan listrik.
Pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pengembangan energi bersih.
Transisi energi juga perlu memperhatikan dampak sosial dan ekonomi, terutama bagi sektor yang selama ini bergantung pada bahan bakar fosil. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang matang agar perubahan menuju energi bersih tidak menimbulkan gejolak ekonomi.
Baca Juga: Ekonomi Regeneratif dan Masa Depan Ekonomi Hijau Indonesia
Perluasan Proyek Energi Terbarukan TBS
Komitmen terhadap energi bersih juga diwujudkan TBS melalui pengembangan berbagai proyek energi terbarukan.
Pada 2020, melalui PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang PLTM Sumberjaya 2 x 3 MW di Lampung.
Proyek tersebut mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dan menyumbang 6 MW energi bersih bagi wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Pada tahun yang sama, TBAE juga mengakuisisi PT Bayu Alam Sejahtera (BAS), yang menjajaki potensi tenaga angin di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengembangan energi air dan eksplorasi tenaga angin tersebut memperkuat diversifikasi portofolio energi bersih TBS.
Selain itu, TBS mengembangkan PLTS Terapung Tembesi di Batam. Proyek ini memiliki kapasitas 46 MWp dan saat ini sedang dibangun.
Financial closing telah tercapai pada 2024, sedangkan operasi komersial penuh dan koneksi ke jaringan listrik nasional ditargetkan pada 2026.
PLTS Terapung Tembesi diharapkan memberikan manfaat berupa pengurangan emisi karbon, peningkatan kualitas udara, penciptaan lapangan kerja hijau, serta mendorong transfer teknologi dan kolaborasi dengan masyarakat setempat.
Bersama PLTM Lampung yang telah mencapai COD, proyek ini menjadi bagian dari langkah TBS dalam memperluas portofolio pembangkit energi bersih.
Jadi, melalui pengembangan PLTM 6 MW di Lampung yang telah beroperasi serta PLTS Terapung Tembesi 46 MWp yang sedang dibangun, TBS membuktikan diri turut mengambil bagian dalam perjalanan transisi energi Indonesia.