tbs

Transisi energi menjadi langkah penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, memperkuat ketahanan energi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Melalui pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi, digitalisasi, serta pengembangan teknologi baru, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencapai target pembangunan rendah karbon sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan sosial yang luas.

Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi.

Namun, ketergantungan pada bahan bakar fosil masih menjadi tantangan karena sektor energi menyumbang sebagian besar emisi gas rumah kaca global yang mempercepat perubahan iklim.

Oleh karena itu, berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai mempercepat peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Apa Itu Transisi Energi?

Transisi energi adalah proses perubahan sistem energi dari yang sebelumnya bergantung pada bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Sumber energi tersebut meliputi tenaga air, tenaga surya, tenaga angin, panas bumi, serta teknologi pendukung seperti penyimpanan energi dan elektrifikasi.

Perubahan ini bukan sekadar mengganti sumber energi, tetapi juga mencakup transformasi teknologi, infrastruktur, hingga pola konsumsi energi masyarakat.

Tujuan utamanya adalah mengurangi emisi karbon sekaligus memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi secara aman dan terjangkau.

Dorongan untuk mempercepat transisi energi semakin kuat setelah berbagai laporan ilmiah menunjukkan bahwa suhu bumi terus meningkat akibat emisi gas rumah kaca.

Komitmen global melalui Perjanjian Paris dan berbagai forum internasional juga menargetkan tercapainya netralitas karbon atau net zero emission pada pertengahan abad ini.

Baca Juga: Dekarbonisasi adalah Strategi Transisi dari Energi Fosil ke Energi Bersih, Ini Penjelasannya

Mengapa Transisi Energi Penting bagi Indonesia?

Sebagai negara berkembang dengan kebutuhan energi yang terus bertambah, Indonesia menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Transisi energi menjadi solusi untuk menjawab kedua kebutuhan tersebut. Berikut beberapa alasan mengapa transisi energi sangat penting bagi Indonesia.

1. Mengurangi Emisi dan Dampak Perubahan Iklim

Penggunaan energi terbarukan dapat membantu menekan emisi karbon yang berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Dengan berkurangnya emisi, risiko bencana akibat perubahan iklim seperti banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem dapat diminimalkan.

Selain itu, penggunaan energi bersih juga berkontribusi pada peningkatan kualitas udara yang berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat, terutama di wilayah perkotaan yang padat penduduk.

2. Meningkatkan Ketahanan dan Kemandirian Energi

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, tenaga air, panas bumi, hingga angin. Pemanfaatan sumber daya lokal ini dapat mengurangi ketergantungan pada energi impor sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional.

Diversifikasi sumber energi juga membuat sistem kelistrikan lebih tangguh terhadap fluktuasi harga bahan bakar fosil dan dinamika geopolitik global.

3. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Lapangan Kerja

Pengembangan sektor energi terbarukan membuka peluang investasi baru serta menciptakan lapangan kerja di berbagai bidang, mulai dari konstruksi, operasional pembangkit, hingga pengembangan teknologi.

Pertumbuhan ekonomi hijau ini juga dapat mendorong munculnya industri baru yang lebih berkelanjutan. Selain itu, transisi energi mendukung pengembangan ekonomi sirkular dan inovasi teknologi yang dapat meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Teknologi Pendukung dalam Transisi Energi

Keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada sumber energi terbarukan, tetapi juga pada teknologi pendukung yang memastikan pasokan energi tetap stabil dan efisien, yaitu sebagai berikut.

1. Sistem Penyimpanan Energi

Salah satu tantangan energi terbarukan adalah sifatnya yang bergantung pada kondisi alam.

Energi surya, misalnya, hanya dapat menghasilkan listrik saat ada sinar matahari. Oleh karena itu, teknologi penyimpanan energi seperti baterai menjadi solusi penting untuk menyimpan listrik dan menggunakannya saat dibutuhkan.

2. Elektrifikasi dan Kendaraan Listrik

Elektrifikasi merupakan proses menggantikan penggunaan energi berbasis bahan bakar fosil dengan listrik. Contohnya adalah penggunaan kompor induksi, pompa panas, hingga kendaraan listrik.

Kendaraan listrik tidak hanya membantu mengurangi emisi, tetapi juga dapat mendukung sistem energi melalui teknologi vehicle-to-grid (V2G), yang memungkinkan baterai kendaraan menyimpan dan menyalurkan energi kembali ke jaringan listrik.

3. Digitalisasi dan Manajemen Energi

Teknologi digital seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan jaringan listrik pintar (smart grid) membantu memantau penggunaan energi secara real-time.

Teknologi ini memungkinkan distribusi energi yang lebih efisien dan mendukung integrasi energi terbarukan dalam skala besar.

4. Pengembangan Hidrogen Hijau dan Teknologi Rendah Karbon

Selain energi surya, angin, dan hidro, pengembangan hidrogen hijau dipandang sebagai salah satu peluang besar dalam mendukung dekarbonisasi sektor industri dan transportasi.

Teknologi penangkapan karbon (carbon capture) juga dapat membantu mengurangi emisi dari sektor yang masih menggunakan bahan bakar fosil selama masa transisi berlangsung.

Baca Juga: Diversifikasi Energi: Pentingnya Energi Terbarukan untuk Masa Depan Indonesia

Peran TBS dalam Mendukung Transisi Energi di Indonesia

Sebagai perusahaan yang berkomitmen mendukung pembangunan berkelanjutan, TBS Energi Utama terus memperluas portofolio energi terbarukan melalui berbagai proyek strategis di Indonesia.

Di 2020, melalui anak usaha PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS memperkuat bisnis energi terbarukan dengan mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH) dan PT Bayu Alam Sejahtera (BAS).

Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendukung transisi energi nasional.

Selain itu, salah satu pencapaian penting TBS lainnya adalah keberhasilan PLTM AEH di Sumberjaya, Lampung, yang memiliki kapasitas 2 x 3 MW atau total 6 MW.

Proyek ini resmi mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dan kini berkontribusi memasok energi bersih ke sistem kelistrikan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).

Selain menghasilkan listrik ramah lingkungan, proyek ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pengembangan infrastruktur, peningkatan akses energi, dan dukungan terhadap konservasi lingkungan.

Di sektor energi surya, TBS juga mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Tembesi di Batam. Proyek ini telah mencapai tahap financial closing pada tahun 2024 dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2026.

Ketika beroperasi penuh, PLTS terapung ini akan terhubung dengan jaringan listrik nasional dan membantu mengurangi emisi karbon sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau baru.

Selain proyek Tembesi, TBS juga tengah mengembangkan PLTS Terapung berkapasitas 46 MWp di Batam serta terus mengeksplorasi potensi energi angin melalui PT Bayu Alam Sejahtera di Nusa Tenggara Timur.

Melalui pengembangan PLTM 6 MW di Lampung, PLTS Terapung Tembesi di Batam, PLTS Terapung 46 MWp di Batam, serta eksplorasi energi angin di NTT, TBS Energyy menunjukkan komitmennya dalam mempercepat transisi energi di Indonesia.

Upaya ini tidak hanya mendukung target pengurangan emisi dan pembangunan energi bersih nasional, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.