tbs

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan dan perubahan iklim, Environmental, Social, and Governance atau ESG menjadi salah satu pendekatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan pengaruh positif bagi lingkungan dan masyarakat. Sejalan dengan transisi model bisnis yang kini sedang dijalani oleh TBS Energi Utama untuk menjadi perusahaan energi baru terbarukan, TBS bertekad untuk membangun praktik ESG yang baik dan mampu menghasilkan dampak positif melalui tindakan efektif dan aksi yang nyata.

Setelah peluncuran target Towards a Better Society 2030 (TBS2030), kami memulai strategi ESG dengan membentuk ESG Board Committee yang bertindak sebagai penasihat dan pengamat dalam pelaksanaan ESG. Turut bergabung dalam ESG Committee TBS Energi Utama adalah Judy Lee (JL), pakar manajemen risiko berbasis New York dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. SVP Sustainability TBS, Triana Krisandini (TK) berbincang dengan Judy mengenai peran barunya sebagai representatif independen dan pentingnya menempatkan sustainability untuk perkembangan perusahaan.

TK: Apa peran dari ESG Committee?

JL: Komitmen ESG adalah bagian tak terpisahkan dari transformasi TBS, sehingga pembentukan ESG Committee menunjukkan komitmen nyata dari TBS. Sebagai ESG Committee, kami bertugas untuk memastikan bahwa strategi yang disusun oleh manajemen sejalan dengan apa yang akan kami sarankan. Kami akan mengambil peran sebagai penasehat, pendorong, sekaligus pemimpin yang akan menuangkan pemikiran dan membantu TBS dalam membuat strategi ESG menjadi lebih kuat dan dilakukan sesuai dengan jangka waktu yang direncanakan. ESG Committee akan membuat keseimbangan, di mana kami akan mendorong agenda ESG dan pada saat yang sama memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan praktis, mampu dikerjakan, dan terukur.

TK: Apa tugas dan tanggung jawab anda sebagai bagian dari ESG Committee?

JL: Kami memegang dua peran, yaitu inward dan outward. Secara internal, kami harus bekerja sama dengan tim TBS dalam memvalidasi strategi dan memastikan efektivitas roadmap sudah ada. Sedangkan, peran outward yang kami miliki berkaitan erat dengan mengkomunikasikan informasi kepada tim. ESG adalah bidang yang bergerak dengan sangat cepat, sehingga ESG Committee juga bertanggung jawab dalam memberikan perspektif serta masukan yang didasari dari pengalaman dan pengetahuan kami yang berbeda-beda. Ada banyak pelajaran yang kami ambil dari berbagai negara dan masyarakat, dan kami ingin menjadi yang terbaik dalam setiap hal yang kami lakukan.

TK: Apa yang ingin dicapai dari peran anda sebagai independent representative?

JL: Roadmap yang dimiliki TBS dapat menghasilkan perubahan dengan dampak besar dalam waktu singkat. Maka dari itu, kita perlu memastikan bahwa TBS menuju ke arah tersebut dengan cara menjaga objektif yang dimiliki dengan membuat keputusan yang tepat, serta melakukan trade offs dan resourcing yang diperlukan. Hal lain yang ingin saya capai adalah membantu TBS menjadi contoh bagi perusahaan lain yang sedang berjuang melakukan just transition, baik itu di Indonesia maupun negara lain. Akan sangat baik jika transisi TBS dikenali, tentunya dalam waktu dan dengan komunikasi yang tepat.

TK: Menurut anda, seperti apa praktik ESG yang sukses bagi TBS?

JL: Dalam kapasitas kami sebagai penasihat independen, kami memiliki kapasitas untuk menyebutkan apapun yang terjadi. Secara general, bagi saya terdapat dua pertanyaan yang perlu kita perhatikan: “Apakah kita berjalan sesuai dengan tujuan?” dan “Apakah kita mampu mewujudkan tujuan dan sasaran kita?” Dari kedua pertanyaan tersebut, terdapat ada beberapa poin turunan yang dapat kami ukur, termasuk “apakah keputusan manajemen sesuai dengan roadmap?” dan "apakah kita mampu mencapai semua itu?" sebab meskipun kami memahami bagaimana perusahaan lain mencapai kesuksesan dalam praktik ESGnya, kami harus berjalan sesuai dengan kebutuhan yang perlu kami lakukan dalam transisi kami sendiri.

TK: Tren ESG apa saja yang marak dilakukan sekarang?

JL: Pembahasan ESG semakin dalam. Perusahaan kini melakukan tindakan berdasarkan metrik dan mulai membuat komitmen yang terjadwal. Terdapat juga tren perubahan peraturan, salah satunya adalah sejumlah perusahaan terdaftar mewajibkan ESG sebagai bagian dari perjanjian. Pasca COVID banyak perusahaan yang mulai memetakan kebutuhan secara berbeda, sehingga tumbuh kesadaran terhadap pengaruh kegiatan mereka terhadap masyarakat dan komunitas sekitar, termasuk para pekerja. Sekarang mereka jauh lebih terbuka untuk membahas ekspektasi di tahun-tahun mendatang. Saya pikir itu adalah tren besar yang harus kita lanjutkan.

TK: Bagaimana ESG Committee bekerja dengan TBS, terutama dengan departemen yang berkaitan?

JL: Sejak pertama kali bekerja sama dengan TBS, saya sangat terkesan dengan komitmen para pemimpin dan manajemen dalam menjalani transisi ini. Saya melihat bagaimana tim berperan dan memimpin seluruh proses yang perlu diterapkan dengan baik. TBS menjalankan dan mengembangkan pendekatan yang menaruh fokus pada pemangku kepentingan internal melalui seperangkat kebijakan dan target. Hasilnya, seluruh kegiatan dilakukan dengan benar, menunjukan bahwa setiap anggota yang berperan memahami dan turut berpartisipasi dalam perjalanan tersebut.

TK: Apa hal yang dapat dilakukan dalam keseharian untuk mendukung komitmen ESG TBS?

JL: Cara paling sederhana adalah memastikan bahwa kita tidak memiliki prasangka yang tidak disadari atau unconscious bias. Tentunya seluruh manusia memiliki prasangka yang dihasilkan dari pengalaman seumur hidup. Maka dari itu untuk mengatasi ini kita harus meningkatkan kesadaran diri. Mengatasi unconscious bias juga dapat dilakukan dalam level perusahaan dengan melihat data yang ada. Data dan statistik dapat membantu memastikan bahwa tidak ada bias bawaan dalam struktur perusahaan. Setelah mampu kesadaran diri terbangun, maka pola pikir dapat diubah. Saya percaya pada kuota. Misalnya, saya melihat bahwa celah antara pekerja perempuan dan laki-laki sangat jauh di setiap industri yang pernah saya geluti. Maka dari itu saya bertanya "berapa banyak wanita yang perlu kita bawa?" sehingga dari sudut pandang yang sangat praktis terbangun pemikiran "apa yang perlu kita lakukan?" mungkin dengan melatih mereka, membuat mereka merasa nyaman, dan membuat pria di sekitar mereka nyaman. Dan kemudian kami berkomitmen untuk menyelesaikan prosesnya. Itulah yang kami perjuangkan dan kami lakukan.