tbs

Liputan6.com, Jakarta Sebanyak 90 inovator muda dari 19 perusahaan terkemuka menampilkan beragam solusi berkelanjutan dalam puncak acara SDG Innovation Accelerator for Young Professionals 2025 yang diselenggarakan UN Global Compact Indonesia (IGCN) pada Kamis (31/7/2025), di Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

Acara bertajuk Awarding Ceremony and Solutions Showcase ini menjadi ajang penghargaan bagi para inovator muda yang telah melewati proses penjurian ketat, sekaligus menandai penutupan program kolaboratif antara IGCN dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, M.Sc., menekankan pentingnya acara ini sebagai pemicu lahirnya inovasi dari generasi muda.

“Kita berharap ini menjadi satu ajang yang nanti memotivasi para inovator muda yang lain untuk melaksanakan kegiatan inovasi-inovasi yang mendukung pembangunan benar-benar kita,” ujarnya.

Program ini bertujuan untuk mendorong munculnya solusi inovatif dari kalangan profesional muda, yang berorientasi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Dari seluruh peserta, enam tim terpilih sebagai inovator terbaik melalui proses penjurian yang ketat. Satu tim dengan skor tertinggi di antara mereka akan mewakili Indonesia untuk mempresentasikan inovasinya di panggung internasional UN Global Leaders Summit di New York.

Menentukan inovasi terbaik di antara banyak ide brilian bukan hal mudah bagi dewan juri, karenanya proses penjurian pun berlangsung melalui diskusi yang panjang dan mendalam. Meski begitu mereka tetap mengutamakan sejumlah kriteria penilaian yang sudah disepakati sejak awal.

Kriteria tersebut mencakup kekuatan solusi inovatif, kecepatan dampak, dan komitmen dari masing-masing tim. Bagi juri, inovasi unggul bukan sekadar menarik di atas kertas, tetapi juga telah diterapkan dan memberikan manfaat nyata di lapangan.

"Yang paling penting itu, misalnya nih ya, mereka itu yang nyata. Dari limbah dijadikan sesuatu yang bermanfaat, bahkan bisa menghasilkan uang. Itu adalah inovasi yang sangat penting, karena dulunya dibuang-buangin atau menghasilkan dampak yang jelek, tetapi bisa diproduksi menjadi sesuatu yang lebih berharga," ujar salah satu dewan juri, Laode Muhammad Syarif.

Selain aspek teknis, penilaian juga mencakup unsur non-teknis seperti kekompakan tim, keterlibatan mentor, serta konsistensi dan keseriusan dalam menjalankan program.

 "Kita ingin ini sustainable, bukan karena hanya untuk lomba aja. Attitude tim itu dan komitmen mereka untuk menjalankan dan keseriusannya itu kita nilai juga untuk melihat ini yang akan bisa membawa kita ke kancah internasional," tambah juri lainnya.