Liputan6.com, Jakarta Krisis iklim global bukan lagi isu masa depan. Dunia kini tengah berpacu menurunkan emisi karbon demi mencapai target dekarbonisasi. Di tengah urgensi tersebut, sektor perbankan memainkan peran kunci, bukan hanya sebagai penyedia pembiayaan, tapi juga sebagai katalisator perubahan. Salah satu yang mengambil langkah nyata adalah DBS Bank Ltd (Bank DBS), yang menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Lebih dari Sekadar Bank: Pendamping Transisi Energi
Bank DBS bukan sekadar lembaga keuangan. Dengan mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam strategi bisnisnya, bank asal Singapura ini hadir sebagai mitra tepercaya dalam mewujudkan transformasi energi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Salah satu kontribusi utamanya adalah pendampingan dalam penyusunan strategi transisi energi. Bank membantu perusahaan dalam mengidentifikasi langkah-langkah konkret untuk beralih dari energi fosil ke sumber energi terbarukan, dengan tetap mempertimbangkan risiko operasional, finansial, dan reputasi yang mungkin timbul selama proses transisi.
Raih Kepercayaan lewat Mandat Strategis di Indonesia
Komitmen ini dibuktikan di Indonesia lewat penunjukan Bank DBS Indonesia sebagai ESG Coordinator pertama dalam penyusunan Social Finance Framework milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) senilai Rp5 triliun.
Mandat ini bukan sekadar simbol kepercayaan, tapi juga mencerminkan kemampuan teknis dan rekam jejak DBS dalam merancang kerangka pembiayaan sosial yang kredibel dan sesuai standar global. Proses ini dikawal hingga mendapat Second Party Opinion dari S&P Global Ratings, dengan obligasi berperingkat idAAA oleh PEFINDO. Hal ini menunjukkan kualitas tinggi dan daya tarik kuat bagi investor ESG.
“Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kami sebagai mitra pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Kami percaya pembiayaan tak hanya tentang profit, tapi juga menciptakan dampak sosial nyata,” ungkap Anthonius Sehonamin, Head of Institutional Banking Group, PT Bank DBS Indonesia.
Dorong Inklusi dan Dampak Sosial Lewat Pembiayaan Inovatif
Tak hanya pada level strategis, Bank DBS juga aktif mendorong inklusi keuangan lewat berbagai proyek berdampak sosial. Melalui anak usahanya DBS Vickers Indonesia, bank ini mencatatkan transaksi obligasi sosial senilai SGD352,9 juta pada 2024, melonjak hingga 726,5% dari tahun sebelumnya. Pendanaan ini disalurkan ke sektor-sektor seperti UMKM, pembiayaan mikro, hingga penguatan ekosistem keuangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Sementara itu, kolaborasi antara Bank DBS Indonesia, Asian Development Bank (ADB), dan Australian Climate Finance Partnership (ACFP) menghasilkan pembiayaan hijau sebesar USD15 juta bagi pengembangan motor listrik dan infrastruktur baterai oleh PT TBS Energi Utama Tbk melalui Electrum. Inisiatif ini mendukung ekosistem kendaraan listrik nasional yang kini tengah berkembang pesat.
Konsisten Dorong Proyek Energi Bersih
Bank DBS juga memainkan peran penting dalam proyek energi terbarukan lainnya. Di antaranya adalah keterlibatan sebagai pemberi pinjaman dalam proyek Waste-to-Energy (WTE) senilai USD100 juta yang ditargetkan beroperasi komersial pada Oktober 2026. Selain menyediakan pendanaan, Bank DBS Indonesia juga bertindak sebagai agen fasilitas dan agen jaminan, memastikan kelancaran eksekusi proyek.
Langkah-langkah konkret ini membawa Bank DBS meraih sejumlah penghargaan internasional, seperti:
- Best Bank for Sustainable Finance (Global Finance Sustainable Finance Awards 2025)
- Best Sustainable Bank (FinanceAsia Awards 2025)
- Indonesia’s Best Bank for ESG (Euromoney 2024)
Menuju Masa Depan yang Lebih Hijau
Dengan pendekatan berbasis data, kolaboratif, dan konsultatif, Bank DBS terus memperkuat perannya sebagai katalisator perubahan. Komitmen untuk menjadi lebih dari sekadar bank tercermin dalam dukungan nyata terhadap perusahaan yang tengah menjalani transisi energi.
Langkah-langkah Bank DBS tak hanya menunjukkan keberpihakan pada keberlanjutan, tapi juga menandakan bahwa masa depan industri keuangan akan ditentukan oleh seberapa besar dampak positif yang mampu diciptakannya bagi iklim, masyarakat, dan dunia usaha.
