tbs

Circular economy menjadi solusi penting bagi Indonesia untuk mengatasi persoalan sampah, keterbatasan sumber daya, dan emisi karbon sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Melalui pendekatan ini, limbah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi produk, energi, dan nilai ekonomi berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, Indonesia mulai bergerak meninggalkan model ekonomi linear “ambil–pakai–buang” menuju sistem yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Konsep circular economy kini semakin diterapkan dalam pengelolaan sampah, industri daur ulang, hingga pengembangan energi alternatif berbasis limbah.

Apa Itu Circular Economy?

Circular economy adalah model ekonomi yang bertujuan mempertahankan nilai produk, material, dan sumber daya selama mungkin melalui penggunaan ulang, perbaikan, daur ulang, dan regenerasi.

Berbeda dengan ekonomi linear yang menghasilkan banyak limbah, ekonomi sirkular mendorong sistem produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan. Prinsip utama circular economy meliputi:

  • Mengurangi produksi limbah
  • Menggunakan kembali material dan produk
  • Mendaur ulang sumber daya agar dapat dipakai berulang kali
  • Mengurangi eksploitasi sumber daya alam baru
  • Memanfaatkan limbah menjadi energi atau produk baru

Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menciptakan efisiensi biaya dan peluang bisnis baru.

Mengapa Circular Economy Penting di Indonesia?

Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Timbulan sampah nasional mencapai puluhan juta ton setiap tahun dan sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Kondisi ini memicu pencemaran lingkungan, emisi gas rumah kaca, hingga masalah kesehatan masyarakat.

Melalui penerapan circular economy, limbah dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Pendekatan ini juga membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku baru sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, ekonomi sirkular membuka peluang besar bagi UMKM dan creativepreneur.

Banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan limbah plastik, kain sisa produksi, hingga kayu bekas menjadi produk bernilai tambah seperti aksesori, furnitur, dan kemasan ramah lingkungan.

Sampah sebagai Sumber Nilai Baru

Salah satu inti dari circular economy adalah mengubah cara pandang terhadap sampah. Kini, berbagai inovasi menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai jual tinggi.

Contohnya, limbah plastik mulai dimanfaatkan menjadi paving block, aspal plastik, hingga bahan tekstil. Di industri fashion, pakaian bekas juga mulai dikumpulkan untuk didaur ulang menjadi material baru.

Program bank sampah di berbagai daerah menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Warga dapat memilah dan menyetorkan sampah untuk mendapatkan nilai ekonomi, sekaligus membantu mengurangi volume limbah.

Circular Economy dalam Pengelolaan Sampah Jakarta

Jakarta menjadi salah satu contoh kota yang mulai menerapkan konsep circular economy dalam pengelolaan sampah modern. Melalui Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, berbagai proyek pengolahan limbah dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap TPA.

Salah satu proyek utamanya adalah RDF Plant Bantargebang. Fasilitas ini mengolah 500–600 ton sampah per hari menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF), yaitu bahan bakar alternatif pengganti batu bara untuk kebutuhan industri, khususnya kiln semen.

Melalui proses pemilahan, pencacahan, dan pengeringan, sampah yang sebelumnya menumpuk kini dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi.

RDF yang dihasilkan memiliki nilai kalor sekitar 3.200–3.400 kcal/kg sehingga membantu mengurangi emisi dari penggunaan bahan bakar fosil.

Jakarta juga mengembangkan PLTSa Merah Putih sebagai fasilitas Waste-to-Energy serta melakukan landfill mining untuk mengambil kembali material yang masih dapat dimanfaatkan dari timbunan sampah lama.

Selain Bantargebang, Jakarta tengah mempersiapkan RDF Rorotan yang dirancang untuk mengolah hingga 2.500 ton sampah per hari. Fasilitas di sini akan menggunakan teknologi pemilahan otomatis, pengeringan, pencacahan, hingga pengendalian bau dan emisi.

Kehadirannya diharapkan mampu mempercepat pengurangan sampah menuju TPA sekaligus mendukung target penurunan emisi Jakarta.

Tantangan Implementasi Circular Economy

Meski memiliki potensi besar, penerapan circular economy di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan menuju sistem ekonomi sirkular membutuhkan investasi teknologi, infrastruktur pengelolaan limbah, dan edukasi masyarakat.

Selain itu, perubahan pola pikir juga menjadi faktor penting. Banyak masyarakat dan pelaku usaha masih memandang limbah sebagai barang tidak bernilai. Padahal, dengan inovasi dan pengelolaan yang tepat, limbah dapat menjadi sumber pendapatan baru.

Dukungan regulasi, kolaborasi pemerintah dan sektor swasta, serta partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan ekonomi sirkular di Indonesia.

TBS dan Masa Depan Circular Economy di Asia Tenggara

Penerapan circular economy di Indonesia juga semakin diperkuat oleh peran sektor swasta, salah satunya melalui langkah strategis TBS dalam pengelolaan limbah terintegrasi di Indonesia dan Singapura.

Pada 2023, TBS membangun fondasi bisnis waste management melalui akuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH yang bergerak di bidang pengelolaan limbah medis, limbah B3, limbah domestik, dan limbah elektronik.

Seluruh bisnis ini kemudian dikonsolidasikan di bawah PT Solusi Bersih TBS (SBT).

Langkah besar berikutnya dilakukan pada Maret 2025 ketika TBS menyelesaikan akuisisi penuh terhadap Sembcorp Environment (SembEnviro), perusahaan pengelolaan limbah asal Singapura yang memiliki keahlian dalam municipal solid waste, recycling, dan environmental solutions.

Pada September 2025, SembEnviro resmi berganti nama menjadi CORA Environment sebagai identitas baru yang menyatukan seluruh bisnis pengelolaan limbah TBS dalam satu platform regional.

Melalui AMES, ARAH, dan CORA, TBS memperkuat posisinya sebagai pemain regional dalam integrated waste management services sekaligus mendukung roadmap TBS2030 untuk menciptakan dampak lingkungan yang lebih baik.

Saat ini, TBS telah memiliki:

  • 5 fasilitas pengolahan limbah di Indonesia dan Singapura
  • Kapasitas pengolahan lebih dari 1 juta ton limbah pada 2025
  • Lebih dari 475.000 pelanggan

Langkah ini menunjukkan bahwa circular economy bukan sekadar konsep lingkungan, tetapi juga peluang bisnis masa depan yang mampu menciptakan nilai ekonomi, mengurangi dampak lingkungan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Asia Tenggara.