tbs

Menggunakan mobil listrik saat banjir pada dasarnya aman karena sudah memiliki perlindungan terhadap air. Namun, bukan berarti mobil listrik bebas risiko ketika melewati genangan atau banjir.

Kendaraan listrik dirancang untuk menghadapi hujan dan paparan air dalam kondisi normal, tetapi banjir yang dalam tetap dapat merusak komponen kendaraan dan membahayakan keselamatan pengemudi.

Cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat hujan deras dan banjir menjadi kondisi yang perlu diantisipasi pengendara di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.

Bagi pemilik maupun calon pemilik mobil listrik, pertanyaan mengenai keamanan kendaraan saat musim hujan pun menjadi semakin relevan.

Baca Juga: 8 Tips Perawatan Mobil Listrik yang Wajib Diketahui agar Tetap Prima

Apakah Mobil Listrik Aman Saat Musim Hujan?

Mobil listrik modern telah melalui berbagai pengujian keselamatan sebelum dipasarkan. Komponen penting seperti baterai dan sistem kelistrikan dirancang dengan perlindungan khusus agar tidak mudah terkena air.

Karena itu, berkendara saat hujan atau melewati genangan dangkal umumnya tidak menjadi masalah. Namun, tingkat perlindungan dapat berbeda pada setiap model kendaraan.

Baterai dan Sistem Kelistrikan Terlindungi

Baterai mobil listrik ditempatkan dalam sistem yang tertutup dan dilengkapi perlindungan terhadap air. Material serta seal khusus membantu mencegah air masuk ke bagian-bagian vital.

Hal ini membuat risiko korsleting akibat cipratan air atau hujan menjadi sangat rendah selama kendaraan digunakan sesuai batas yang ditentukan produsen.

Bisa Dicharge Saat Hujan

Masih banyak orang yang ragu mengisi daya mobil listrik ketika hujan. Padahal, proses pengisian daya menggunakan charger yang sesuai pada dasarnya aman dilakukan saat hujan.

Konektor dan soket pengisian dirancang untuk melindungi bagian kelistrikan dari air. Meski begitu, pastikan instalasi charger dilakukan dengan benar dan menggunakan perangkat yang memang ditujukan untuk penggunaan luar ruangan.

Hindari menggunakan kabel ekstensi sembarangan karena dapat membebani instalasi listrik dan meningkatkan risiko kebakaran.

Menggunakan Mobil Listrik saat Banjir, Apa Risikonya?

Aman saat hujan bukan berarti mobil listrik aman digunakan menerobos banjir. Justru, mobil listrik saat banjir harus diperlakukan dengan hati-hati, terutama ketika ketinggian air sudah melebihi batas yang direkomendasikan produsen.

Banjir juga dapat menyembunyikan lubang, benda tajam, puing, atau kerusakan jalan yang tidak terlihat dari permukaan. Kondisi tersebut dapat membahayakan kendaraan apa pun, baik mobil listrik maupun mobil berbahan bakar bensin atau diesel.

Perhatikan Batas Kedalaman Air

Setiap kendaraan memiliki batas kemampuan melewati genangan atau wading depth yang berbeda. Karena itu, jangan menganggap semua mobil listrik memiliki kemampuan yang sama.

Menariknya, mobil listrik tidak selalu lebih buruk dibandingkan mobil konvensional ketika menghadapi genangan. Mobil bensin atau diesel juga dapat mengalami masalah serius jika air masuk melalui saluran udara menuju mesin.

Namun, motor listrik, sistem roda, rem, dan komponen lain pada EV tetap berpotensi mengalami kerusakan jika terendam terlalu lama.

Air banjir yang mengandung lumpur, garam, atau bahan kimia juga dapat mempercepat korosi dan menimbulkan kerusakan jangka panjang.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Mobil Terendam Banjir?

Jika mobil listrik terlanjur terpapar banjir, jangan langsung menganggap kendaraan aman hanya karena masih dapat menyala. Pastikan kamu melakukan beberapa hal berikut ini.

1. Jangan Langsung Menyalakan Mobil

Jika kendaraan terendam cukup dalam, hindari mencoba menyalakannya kembali. Air yang masuk ke komponen tertentu dapat menyebabkan kerusakan tambahan ketika sistem kelistrikan kembali aktif.

2. Segera Hubungi Teknisi

Bawa kendaraan untuk diperiksa oleh teknisi atau pusat servis resmi. Pemeriksaan profesional penting untuk mengetahui apakah terdapat kerusakan pada baterai, sistem kelistrikan, rem, motor, maupun komponen lainnya.

3. Hubungi Perusahaan Asuransi

Jika mobil memiliki perlindungan asuransi yang mencakup kerusakan akibat banjir, segera laporkan kejadian tersebut. Dokumentasikan kondisi kendaraan dan ikuti prosedur klaim yang ditetapkan.

Tips Merawat Mobil Listrik di Musim Hujan

Selain memahami risiko mobil listrik saat banjir, pemilik juga perlu memastikan kondisi kendaraan selalu prima selama musim hujan. Ini beberapa tipsnya.

1. Periksa Kondisi Ban

Ban dengan alur yang sudah aus lebih mudah kehilangan traksi di jalan basah. Pastikan tekanan angin juga sesuai rekomendasi agar kendaraan tetap stabil.

2. Pastikan Wiper Berfungsi

Wiper sangat penting untuk menjaga visibilitas ketika hujan deras. Periksa kondisi karet wiper dan pastikan cairan pembersih kaca tersedia sebelum bepergian.

3. Perhatikan Daya Baterai

Sebelum perjalanan, pastikan kapasitas baterai mencukupi. Hal ini membantu mengurangi kebutuhan mencari stasiun pengisian ketika hujan deras atau terjadi kemacetan akibat banjir.

4. Cuci Mobil Setelah Terkena Hujan

Air hujan dan kotoran yang menempel pada badan mobil dapat mempercepat korosi jika dibiarkan. Membersihkan kendaraan setelah terkena hujan membantu menjaga kondisi bodi dan komponen kendaraan tetap baik.

Bagaimana dengan Mobil Listrik di Indonesia?

Kondisi jalan dan cuaca di Asia, termasuk Indonesia, membuat kesiapan menghadapi musim hujan menjadi semakin penting. Hujan deras dapat terjadi dalam waktu singkat dan menyebabkan genangan di sejumlah wilayah perkotaan.

Karena itu, pemilik EV sebaiknya tidak hanya melihat kemampuan baterai atau jarak tempuh ketika memilih kendaraan. Perlindungan terhadap air, batas kedalaman genangan, ketersediaan layanan purna jual, serta panduan dari produsen juga perlu diperhatikan.

Meski mobil listrik memang dirancang untuk menghadapi hujan dan genangan dalam batas tertentu, tetapi tidak ada kendaraan yang benar-benar kebal terhadap banjir. Menghindari genangan yang dalam tetap menjadi pilihan paling aman.

Baca Juga: Solid State Battery, Teknologi Masa Depan Kendaraan Listrik

TBS dan Perkembangan Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia

Penggunaan kendaraan listrik tidak hanya membutuhkan produk yang aman, tetapi juga ekosistem pendukung yang kuat. Di Indonesia, TBS melalui Electrum turut mengambil peran dalam membangun ekosistem mobilitas listrik.

Pada 2021, TBS bersama GoTo Group mendirikan PT Energi Kreasi Bersama atau Electrum untuk membangun ekosistem mobilitas listrik terintegrasi pertama di Indonesia.

Ekosistem ini mencakup perakitan kendaraan, teknologi baterai, infrastruktur battery swapping, stasiun pengisian, hingga skema pembiayaan.

Pada Februari 2022, Presiden Joko Widodo meresmikan peluncuran ekosistem kendaraan listrik kolaboratif bersama Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits.

Di tahun yang sama, Electrum juga berpartisipasi dalam KTT G20 dan B20 Bali dengan menyediakan 50 motor listrik, 11 shelter, serta 150 mitra driver Gojek untuk melayani para delegasi.

Dukungan pembiayaan semakin berkembang pada Desember 2024 ketika Electrum memperoleh pendanaan US$15 juta dari Asian Development Bank, Australian Climate Finance Partnership, dan Bank DBS Indonesia.

Pendanaan tersebut digunakan untuk mempercepat pengadaan kendaraan dan memperluas jaringan battery swapping, yang diproyeksikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 123.000 ton setiap tahun.

Pada Oktober 2024, motor listrik Electrum H3i resmi diluncurkan di IMOS dengan pilihan pengisian daya di rumah maupun akses jaringan battery swapping. Tahun berikutnya, hadir model terbaru, Electrum H1, untuk memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen.

Hingga 2025, lebih dari 500 Battery Swapping Station telah mendukung lebih dari 15.000 motor listrik di Jakarta dan sekitarnya. Pada tahun yang sama, tercatat lebih dari 19.000 penukaran baterai setiap hari dan lebih dari 3.200 ton CO2 berhasil dihindari.

Seiring berkembangnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, TBS melalui Electrum terus mendukung hadirnya mobilitas yang lebih berkelanjutan melalui kendaraan, teknologi baterai, infrastruktur, dan layanan pendukung.

Dengan ekosistem yang semakin kuat dan penggunaan yang bijak, transisi menuju mobilitas listrik dapat terus berkembang di Indonesia.