tbs

Jejak karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia, mulai dari penggunaan listrik, transportasi, hingga konsumsi makanan.

Memahami jejak karbon penting karena semakin besar emisi yang dihasilkan, semakin besar pula dampaknya terhadap perubahan iklim, sehingga setiap individu, perusahaan, dan pemerintah perlu berperan dalam menguranginya.

Tanpa disadari, hampir semua aktivitas sehari-hari meninggalkan jejak karbon. Menyalakan lampu, berkendara, menggunakan ponsel, hingga membeli pakaian baru membutuhkan energi yang sebagian besar masih berasal dari bahan bakar fosil.

Di Indonesia, isu ini menjadi semakin penting karena pertumbuhan penduduk, kebutuhan energi, dan pembangunan ekonomi terus meningkatkan emisi karbon.

Oleh karena itu, memahami penyebab, dampak, dan cara mengurangi jejak karbon merupakan langkah awal untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Jejak Karbon adalah Apa?

Jejak karbon adalah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan secara langsung maupun tidak langsung dari aktivitas manusia.

Gas rumah kaca tersebut meliputi karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O), yang berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.

Semakin banyak aktivitas yang bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil, semakin besar pula jejak karbon yang dihasilkan.

Besarnya jejak karbon setiap orang juga berbeda-beda, tergantung gaya hidup, pola konsumsi, lokasi tempat tinggal, hingga jenis transportasi yang digunakan.

Menurut Our World in Data (2024), sektor energi menyumbang sekitar 73% emisi gas rumah kaca global, menjadikannya penyumbang terbesar dibandingkan sektor lainnya.

Sementara itu, sektor transportasi berkontribusi sekitar 16%, sedangkan sistem pangan juga menjadi sumber emisi yang signifikan melalui proses produksi, distribusi, hingga limbah makanan.

Baca Juga: Dekarbonisasi adalah Strategi Transisi dari Energi Fosil ke Energi Bersih, Ini Penjelasannya

Penyebab Jejak Karbon

Hampir seluruh aktivitas modern menghasilkan emisi karbon. Berikut beberapa penyebab utamanya.

1. Transportasi

Mobil, sepeda motor, pesawat, hingga kapal menghasilkan emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil. Menurut berbagai laporan internasional, transportasi darat menjadi penyumbang terbesar emisi di sektor transportasi global.

2. Penggunaan Energi Fosil

Listrik yang digunakan di rumah maupun industri masih banyak berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Karena itu, penggunaan listrik yang tinggi juga meningkatkan jejak karbon.

3. Produksi Barang dan Industri

Setiap produk yang dibeli memiliki jejak karbon sejak proses produksi, pengemasan, hingga distribusi. Industri semen, baja, tekstil, dan elektronik merupakan beberapa sektor dengan emisi yang cukup besar.

4. Pertanian dan Deforestasi

Peternakan menghasilkan gas metana yang memiliki efek pemanasan lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.

Selain itu, pembukaan hutan untuk lahan pertanian mengurangi kemampuan alam menyerap karbon sehingga emisi di atmosfer semakin meningkat.

Contoh Jejak Karbon dalam Kehidupan Sehari-hari

Jejak karbon tidak hanya dimiliki individu, tetapi juga produk, organisasi, hingga suatu negara.

1. Jejak Karbon Produk

Ponsel, laptop, pakaian, hingga makanan memiliki jejak karbon sejak diproduksi hingga dibuang. Bahkan penggunaan laptop selama sekitar delapan jam per hari juga menghasilkan emisi karbon.

2. Jejak Karbon Pribadi

Penggunaan kendaraan pribadi setiap hari, konsumsi listrik rumah tangga, hingga pilihan makanan menjadi bagian dari jejak karbon individu.

3. Jejak Karbon Layanan

Layanan digital, seperti video streaming, cloud computing, dan belanja online juga membutuhkan pusat data yang menggunakan listrik dalam jumlah besar sehingga tetap menghasilkan emisi karbon.

4. Jejak Karbon Organisasi

Perusahaan dan instansi pemerintah menghasilkan emisi dari penggunaan listrik kantor, perjalanan dinas, hingga pengelolaan limbah. Banyak perusahaan kini mulai menerapkan energi terbarukan untuk mengurangi emisi operasional mereka.

5. Jejak Karbon Nasional

Indonesia juga memiliki jejak karbon nasional yang berasal dari sektor energi, transportasi, industri, pertanian, dan perubahan penggunaan lahan.

Berdasarkan inventarisasi emisi pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sektor energi masih menjadi salah satu kontributor terbesar emisi gas rumah kaca nasional, diikuti sektor kehutanan dan penggunaan lahan.

Dampak Jejak Karbon bagi Lingkungan

Semakin tinggi jejak karbon, semakin besar pula dampaknya terhadap kehidupan manusia dan lingkungan. Berikut beberapa dampak jejak karbon bagi lingkungan.

1. Kerusakan Ekosistem

Perubahan suhu bumi mengganggu habitat satwa liar, mempercepat kepunahan spesies, serta menyebabkan pemutihan terumbu karang akibat kenaikan suhu laut.

2. Perubahan Iklim Ekstrem

Menurut IPCC, suhu rata-rata global telah meningkat sekitar 1,1°C dibandingkan era pra-industri. Dampaknya terlihat melalui meningkatnya kejadian banjir, gelombang panas, kekeringan, hingga badai yang semakin ekstrem.

3. Mencairnya Es Kutub dan Kenaikan Permukaan Laut

Meningkatnya suhu bumi mempercepat pencairan lapisan es di kutub. Akibatnya, permukaan laut terus naik dan mengancam wilayah pesisir, termasuk beberapa daerah di Indonesia yang rentan terhadap banjir rob.

Baca Juga: Biogas adalah Bentuk dari Energi Terbarukan, Ini Cara Kerja dan Keuntungannya

Cara Mengurangi Jejak Karbon

Mengurangi jejak karbon dapat dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari, seperti berikut ini:

  • Menggunakan transportasi umum, berjalan kaki, atau bersepeda, bila memungkinkan.
  • Memilih barang yang dapat digunakan berulang kali, seperti botol minum dan tas belanja.
  • Mengurangi sampah makanan dengan membeli dan mengolah makanan secukupnya.
  • Melakukan daur ulang dan mengolah sampah organik menjadi kompos untuk mengurangi emisi metana.
  • Menggunakan lampu LED yang lebih hemat energi dibandingkan lampu konvensional.
  • Membeli barang bekas yang masih layak pakai untuk mengurangi kebutuhan produksi baru.
  • Memanfaatkan energi terbarukan, seperti panel surya, apabila memungkinkan.

Langkah-langkah sederhana tersebut memang terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang, dampaknya dapat membantu menekan emisi karbon secara signifikan.

Jejak Karbon di Indonesia dan Peran TBS Energi Utama dalam Mendukung Energi Bersih

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menurunkan emisi karbon. Climate Change Performance Index (CCPI) menempatkan Indonesia pada kategori low performer, terutama dalam aspek emisi gas rumah kaca, energi terbarukan, kebijakan iklim, dan penggunaan energi.

Meski demikian, Indonesia terus memperkuat komitmennya menuju transisi energi yang lebih bersih, termasuk target pengembangan energi terbarukan dan pengurangan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Salah satu perusahaan yang turut mendukung upaya tersebut adalah TBS Energi Utama melalui pengembangan berbagai proyek energi terbarukan di Indonesia.

Pada 2020, melalui anak usahanya PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS Energi Utamamengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH) yang mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 2 x 3 MW di Lampung.

Selain itu, TBS Energi Utama juga mengakuisisi PT Bayu Alam Sejahtera (BAS) yang mengeksplorasi potensi pembangkit listrik tenaga bayu di Nusa Tenggara Timur.

PLTM AEH berhasil mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025, sehingga kini memasok 6 MW energi bersih ke sistem kelistrikan Sumatera Bagian Selatan.

Tak hanya menghasilkan listrik rendah emisi, proyek ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan akses listrik, dan pelestarian lingkungan.

TBS Energi Utama juga mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Tembesi di Batam. Proyek ini telah mencapai financial closing pada 2024 dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2026.

Kehadiran PLTS terapung tersebut diharapkan mampu menekan emisi karbon, meningkatkan kualitas udara, menciptakan lapangan kerja hijau, sekaligus memperkuat pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, TBS Energi Utama menunjukkan bahwa transisi menuju energi bersih membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Semakin banyak pihak yang berkontribusi mengurangi jejak karbon, semakin besar peluang Indonesia mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan sekaligus menjaga bumi untuk generasi mendatang.