
Kelebihan energi terbarukan tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi karbon, tetapi juga mencakup efisiensi biaya, ketahanan energi, penciptaan lapangan kerja, dan peluang inovasi bagi industri.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi di Asia, sumber seperti surya, angin, air, panas bumi, biomassa, laut, dan hidrogen, semakin penting dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
Perubahan iklim dan pertumbuhan industri mendorong berbagai negara mengurangi ketergantungan pada batu bara, minyak, dan gas.
Bagi industri, energi terbarukan bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga peluang untuk mengendalikan biaya, memperkuat ketahanan operasional, dan membangun bisnis berkelanjutan.
Baca Juga: Distributed Energy Resources: Masa Depan Sistem Energi yang Tak Lagi Terpusat
Kelebihan Energi Terbarukan bagi Industri
Ada beberapa kelebihan energi terbarukan yang membuatnya semakin relevan bagi sektor industri.
1. Sumber Energi Berkelanjutan
Matahari, angin, air, dan panas bumi tersedia secara alami dan dapat diperbarui. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang jumlahnya terbatas, sumber energi ini dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
2. Mengurangi Emisi Karbon
Energi terbarukan menghasilkan emisi yang sangat rendah atau tidak menghasilkan emisi langsung saat pembangkitan listrik. Penggunaannya dapat membantu industri mengurangi jejak karbon dan mendukung target dekarbonisasi.
3. Meningkatkan Ketahanan Energi
Pengembangan sumber energi domestik dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan pasokan dari luar negeri. Bagi industri, diversifikasi sumber energi juga dapat membantu menghadapi perubahan harga dan risiko gangguan pasokan.
4. Berpotensi Menekan Biaya
Kemajuan teknologi membuat biaya pembangkitan energi surya dan angin semakin kompetitif. Industri juga dapat memanfaatkan pembangkit sendiri atau kontrak pembelian listrik jangka panjang untuk memperoleh biaya energi yang lebih terprediksi.
5. Mendorong Inovasi dan Lapangan Kerja
Perkembangan energi terbarukan menciptakan kebutuhan terhadap tenaga ahli, manufaktur, konstruksi, hingga pemeliharaan. Integrasinya dengan penyimpanan energi, smart grid, dan Internet of Things (IoT) juga membuka peluang inovasi baru.
Jenis Energi Terbarukan dan Potensinya
Setiap sumber energi terbarukan memiliki karakteristik dan tantangan berbeda. Pemilihannya dapat disesuaikan dengan kondisi geografis, kebutuhan energi, serta skala penggunaannya.
1. Energi Surya
Energi surya dihasilkan dengan memanfaatkan radiasi matahari untuk menghasilkan listrik atau panas. Panel photovoltaic (PV) mengubah cahaya menjadi listrik, sedangkan solar thermal memanfaatkan panas matahari.
Teknologi ini mudah diterapkan pada bangunan industri maupun pembangkit berskala besar. Tantangannya adalah produksi bergantung pada cuaca dan waktu sehingga sistem penyimpanan energi dapat diperlukan untuk menjaga kontinuitas pasokan.
2. Energi Angin
Energi angin dapat dijalankan dengan menggunakan turbin untuk mengubah energi kinetik angin menjadi listrik. Pembangkitnya dapat dibangun di daratan atau laut (offshore).
Teknologi ini tidak menghasilkan emisi CO2 saat beroperasi dan offshore wind memiliki potensi besar karena angin di laut cenderung lebih konsisten. Namun, pembangunannya membutuhkan investasi dan pengelolaan jaringan yang baik.
3. Energi Air
Pembangkit listrik tenaga air memanfaatkan aliran air melalui reservoir, run-of-river, maupun pumped storage. Sumber ini mampu menghasilkan listrik secara relatif stabil dengan fasilitas yang dapat beroperasi dalam jangka panjang.
Meski demikian, pembangunan bendungan dan fasilitas air perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem, keanekaragaman hayati, serta ketersediaan air.
4. Energi Panas Bumi
Panas bumi memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik dan energi panas. Air yang dipanaskan oleh batuan menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin.
Salah satu kelebihan energi ini adalah kemampuannya menghasilkan listrik secara stabil sepanjang waktu. Tantangannya adalah lokasi pengembangan yang terbatas serta biaya pengeboran yang tinggi.
5. Energi Bioenergi
Bioenergi berasal dari bahan organik, seperti limbah pertanian, kayu, sisa makanan, dan kotoran hewan. Sumber ini dapat digunakan untuk menghasilkan panas dan listrik atau diolah menjadi bioetanol dan biodiesel.
Indonesia memiliki potensi besar karena ketersediaan bahan baku dari sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Pemanfaatan biomassa juga dapat mengubah limbah menjadi sumber nilai ekonomi.
6. Energi Laut
Energi laut memanfaatkan gelombang, pasang surut, arus, dan perbedaan suhu laut. Teknologinya masih berkembang, tetapi berpotensi bagi negara kepulauan seperti Indonesia.
Dengan wilayah laut yang luas, energi ini dapat menjadi salah satu sumber untuk mendiversifikasi energi nasional pada masa depan.
7. Energi Hidrogen
Hidrogen dapat digunakan sebagai bahan bakar sekaligus media penyimpanan energi. Hidrogen yang diproduksi melalui elektrolisis air menggunakan listrik dari sumber terbarukan seperti surya dan angin berpotensi mendukung sistem energi rendah karbon.
Kemampuannya untuk disimpan membuat hidrogen menarik untuk kebutuhan industri dan penyimpanan energi dalam skala besar.
Perkembangan Energi Terbarukan di Asia
Asia menghadapi peningkatan kebutuhan energi akibat industrialisasi dan urbanisasi. Di Asia Tenggara, negara-negara ASEAN mendorong penggunaan energi terbarukan untuk menyediakan energi yang lebih bersih dan terjangkau.
Melalui APAEC 2026–2030, ASEAN menargetkan porsi energi terbarukan sebesar 30% dalam total pasokan energi primer dan 45% dalam kapasitas pembangkit listrik terpasang pada 2030.
Di Asia Tengah, kerja sama seperti Accelerated Partnership for Renewable Energy in Central Asia (APRECA) juga mendorong modernisasi infrastruktur, investasi, dan perdagangan energi terbarukan lintas negara.
Potensi Energi Terbarukan di Indonesia
Indonesia memiliki potensi besar dari energi surya, air, angin, bioenergi, panas bumi, hingga laut. Dengan potensi tersebut, pemerintah telah menargetkan net zero emission pada 2060.
Potensi yang dimiliki Indonesia ini, menjadi peluang untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Bagi industri, pengembangan energi terbarukan dapat menjadi bagian dari strategi efisiensi, ketahanan energi, dan keberlanjutan bisnis.
Baca Juga: Smart Grid di Indonesia: Pengertian, Cara Kerja, dan Manfaatnya
Solusi Energi Terbarukan bagi Industri melalui TBS
TBS memperluas portofolionya di sektor energi terbarukan melalui pengembangan pembangkit listrik ramah lingkungan.
Pada 2020, melalui PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang PLTM 2x3 MW di Lampung. Selain itu, TBS juga mengakuisisi PT Bayu Alam Sejahtera (BAS) yang menjajaki potensi tenaga angin di NTT.
Proyek AEH mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dan menyumbang 6 MW energi bersih untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Proyek ini juga memberikan manfaat melalui pengembangan infrastruktur, akses listrik, dan pelestarian lingkungan.
Tak hanya itu, TBS juga mengembangkan PLTS Terapung Tembesi berkapasitas 46 MWp di Batam. Proyek ini mencapai financial closing pada 2024 dan ditargetkan beroperasi komersial penuh serta terhubung dengan jaringan listrik nasional pada 2026.
Saat ini, proyek tersebut sedang dibangun. Selain menghasilkan energi bersih, PLTS terapung Tembesi diharapkan mendukung pengurangan emisi, kualitas udara, penciptaan lapangan kerja hijau, serta pengembangan teknologi dan kolaborasi dengan masyarakat.
Melalui PLTM Sumberjaya 6 MW yang telah mencapai COD dan PLTS Terapung Tembesi 46 MWp yang sedang dibangun, TBS terus memperluas kontribusinya dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya TBS menghadirkan solusi energi yang lebih bersih bagi industri sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.