
Distributed energy resources menjadi bagian penting dalam perubahan sistem energi karena memungkinkan listrik diproduksi, disimpan, dan dikelola lebih dekat dengan lokasi pengguna.
Di Asia, termasuk Indonesia, perkembangan energi terbarukan dan kebutuhan listrik yang terus meningkat membuat sistem energi yang lebih fleksibel dan terdesentralisasi semakin dibutuhkan.
Selama puluhan tahun, listrik umumnya dihasilkan oleh pembangkit berskala besar, kemudian disalurkan melalui jaringan transmisi dan distribusi hingga sampai ke konsumen.
Namun, perkembangan teknologi energi terbarukan membuat masyarakat dan pelaku usaha memiliki lebih banyak pilihan untuk menghasilkan listrik sendiri. Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca Juga: Smart Grid di Indonesia: Pengertian, Cara Kerja, dan Manfaatnya
Apa Itu Distributed Energy Resources?
Distributed energy resources adalah sistem energi berskala kecil yang menghasilkan, menyimpan, atau mengelola listrik di dekat lokasi energi tersebut digunakan.
Berbeda dengan pembangkit listrik terpusat, DER dapat dipasang di rumah, gedung komersial, fasilitas industri, maupun kawasan tertentu.
Teknologinya juga beragam. Mulai dari panel surya di atap rumah hingga baterai penyimpanan energi dan kendaraan listrik yang dapat menyimpan energi.
DER memberikan sejumlah manfaat bagi sistem kelistrikan, seperti meningkatkan fleksibilitas jaringan, mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit terpusat, serta membantu menjaga keandalan pasokan listrik.
Jenis Distributed Energy Resources yang Umum Digunakan
Distributed energy resources hadir dalam berbagai bentuk dan teknologi. Setiap jenis memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya berperan dalam menghasilkan, menyimpan, atau mengelola listrik lebih dekat dengan lokasi pengguna.
Berikut beberapa jenis distributed energy resources yang umum digunakan.
1. Panel Surya dan Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Panel surya merupakan salah satu bentuk DER yang paling mudah ditemukan. Sistem photovoltaic (PV) dapat dipasang di atap rumah, gedung, maupun fasilitas komersial untuk menghasilkan listrik langsung di lokasi penggunaan.
Selain surya, terdapat distributed wind atau pembangkit listrik tenaga angin berskala kecil. Kapasitasnya dapat bervariasi, mulai dari kurang dari 1 kilowatt hingga sekitar 100 kilowatt untuk kebutuhan fasilitas tertentu.
2. Battery Energy Storage System
Battery Energy Storage System (BESS) memungkinkan listrik yang dihasilkan ketika produksi energi tinggi disimpan untuk digunakan pada waktu lain.
Teknologi ini penting untuk meningkatkan ketahanan jaringan, terutama ketika sumber energi seperti surya tidak menghasilkan listrik secara konsisten sepanjang hari.
3. Kendaraan Listrik sebagai Penyimpan Energi
Kendaraan listrik juga berpotensi menjadi bagian dari distributed energy resources.
Selain digunakan untuk transportasi, baterainya dapat menyimpan energi dan, dengan teknologi yang sesuai, menyalurkannya kembali ke jaringan listrik melalui konsep seperti vehicle-to-grid.
4. Fuel Cell, Cogeneration, dan Microturbine
DER juga dapat menggunakan fuel cell, cogeneration, dan microturbine. Fuel cell dapat menghasilkan listrik menggunakan hidrogen, sedangkan cogeneration menghasilkan listrik dan panas dari satu sumber energi.
Sementara itu, microturbine merupakan pembangkit kecil yang dapat menggunakan bahan bakar seperti biogas, gas alam, atau propana.
Bagaimana DER Mendukung Sistem Energi Modern?
Salah satu keunggulan utama distributed energy resources adalah kemampuannya mendukung jaringan listrik yang lebih fleksibel dan tangguh, seperti berikut ini.
1. Meningkatkan Ketahanan dan Keandalan Jaringan
Karena sumber energi tersebar di berbagai lokasi, gangguan pada satu bagian jaringan tidak selalu berdampak pada seluruh sistem. DER juga dapat beroperasi secara mandiri dalam kondisi tertentu atau tetap terhubung dengan jaringan utama.
2. Mengurangi Kehilangan Energi
Listrik yang diproduksi dekat dengan lokasi konsumsi tidak perlu menempuh jarak transmisi yang terlalu jauh. Kondisi ini berpotensi mengurangi kehilangan energi selama proses penyaluran sekaligus membantu mengurangi beban jaringan.
3. Mendukung Energi Bersih
DER berbasis energi terbarukan, seperti panel surya dan pembangkit angin, dapat meningkatkan penggunaan energi rendah emisi. Pengurangan penggunaan bahan bakar fosil juga berpotensi membantu menekan emisi karbon dan meningkatkan kualitas udara.
Tantangan Pengembangan DER di Asia
Asia menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan kebutuhan energi yang tinggi. Asia Tenggara sendiri diperkirakan menyumbang sekitar 25% pertumbuhan permintaan energi global hingga 2030.
Namun, transisi energi di kawasan ini menghadapi sejumlah tantangan. Vietnam, misalnya, mengalami pertumbuhan pesat pembangkit surya pada 2019–2021 dengan tambahan kapasitas lebih dari 16 GW, termasuk kontribusi besar dari rooftop solar.
Pertumbuhan yang cepat tersebut juga memunculkan persoalan seperti keterbatasan jaringan, curtailment, dan ketidakpastian regulasi.
Negara-negara ASEAN lainnya menghadapi tantangan yang berbeda.
Filipina harus mengelola sistem kelistrikan di lebih dari 7.000 pulau, sedangkan Kamboja masih menghadapi keterbatasan jaringan transmisi dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.
Di Thailand, perencanaan energi yang masih terpusat juga menjadi tantangan dalam memaksimalkan potensi solusi desentralisasi.
Karena itu, pengembangan DER membutuhkan investasi jaringan, regulasi yang mendukung, koordinasi antar-stakeholder, serta teknologi smart grid.
Potensi Distributed Energy Resources di Indonesia
Indonesia juga mulai memperkuat pengembangan energi terbarukan dan smart grid sebagai bagian dari transisi energi.
Potensi energi surya menjadi salah satu peluang penting karena dapat diterapkan dalam berbagai skala, mulai dari rumah tangga hingga proyek pembangkit berskala besar.
Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber energi terbarukan lain, seperti panas bumi, tenaga air, biomassa, dan angin.
Kombinasi berbagai sumber tersebut dapat membantu menciptakan sistem energi yang lebih beragam dan tidak bergantung pada satu jenis pembangkit.
Pengembangan DER juga relevan bagi Indonesia karena kondisi geografisnya yang terdiri dari ribuan pulau. Sistem energi yang lebih terdesentralisasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan akses dan ketahanan energi di wilayah tertentu.
Baca Juga: Energi Baru dan Terbarukan: Belajar dari Negara-Negara yang Berhasil Bertransisi
Peran TBS dalam Pengembangan Energi Terbarukan
Pengembangan sistem energi masa depan membutuhkan kombinasi antara pembangkit berskala besar dan solusi energi yang lebih fleksibel.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, TBS terus memperluas portofolionya di sektor energi terbarukan melalui berbagai proyek pembangkit listrik ramah lingkungan.
Salah satunya adalah PLTM Sumberjaya di Lampung. Pada 2020, melalui anak perusahaan PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang PLTM berkapasitas 2 x 3 MW.
Proyek tersebut kemudian mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dan menyumbang 6 MW energi bersih bagi wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Selain tenaga air, TBS mengembangkan PLTS Terapung Tembesi di Batam.
Proyek ini telah mencapai financial closing pada 2024 dan ditargetkan beroperasi secara komersial penuh serta terhubung dengan jaringan listrik nasional pada 2026. PLTS terapung tersebut memiliki kapasitas 46 MWp dan saat ini sedang dibangun.
Proyek Tembesi juga diharapkan memberikan manfaat lebih luas, mulai dari pengurangan emisi karbon dan peningkatan kualitas udara hingga penciptaan lapangan kerja hijau, transfer teknologi, serta penguatan pembangunan berkelanjutan di Batam.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi di Asia, pengembangan energi terbarukan menjadi semakin penting. Indonesia pun memiliki peluang besar untuk memanfaatkan potensi tersebut melalui kombinasi berbagai sumber energi.
Komitmen terhadap transisi energi juga tercermin melalui pengembangan proyek energi terbarukan TBS. Melalui berbagai inisiatif tersebut, TBS terus mengambil bagian dalam mendorong pengembangan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di Indonesia.