
Smart grid adalah teknologi yang dapat mengubah cara sistem kelistrikan bekerja agar lebih cerdas, fleksibel, efisien, dan mampu menghadapi kebutuhan energi yang terus meningkat.
Kebutuhan listrik di berbagai negara Asia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, perkembangan industri, hingga hadirnya pusat data dan kendaraan listrik.
Di sisi lain, dunia juga sedang beralih menuju sumber energi yang lebih bersih seperti tenaga surya dan angin.
Kondisi ini membuat jaringan listrik membutuhkan kemampuan untuk membaca perubahan, mengatur pasokan, dan merespons gangguan secara lebih cepat.
Apa Itu Smart Grid?
Smart grid adalah jaringan listrik modern yang memanfaatkan teknologi digital, sensor, sistem komunikasi, dan otomatisasi untuk mengelola aliran listrik secara lebih efisien dan real-time.
Pada jaringan listrik tradisional, listrik umumnya mengalir satu arah, dari pembangkit menuju konsumen.
Sementara smart grid memungkinkan komunikasi dua arah, yang berarti informasi mengenai produksi, distribusi, dan konsumsi listrik dapat dikirim dan dianalisis secara terus-menerus.
Salah satu teknologi yang mendukung sistem ini adalah smart meter.
Perangkat tersebut dapat mencatat penggunaan listrik secara otomatis dan mengirimkan data kepada penyedia listrik. Dengan informasi yang lebih cepat dan akurat, pengelolaan jaringan dapat dilakukan dengan lebih tepat.
Smart grid juga memungkinkan integrasi berbagai sumber energi, termasuk pembangkit listrik tenaga surya dan angin yang produksinya bergantung pada kondisi cuaca.
Baca Juga: Pembangkit Listrik Tenaga Surya: Jenis, Cara Kerja dan Manfaatnya
Cara Kerja Smart Grid
Smart grid bekerja dengan menghubungkan berbagai perangkat digital dalam satu sistem yang dapat memantau dan mengendalikan jaringan listrik.
1. Mengumpulkan Data
Sensor dan smart meter memantau berbagai informasi, mulai dari konsumsi listrik, tegangan, arus, kondisi peralatan, hingga potensi gangguan.
2. Menganalisis Kondisi Jaringan
Data tersebut dikirim melalui sistem komunikasi menuju pusat pengendalian. Sistem kemudian menganalisis kebutuhan listrik, kondisi jaringan, serta perubahan produksi energi.
3. Mengatur Distribusi Secara Otomatis
Ketika terjadi gangguan pada jaringan, sistem dapat membantu mengidentifikasi masalah dan mengatur kembali aliran listrik.
Dengan demikian, penanganan gangguan dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan sistem yang sepenuhnya mengandalkan pemeriksaan manual.
4. Menyimpan Energi Berlebih
Ketika produksi listrik lebih tinggi daripada kebutuhan, energi dapat disimpan menggunakan teknologi penyimpanan energi atau baterai. Energi tersebut kemudian dapat digunakan ketika permintaan meningkat atau produksi energi terbarukan menurun.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena pembangkit tenaga surya hanya menghasilkan listrik ketika tersedia sinar matahari, sedangkan pembangkit tenaga angin bergantung pada kecepatan angin.
Komponen Utama Smart Grid
Smart grid terdiri dari sejumlah teknologi yang saling terhubung. Beberapa di antaranya adalah:
- Sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, yang menjadi bagian dari sistem energi rendah karbon.
- Sensor dan perangkat monitoring untuk memantau kondisi jaringan secara cepat.
- Perangkat Internet of Things (IoT) yang memungkinkan berbagai peralatan bertukar data.
- Smart meter untuk mengukur dan mengirimkan informasi konsumsi listrik.
- Sistem keamanan siber untuk melindungi jaringan dan data dari ancaman digital.
- Sistem penyimpanan energi seperti baterai untuk menyimpan listrik berlebih dan menggunakannya kembali saat dibutuhkan.
Kombinasi teknologi tersebut membuat jaringan listrik tidak hanya berfungsi sebagai jalur distribusi energi, tetapi juga sebagai sistem yang mampu membaca kondisi dan mengambil tindakan secara lebih responsif.
Pentingnya Smart Grid Penting bagi Indonesia
Indonesia memiliki tantangan sekaligus peluang besar dalam pengembangan smart grid. Pertumbuhan kebutuhan listrik berjalan bersamaan dengan target peningkatan energi terbarukan dan elektrifikasi transportasi.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Indonesia menargetkan tambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan sebesar 42,6 GW serta penyimpanan energi sebesar 10,3 GW.
Perubahan komposisi energi tersebut membutuhkan jaringan yang mampu mengelola sumber listrik yang produksinya tidak selalu stabil.
Modernisasi JAMALI (Jawa-Madura-Bali) menjadi salah satu bagian penting dari upaya tersebut. Sistem pengendalian jaringan ini mencakup sekitar 79% kapasitas pembangkitan Indonesia.
Dengan dukungan UNOPS, rancangan modernisasi pusat kendali tersebut mencakup kemampuan peramalan energi terbarukan dan analisis jaringan untuk membantu menjaga stabilitas serta keamanan sistem.
Pengembangan smart grid juga semakin relevan karena konsumsi listrik Indonesia dipengaruhi oleh pertumbuhan kendaraan listrik, data center, industri, dan sumber energi terdistribusi.
Bagaimana dengan Smart Grid di Asia?
Tantangan serupa juga dihadapi negara-negara Asia lainnya. Pertumbuhan kebutuhan energi dan penggunaan energi terbarukan membuat jaringan listrik harus semakin fleksibel.
Di kawasan ASEAN, investasi pada smart grid diperkirakan dapat membantu menghindari kerugian ekonomi akibat gangguan listrik.
Pengembangan jaringan digital juga membuka peluang terciptanya ratusan ribu lapangan kerja baru di bidang teknik, konstruksi, teknologi informasi, dan operasional.
Sejumlah negara, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Indonesia, telah menjalankan strategi atau proyek percontohan smart grid, mulai dari smart metering dan demand response hingga penguatan keamanan siber.
Kerja sama regional juga menjadi penting karena sistem kelistrikan ASEAN pada masa depan akan semakin membutuhkan interkoneksi, standar teknologi yang selaras, serta pertukaran pengetahuan antarnegara.
Manfaat Smart Grid
Penerapan smart grid memberikan sejumlah manfaat bagi sistem kelistrikan maupun konsumen.
1. Bagi Sistem Kelistrikan
Smart grid dapat membantu mengurangi pemborosan energi, mempercepat deteksi gangguan, meningkatkan keandalan jaringan, serta mendukung integrasi energi terbarukan.
Teknologi ini juga membantu penyedia listrik memahami pola konsumsi secara lebih akurat sehingga distribusi energi dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
2. Bagi Konsumen
Bagi rumah tangga dan pengguna listrik, smart grid dapat memberikan informasi konsumsi energi secara lebih cepat. Data tersebut dapat membantu konsumen memahami kebiasaan penggunaan listrik dan mencari cara untuk menghemat energi.
Dalam jangka panjang, sistem ini juga dapat mendukung perkembangan smart home, pengisian kendaraan listrik, hingga penggunaan energi yang lebih efisien.
Baca Juga: Mengapa Transisi Energi Indonesia Tidak Bisa Ditunda dan Apa Saja Tantangannya?
Peran TBS dalam Masa Depan Smart Grid di Indonesia
Transformasi sistem energi tidak hanya membutuhkan modernisasi jaringan listrik, tetapi juga perkembangan ekosistem kendaraan listrik. Di Indonesia, TBS turut mengambil peran melalui pengembangan mobilitas listrik bersama berbagai mitra.
Pada 2021, TBS bersama GoTo Group mendirikan PT Energi Kreasi Bersama (Electrum) untuk membangun ekosistem mobilitas listrik terintegrasi.
Ekosistem tersebut mencakup perakitan kendaraan, teknologi baterai, battery swapping, stasiun pengisian, hingga pembiayaan.
Pada Februari 2022, peluncuran ekosistem kendaraan listrik kolaboratif bersama Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits, diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo.
Dalam KTT G20 dan B20 Bali di tahun yang sama, Electrum menyediakan 50 motor listrik, 11 shelter, serta 150 mitra driver Gojek untuk mendukung mobilitas delegasi.
Kemudian, di Desember 2024, Electrum memperoleh pendanaan US$15 juta dari Asian Development Bank, Australian Climate Finance Partnership, dan Bank DBS Indonesia.
Pendanaan tersebut digunakan untuk mempercepat pengadaan kendaraan dan memperluas jaringan battery swapping, yang diproyeksikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 123.000 ton per tahun.
Electrum juga meluncurkan H3i pada Oktober 2024 di IMOS dengan pilihan pengisian di rumah maupun melalui jaringan swapping. Setahun kemudian, Electrum menghadirkan model H1 untuk memberikan pilihan kendaraan listrik yang lebih beragam.
Hingga 2025, Electrum telah memiliki lebih dari 500 Battery Swapping Station yang mendukung lebih dari 15.000 motor listrik di Jakarta dan sekitarnya.
Total penukaran baterai mencapai lebih dari 19.000 kali per hari, sedangkan emisi yang dihindari tercatat lebih dari 3.200 ton CO₂.
Transformasi tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan energi, penyedia teknologi, lembaga riset, dan pelaku industri.
Melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan teknologi pendukungnya, TBS menjadi salah satu pihak yang turut mendorong terwujudnya transisi energi Indonesia menuju sistem yang lebih bersih dan berkelanjutan.