tbs

Kelola sampah secara ramah lingkungan menjadi semakin penting di tengah meningkatnya volume limbah di Asia, termasuk Indonesia, yang membutuhkan solusi dari pengurangan, pemilahan, daur ulang, hingga pengolahan menjadi sumber daya baru.

Strategi pengelolaan sampah yang tepat tidak hanya membantu mengurangi pencemaran, tetapi juga dapat mendukung ekonomi sirkular, menghemat sumber daya, dan menciptakan nilai baru dari limbah.

Pertumbuhan penduduk, aktivitas industri, serta perkembangan e-commerce membuat jumlah sampah terus meningkat. Karena itu, pengelolaan sampah tidak lagi cukup mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA).

Dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan melibatkan masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, serta teknologi pengolahan limbah.

Tantangan Kelola Sampah di Asia

Asia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Di kawasan Asia Pasifik, jumlah sampah yang dihasilkan diproyeksikan meningkat dari sekitar 802 juta ton pada 2016 menjadi 1,1 miliar ton pada 2030.

Sementara itu, volume sampah di Asia Tenggara mencapai sekitar 150 juta ton pada 2016 dan diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030.

Pertumbuhan tersebut membuat kebutuhan terhadap sistem kelola sampah yang berkelanjutan semakin mendesak.

Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyumbat saluran air, memperparah banjir, mencemari sungai dan laut, serta menimbulkan berbagai masalah lingkungan.

Di Indonesia, tantangan tersebut juga berkaitan dengan karakteristik sampah yang beragam dan masih bercampurnya berbagai jenis limbah. Kondisi ini membuat pemilahan dari sumber menjadi salah satu langkah penting sebelum sampah masuk ke tahap pengolahan.

Strategi Kelola Sampah Ramah Lingkungan

Untuk menjawab tantangan peningkatan volume limbah, diperlukan strategi kelola sampah yang tidak hanya berfokus pada pembuangan, tetapi juga mencakup pengurangan, pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pengolahan menjadi sumber daya baru.

1. Menerapkan Prinsip 3R

Langkah dasar dalam mengelola sampah adalah menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle atau 3R.

Reduce berarti mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Contohnya adalah memilih produk dengan kemasan minimal, menggunakan dokumen digital, dan menghindari barang sekali pakai jika tersedia alternatif yang dapat digunakan berulang kali.

Reuse dilakukan dengan memperpanjang masa pakai barang. Wadah kaca, misalnya, dapat digunakan kembali untuk menyimpan makanan atau barang lainnya.

Sementara itu, recycle berarti mengolah material bekas menjadi bahan atau produk baru. Pemilahan sampah menjadi penting agar material seperti plastik, kertas, kaca, dan logam dapat lebih mudah didaur ulang.

2. Mengolah Sampah Organik melalui Kompos

Sampah organik dari dapur dan taman dapat diolah menjadi kompos. Proses ini membantu mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke TPA sekaligus menghasilkan material yang bermanfaat bagi tanah.

Kompos dapat dibuat dengan menggabungkan bahan kaya nitrogen, seperti sisa sayuran dan ampas kopi, dengan bahan kaya karbon, seperti daun kering dan kardus.

Dengan kelembapan dan aerasi yang tepat, sampah organik dapat terurai menjadi kompos yang dapat digunakan untuk taman atau ruang hijau.

3. Memilah Sampah dari Sumber

Pemilahan dari sumber atau source separation merupakan bagian penting dalam strategi pengelolaan sampah. Sampah dapat dipisahkan berdasarkan jenisnya, seperti organik, plastik, kertas, kaca, dan logam.

Sistem ini membantu mengurangi kontaminasi material sehingga proses daur ulang dapat berjalan lebih efektif. Penerapannya dapat dimulai dari rumah, sekolah, kantor, fasilitas publik, hingga kawasan industri.

Edukasi juga diperlukan agar masyarakat memahami jenis sampah dan cara membuangnya. Semakin konsisten pemilahan dilakukan, semakin besar peluang material untuk dipulihkan dan dimanfaatkan kembali.

4. Menggunakan Teknologi Pengolahan Sampah

Perkembangan teknologi membuka berbagai pilihan untuk mengelola sampah secara lebih efektif.

Teknologi pemilahan berbasis kecerdasan buatan (AI), robot pemilah, pengomposan modern, hingga fasilitas waste-to-energy (WTE) menjadi beberapa contoh inovasi yang berkembang.

WTE memanfaatkan sampah sebagai sumber energi melalui proses pengolahan tertentu. Pendekatan ini dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus menghasilkan energi.

Namun, tidak ada satu teknologi yang cocok untuk semua wilayah. Pemilihannya perlu mempertimbangkan jenis sampah, kadar air, nilai kalor, jumlah sampah, regulasi, kondisi geografis, serta aspek ekonomi.

Di Asia Tenggara, misalnya, sampah perkotaan sering memiliki kadar air yang tinggi.

Karena itu, pengolahan biologis seperti anaerobic digestion atau pengomposan dapat menjadi pilihan untuk sampah yang dominan organik. Sementara itu, material dengan nilai kalor tertentu dapat diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).

Peran Masyarakat dalam Mengelola Sampah

Teknologi saja tidak cukup untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Partisipasi masyarakat tetap menjadi bagian penting.

Kegiatan seperti kerja bakti, pembersihan sungai, penghijauan, bank sampah, serta edukasi mengenai pemilahan dapat membangun kesadaran dan tanggung jawab bersama.

Pelaku usaha juga dapat berkontribusi dengan mengurangi penggunaan kemasan berlebihan, menggunakan material daur ulang, dan memastikan limbah operasional ditangani sesuai ketentuan.

Pengelolaan Limbah Terintegrasi TBS di Asia Tenggara

Upaya kelola sampah juga membutuhkan sistem yang terintegrasi dan mampu menangani berbagai jenis limbah. Di kawasan Asia Tenggara, TBS memperkuat kapabilitasnya melalui pengembangan layanan pengelolaan limbah di Indonesia dan Singapura.

Langkah tersebut dimulai pada 2023 melalui akuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH, yang memiliki kapabilitas dalam pengelolaan limbah medis, limbah B3, limbah rumah tangga, serta limbah elektronik.

Kedua entitas kemudian dikonsolidasikan di bawah PT Solusi Bersih TBS (SBT) sebagai sub-holding khusus pengelolaan limbah.

Pada Maret 2025, TBS memperkuat kehadirannya di Singapura dengan menyelesaikan akuisisi penuh Sembcorp Environment (SembEnviro). Perusahaan tersebut memiliki keahlian dalam pengelolaan sampah kota, daur ulang, dan solusi lingkungan.

Selanjutnya, pada September 2025, SembEnviro resmi berganti nama menjadi CORA Environment.

Identitas baru tersebut menyatukan unit-unit pengelolaan limbah TBS dalam satu merek dan memperkuat ambisi perusahaan dalam menghadirkan solusi waste-to-resource di Asia Tenggara.

Bersama AMES, ARAH, dan CORA, TBS menjalankan roadmap TBS2030 yang berfokus pada target keberlanjutan, pengurangan dampak lingkungan, dan penciptaan nilai jangka panjang.

Saat ini, TBS memiliki 5 fasilitas pengelolaan limbah yang berlokasi di Indonesia dan Singapura. Sepanjang 2025, total limbah yang diproses mencapai lebih dari 970.000 ton, sedangkan layanan TBS telah menjangkau lebih dari 475.000 pelanggan aktif.

Jadi, strategi kelola sampah ramah lingkungan perlu dilakukan dari hulu hingga hilir.

Semuanya bisa dimulai dari mengurangi sampah, menggunakan kembali barang, memilah material, mendaur ulang, mengolah sampah organik, hingga memanfaatkan teknologi untuk memulihkan sumber daya.

Di tengah peningkatan volume limbah di Asia, pendekatan terintegrasi menjadi semakin penting.

Melalui AMES, ARAH, CORA Environment, PT Solusi Bersih TBS, serta roadmap TBS2030, TBS terus memperkuat perannya dalam menghadirkan solusi pengelolaan limbah yang mendukung lingkungan dan ekonomi sirkular di Asia Tenggara.