tbs

Dampak emisi terhadap kota semakin nyata seiring pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya kebutuhan energi, sehingga kota perlu bertransformasi menjadi kawasan yang lebih hijau dan tahan terhadap perubahan iklim.

Dari pengembangan bangunan hemat energi, transportasi tangguh, hingga perluasan energi terbarukan, berbagai upaya perlu dilakukan sejak sekarang agar pertumbuhan kota di Asia, termasuk Indonesia, tidak semakin memperburuk krisis iklim.

Kota memang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan tempat jutaan orang tinggal serta bekerja. Namun, konsentrasi penduduk dan aktivitas ekonomi juga membuat konsumsi energi dan produksi emisi semakin tinggi.

Saat ini, kawasan perkotaan diperkirakan menyumbang sekitar 75% emisi CO2 dunia. Jika tidak dikelola dengan baik, pertumbuhan kota dapat memperbesar risiko gelombang panas, banjir, badai, serta berbagai dampak perubahan iklim lainnya.

Dampak Emisi Membuat Kota Berada di Garis Depan Krisis Iklim

Diperkirakan sekitar 85% populasi dunia akan tinggal di wilayah perkotaan pada 2100. Banyak kota nantinya dapat dihuni jutaan hingga sekitar 10 juta penduduk.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap listrik, transportasi, bangunan, air, dan infrastruktur lainnya semakin besar.

Salah satu persoalan utama berasal dari pembangunan. Beton dan besi membutuhkan energi besar dalam produksinya, sedangkan minyak dan gas masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi di banyak negara.

Menurut laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), emisi gas rumah kaca yang berkaitan dengan konstruksi dan operasional bangunan meningkat sekitar 50% sejak 1990.

Karena itu, sektor bangunan dan energi perlu mempercepat dekarbonisasi agar target iklim global dapat tercapai.

Kabar baiknya, hampir 60% bangunan yang diperkirakan akan memenuhi kota-kota dunia pada 2050 belum dibangun. Ini berarti masih ada kesempatan untuk merancang bangunan yang lebih hemat energi dan rendah emisi sejak awal.

Baca Juga: Perubahan Iklim adalah Tanggung Jawab Bersama, Lalu Apa Peran Industri?

Strategi Kota Menghadapi Perubahan Iklim

Kota tidak cukup hanya mengurangi emisi. Infrastruktur juga harus disiapkan agar mampu menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

1. Memperbanyak Ruang Hijau dan Pohon

Pohon dapat membantu menurunkan suhu kawasan perkotaan melalui naungan dan proses evapotranspirasi.

Kehadiran ruang hijau juga menjadi salah satu cara mengurangi efek urban heat island, yaitu kondisi ketika kawasan kota lebih panas dibandingkan daerah sekitarnya.

Austin, Amerika Serikat, misalnya, menargetkan peningkatan tutupan pohon hingga 50%, terutama di kawasan masyarakat berpenghasilan rendah yang mengalami kehilangan pohon lebih besar.

Bagi kota-kota Asia yang mengalami pertumbuhan pesat, peningkatan ruang terbuka hijau dapat menjadi langkah sederhana untuk membuat lingkungan perkotaan lebih nyaman sekaligus membantu menyerap karbon.

2. Mengembangkan Bangunan Hemat Energi

Bangunan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi emisi. Bangunan yang dirancang dengan insulasi baik, sistem pendingin efisien, pencahayaan LED, dan ventilasi yang tepat dapat mengurangi penggunaan energi.

Bangunan hemat energi juga memberikan manfaat ekonomi karena konsumsi listrik dan biaya operasional dapat ditekan. Karena itu, konsep bangunan hijau sebaiknya tidak hanya diterapkan pada gedung baru, tetapi juga melalui renovasi bangunan lama.

3. Membuat Infrastruktur Lebih Tahan Bencana

Perubahan iklim meningkatkan risiko banjir, hujan ekstrem, badai, dan kenaikan muka air laut. Kota membutuhkan bangunan dan infrastruktur yang mampu menghadapi kondisi tersebut.

Jepang dapat menjadi salah satu contoh. Negara tersebut memiliki standar bangunan yang dirancang untuk menghadapi gempa dan bencana lainnya.

Penguatan bangunan lama, sistem isolasi seismik, hingga infrastruktur pengendalian banjir menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketahanan kota.

4. Mengelola Air Hujan dengan Solusi Berbasis Alam

Banjir yang melanda berbagai wilayah di Asia menunjukkan pentingnya sistem pengelolaan air yang lebih baik. Ruang hijau, taman penampung air, dan infrastruktur alami dapat digunakan untuk menahan air hujan sementara sebelum dialirkan secara bertahap.

Pendekatan ini dapat membantu kota mengurangi tekanan terhadap sistem drainase sekaligus menyediakan ruang hijau bagi masyarakat.

5. Membangun Transportasi yang Tangguh dan Rendah Emisi

Transportasi publik memiliki peran ganda, yaitu menjaga mobilitas masyarakat ketika terjadi bencana sekaligus mengurangi emisi dari kendaraan pribadi.

Pengalaman New York setelah Hurricane Sandy menunjukkan pentingnya sistem transportasi yang tangguh.

Sistem kereta bawah tanah diperkuat dengan perlindungan banjir dan peningkatan infrastruktur agar dapat kembali beroperasi lebih cepat ketika terjadi cuaca ekstrem.

Bagi kota-kota Asia yang padat, pengembangan transportasi publik rendah emisi menjadi semakin penting untuk mengendalikan pertumbuhan emisi sekaligus menjaga mobilitas masyarakat.

6. Memulihkan Ekosistem Pesisir

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, mangrove memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan iklim. Hutan mangrove dapat membantu melindungi garis pantai dari gelombang, banjir, dan erosi, sekaligus menjadi habitat berbagai jenis biota.

Mangrove juga mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar. Artinya, perlindungan ekosistem pesisir dapat memberikan manfaat adaptasi sekaligus membantu mitigasi perubahan iklim.

Asia Membutuhkan Berbagai Jalur Menuju Net Zero

Asia menghadapi tantangan yang kompleks. Kawasan ini menyumbang lebih dari separuh emisi dunia, tetapi pada saat yang sama masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi dan energi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena kondisi setiap negara berbeda, transisi energi tidak bisa menggunakan satu pola yang sama. Inisiatif seperti Asia Zero Emission Community (AZEC) mendorong negara-negara Asia bekerja sama mengembangkan berbagai jalur menuju emisi nol.

Jepang mengusung prinsip “One Goal, Various Pathways”, yaitu satu tujuan bersama dengan jalur yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara.

Kerja sama tersebut mencakup teknologi dekarbonisasi, hidrogen dan amonia, carbon capture, utilization, and storage (CCUS), rantai pasok hijau, serta pembiayaan transisi.

Sementara itu, Southeast Asia Energy Transition Coalition (SETC) menjadi contoh kolaborasi masyarakat sipil dan lembaga pemikir dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, dan Filipina untuk mendorong transisi energi di Asia Tenggara.

Baca Juga: Dampak Pembakaran Sampah: Bahaya bagi Kesehatan, Lingkungan, dan Solusinya

Bersama TBS, Indonesia Perlu Mempercepat Energi Terbarukan

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengurangi dampak emisi melalui pengembangan energi terbarukan. Selain tenaga surya, potensi tenaga air dan angin dapat menjadi bagian dari bauran energi yang lebih bersih.

Salah satu upaya tersebut dilakukan TBS melalui ekspansi strategis ke sektor energi terbarukan.

Pada 2020, melalui anak perusahaan PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang PLTM berkapasitas 2 x 3 MW di Lampung.

Proyek tersebut mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 sehingga menyumbang 6 MW energi bersih bagi wilayah Sumatera Bagian Selatan.

PLTM juga memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan akses listrik, dan pelestarian lingkungan.

Selain itu, TBS juga mengembangkan PLTS Terapung Tembesi berkapasitas 46 MWp di Batam. Proyek ini telah mencapai financial closing pada 2024 dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial serta terhubung dengan jaringan listrik nasional pada 2026.

Proyek tersebut diharapkan membantu mengurangi emisi karbon, meningkatkan kualitas udara lokal, menciptakan lapangan kerja hijau, serta mendorong alih teknologi dan kolaborasi dengan masyarakat setempat.

Dengan kolaborasi pemerintah, dunia usaha seperti TBS, masyarakat, dan berbagai pihak di kawasan Asia, kota-kota masa depan dapat tetap tumbuh tanpa harus mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

Jadi, net zero bukan sekadar target, tetapi proses panjang untuk memastikan kota tetap layak huni bagi generasi berikutnya.