tbs

Perubahan iklim adalah tanggung jawab bersama, tetapi industri memiliki peran besar karena aktivitas produksi, penggunaan energi, dan rantai pasok menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah signifikan.

Di tengah pertumbuhan ekonomi Asia dan kebutuhan energi yang terus meningkat, industri perlu mempercepat penggunaan energi bersih, meningkatkan efisiensi, serta berkolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat untuk membangun ekonomi rendah karbon.

Perubahan iklim bukan lagi persoalan yang hanya dibicarakan dalam forum internasional. Dampaknya semakin terasa melalui cuaca ekstrem, perubahan pola musim, kenaikan suhu, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan dan ekonomi.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi siapa yang paling bertanggung jawab, melainkan bagaimana setiap pihak dapat mengambil bagian dalam mengurangi emisi.

Mengapa Perubahan Iklim Menjadi Tanggung Jawab Bersama?

Karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca lainnya menumpuk di atmosfer dan menyebabkan bumi semakin hangat. Namun, menentukan siapa yang harus bertanggung jawab tidak sesederhana melihat negara dengan emisi terbesar.

Jika dilihat dari emisi saat ini, negara seperti China, Amerika Serikat, dan India termasuk penyumbang emisi terbesar.

Namun, jika dihitung berdasarkan emisi historis sejak Revolusi Industri, urutannya dapat berbeda. Perhitungan juga akan berubah jika emisi dihitung berdasarkan jumlah penduduk, penggunaan lahan, atau ukuran ekonomi suatu negara.

Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan persoalan yang kompleks.

Negara maju memiliki sejarah emisi yang panjang, sedangkan negara berkembang masih membutuhkan energi dan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam Paris Agreement adalah “common but differentiated responsibilities”. Artinya, semua negara memiliki tanggung jawab menghadapi perubahan iklim, tetapi kontribusi dan kemampuan masing-masing negara dapat berbeda.

Baca Juga: Dampak Pembakaran Sampah: Bahaya bagi Kesehatan, Lingkungan, dan Solusinya

Peran Industri dalam Mengurangi Emisi

Industri menjadi salah satu pihak penting dalam upaya mengurangi emisi. Perusahaan tidak hanya menggunakan energi dalam proses produksi, tetapi juga berhubungan dengan transportasi, bahan baku, distribusi, hingga konsumsi produk.

Pengurangan emisi industri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, seperti meningkatkan efisiensi energi dan menggunakan energi terbarukan.

1. Efisiensi Energi sebagai Langkah Awal

Salah satu langkah yang relatif mudah dimulai adalah meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Mesin yang lebih efisien, sistem produksi yang hemat energi, serta pemanfaatan teknologi dapat membantu perusahaan menggunakan lebih sedikit energi untuk menghasilkan produk yang sama.

Langkah ini juga memberikan manfaat ekonomi. Ketika konsumsi energi turun, biaya operasional perusahaan dapat ikut berkurang. Dengan demikian, upaya mengurangi emisi tidak selalu berarti menambah beban bisnis, tetapi dapat menjadi investasi jangka panjang.

2. Membangun Industri dengan Energi Terbarukan

Selain efisiensi, industri perlu meningkatkan penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya, air, dan angin. Energi bersih dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendukung ketahanan energi.

Pendekatan ini semakin penting di Asia Tenggara. Kawasan ini diproyeksikan menyumbang sekitar 25% pertumbuhan permintaan energi dunia dalam 10 tahun mendatang, terutama karena sektor manufakturnya berkembang pesat.

Artinya, keputusan industri Asia Tenggara saat ini akan berpengaruh terhadap upaya dunia mencapai target pengurangan emisi.

Asia Tenggara Punya Peran Strategis

Asia Tenggara berada pada persimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan transisi energi. Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Thailand, misalnya, memiliki sektor manufaktur yang berkembang serta potensi besar dalam industri teknologi bersih.

Kawasan ini juga memiliki modal penting untuk menjadi pusat industri hijau, mulai dari sumber daya mineral kritis, potensi energi terbarukan, kemampuan manufaktur, hingga tenaga kerja terampil.

Indonesia memiliki posisi strategis karena memiliki sumber daya mineral yang dibutuhkan untuk pengembangan kendaraan listrik dan rantai pasok baterai.

Pada saat yang sama, Indonesia juga menghadapi tantangan besar dalam mengurangi emisi dari sektor energi, industri, dan perubahan penggunaan lahan.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Satu perusahaan atau pemerintah tidak mungkin menyelesaikan persoalan perubahan iklim sendirian. Dibutuhkan kerja sama antara pemerintah, industri, investor, masyarakat, dan organisasi lingkungan.

Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah kawasan industri rendah emisi. Perusahaan dalam satu kawasan dapat berbagi infrastruktur energi bersih, menggunakan sumber energi terbarukan bersama, dan membangun rantai pasok yang lebih efisien.

Model seperti ini dapat membantu membagi biaya dan risiko sehingga transisi menuju industri rendah karbon menjadi lebih realistis.

Peran Indonesia dalam Transisi Energi

Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas penggunaan energi terbarukan. Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya, air, dan sumber energi bersih lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan energi sekaligus menekan emisi.

Namun, transisi energi membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Karena itu, pendanaan menjadi salah satu tantangan utama, terutama bagi negara berkembang yang pada saat bersamaan masih membutuhkan pembangunan infrastruktur dan peningkatan akses energi.

Dukungan pemerintah, investasi swasta, kerja sama internasional, dan pembiayaan hijau perlu berjalan bersama.

Dengan begitu, pembangunan ekonomi dapat terus berlangsung tanpa harus mengulang pola pembangunan yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Baca Juga: Apa Itu Jejak Karbon? Arti, Penyebab, Dampak, dan Upaya Menguranginya

TBS dan Komitmen Memperluas Energi Terbarukan

Salah satu contoh langkah nyata di Indonesia adalah pengembangan proyek energi terbarukan oleh TBS. Perusahaan ini secara strategis memperluas portofolionya di sektor energi bersih melalui sejumlah proyek pembangkit listrik.

Pada 2020, melalui anak perusahaan PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang PLTM 2x3 MW di Lampung.

Proyek AEH kemudian mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dan menyumbang 6 MW energi bersih untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan.

Pembangkit listrik tenaga air juga memiliki keunggulan sebagai sumber energi yang relatif stabil sehingga dapat melengkapi sumber energi yang bersifat intermiten, seperti surya dan angin.

Proyek ini turut memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan akses listrik, dan upaya pelestarian lingkungan.

Selain itu, TBS juga mengakuisisi PT Bayu Alam Sejahtera (BAS), yang tengah menjajaki potensi tenaga angin di Nusa Tenggara Timur.

Lalu, TBS juga mengembangkan PLTS Terapung Tembesi di Batam dengan kapasitas 46 MWp. Proyek ini telah mencapai financial closing pada 2024 dan ditargetkan beroperasi komersial penuh serta terhubung dengan jaringan listrik nasional pada 2026.

Proyek PLTS terapung ini diharapkan memberikan manfaat lebih luas, mulai dari pengurangan emisi karbon dan perbaikan kualitas udara hingga penciptaan lapangan kerja hijau.

Proyek ini juga membuka peluang alih teknologi dan kolaborasi dengan masyarakat setempat.

Jadi, perubahan iklim memang membutuhkan tanggung jawab bersama, tetapi industri memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian dari solusi.

Efisiensi energi, pengembangan energi terbarukan, investasi teknologi bersih, serta kolaborasi antarpihak dapat membantu Asia, termasuk Indonesia, terus bertumbuh tanpa meningkatkan beban lingkungan secara berlebihan.

Melalui pengembangan energi terbarukan, seperti PLTM Sumberjaya di Lampung dan PLTS Terapung Tembesi di Batam, TBS menunjukkan bahwa transisi menuju energi yang lebih bersih dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi.

Upaya seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan sekaligus berkontribusi pada upaya global menghadapi perubahan iklim.