tbs

Green hydrogen menjadi salah satu solusi penting dalam transisi energi menuju masa depan rendah karbon karena mampu menghasilkan energi bersih tanpa emisi karbon saat diproduksi.

Dengan potensi energi terbarukan yang sangat besar, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan green hydrogen sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung target net zero emission.

Seiring meningkatnya kebutuhan energi, dunia tidak lagi hanya berfokus pada ketersediaan pasokan, tetapi juga pada keamanan energi (energy security) dan ketahanan energi (energy resilience).

Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, terutama yang berasal dari impor, membuat banyak negara mulai mempercepat pemanfaatan energi terbarukan.

Dalam konteks inilah green hydrogen menjadi salah satu teknologi yang diproyeksikan memainkan peran penting, khususnya bagi sektor industri, transportasi, hingga pembangkit listrik.

Apa Itu Green Hydrogen?

Green hydrogen adalah hidrogen yang diproduksi menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, air, angin, maupun panas bumi.

Berbeda dengan hidrogen yang dihasilkan dari bahan bakar fosil, proses produksi green hydrogen tidak menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂).

Hidrogen sendiri merupakan unsur paling melimpah di alam semesta. Namun, hidrogen tidak dapat diambil secara langsung dari alam sehingga harus diproduksi melalui proses tertentu.

Metode paling umum untuk menghasilkan green hydrogen adalah elektrolisis air. Dalam proses ini, arus listrik digunakan untuk memisahkan molekul air (H₂O) menjadi hidrogen (H₂) dan oksigen (O₂).

Apabila listrik yang digunakan berasal dari energi terbarukan, maka hidrogen yang dihasilkan juga termasuk energi bersih.

Selain elektrolisis, hidrogen juga dapat diproduksi melalui proses steam reforming menggunakan gas alam. Namun, metode ini menghasilkan gray hydrogen karena masih menghasilkan emisi karbon.

Alternatif yang lebih ramah lingkungan adalah mengganti gas alam dengan biomethane yang berasal dari limbah organik.

Menurut International Energy Agency (IEA), produksi hidrogen berbasis bahan bakar fosil menghasilkan sekitar 830 juta ton CO₂ setiap tahun. Oleh karena itu, pengembangan green hydrogen dinilai menjadi langkah penting dalam mengurangi emisi global.

Baca juga: Potensi Energi Hidrogen untuk Masa Depan Energi Bersih di Indonesia

Mengapa Green Hydrogen Penting?

Green hydrogen memiliki berbagai keunggulan yang membuatnya dipandang sebagai salah satu energi masa depan.

1. Mendukung Dekarbonisasi

Green hydrogen tidak menghasilkan emisi karbon selama proses produksinya maupun ketika digunakan sebagai bahan bakar.

Karena itu, teknologi ini berpotensi membantu berbagai sektor yang sulit dielektrifikasi, seperti industri berat, pelayaran, hingga penerbangan.

2. Mudah Disimpan

Energi dari matahari dan angin bersifat intermiten karena bergantung pada kondisi cuaca. Green hydrogen dapat menjadi media penyimpanan energi sehingga listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan dapat dimanfaatkan kembali saat dibutuhkan.

3. Memiliki Banyak Aplikasi

Green hydrogen dapat diubah menjadi listrik, bahan bakar sintetis, maupun digunakan sebagai bahan baku industri, seperti produksi amonia, baja, keramik, hingga transportasi.

Meski demikian, pengembangan green hydrogen masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain:

  • Biaya produksi yang masih relatif tinggi.
  • Membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar untuk proses elektrolisis.
  • Hidrogen bersifat sangat mudah terbakar sehingga memerlukan standar keamanan yang tinggi dalam penyimpanan dan distribusinya.

Namun, berbagai lembaga internasional memperkirakan biaya produksi green hydrogen akan terus menurun seiring semakin murahnya biaya pembangkitan energi terbarukan.

Potensi Green Hydrogen di Indonesia Sangat Besar

Indonesia termasuk negara yang memiliki peluang besar dalam pengembangan green hydrogen karena memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah.

Berdasarkan studi Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam proyek Green Energy Transition Indonesia (GETI), Indonesia memiliki potensi produksi green hydrogen hingga 345,6 juta ton per tahun dari sekitar 15.800 lokasi yang memiliki potensi energi terbarukan.

Meski demikian, tidak seluruh lokasi tersebut saat ini layak secara ekonomi. Sekitar 87% lokasi masih memiliki biaya produksi di atas USD12 per kilogram.

Sementara itu, sekitar 50,7 juta ton per tahun dinilai memiliki biaya produksi di bawah USD12 per kilogram sehingga lebih siap untuk dikembangkan.

Menurut IESR, biaya produksi yang paling stabil berasal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi. Sementara biaya produksi paling rendah berpotensi diperoleh dari pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga air.

Namun, pemilihan lokasi proyek tetap harus mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah, termasuk potensi energi dan kebutuhan industri setempat.

Di sisi permintaan, IESR memperkirakan kebutuhan hidrogen di Indonesia dapat mencapai 37,3 juta ton per tahun dalam skenario optimistis. Sektor kelistrikan dan pelayaran diproyeksikan menjadi pengguna terbesar.

Hasil analisis spasial IESR juga menunjukkan terdapat 14 klaster permintaan hidrogen di Indonesia. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah utama karena memiliki konsentrasi industri, pelabuhan, dan aktivitas ekonomi yang tinggi.

Sementara Kalimantan Timur memiliki potensi besar karena keberadaan industri pupuk yang dapat menjadi pengguna awal (anchor demand).

IESR juga menekankan bahwa harga listrik menjadi faktor utama yang menentukan biaya produksi green hydrogen.

Penurunan harga listrik hingga 60% diperkirakan mampu menurunkan harga hidrogen dari sekitar USD4 per kilogram menjadi sekitar USD2 per kilogram.

Karena itu, percepatan pembangunan pembangkit energi terbarukan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya saing green hydrogen di Indonesia.

Baca juga: Energi Bersih: Pengertian, Manfaat, Jenis, dan Contohnya di Indonesia

Bersama TBS Energi Utama, Mendorong Masa Depan Green Hydrogen dan Energi Terbarukan

Pengembangan green hydrogen tidak dapat dipisahkan dari semakin luasnya pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Semakin besar kapasitas energi bersih yang tersedia, semakin kompetitif pula biaya produksi green hydrogen di masa depan.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, TBS Energi Utama terus memperluas portofolio energi terbarukan melalui berbagai proyek strategis di Indonesia.

Pada 2020, melalui anak usahanya PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS Energi Utama mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 2×3 MW di Sumberjaya, Lampung, serta PT Bayu Alam Sejahtera (BAS) yang mengembangkan potensi energi angin di Nusa Tenggara Timur.

PLTM AEH berhasil mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025, sehingga mulai menyuplai 6 MW energi bersih untuk sistem kelistrikan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).

Selain menghasilkan listrik yang stabil, proyek ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan akses listrik, dan pelestarian lingkungan.

Selain itu, TBS Energi Utama juga mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Tembesi di Batam.

Proyek ini telah mencapai financial closing pada 2024 dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2026 sekaligus terhubung ke jaringan listrik nasional.

PLTS Terapung Tembesi diharapkan mampu mengurangi emisi karbon, meningkatkan kualitas udara, menciptakan lapangan kerja hijau, serta mendorong transfer teknologi dan kolaborasi dengan masyarakat setempat.

Melalui pengembangan berbagai proyek energi terbarukan tersebut, TBS Energi Utama tidak hanya berkontribusi dalam memperkuat bauran energi bersih nasional, tetapi juga membantu menciptakan fondasi yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan green hydrogen di Indonesia.

Dengan semakin luasnya pemanfaatan energi terbarukan, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem energi yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan bersama TBS Energi Utama.