tbs

Pembangunan PLTS menjadi salah satu program energi terbesar yang pernah dirancang Indonesia dengan target mencapai kapasitas 100 GW dalam tiga tahun.

Jika berhasil direalisasikan, program ini tidak hanya mempercepat transisi energi bersih, tetapi juga membuka peluang pemerataan listrik, pertumbuhan ekonomi daerah, dan investasi hijau dalam skala besar.

Pemerintah Indonesia saat ini tengah menyusun berbagai strategi untuk mewujudkan target tersebut.

Selain memperluas pemanfaatan energi surya, pemerintah juga melakukan penyesuaian perencanaan kelistrikan nasional, memperkuat jaringan listrik, hingga mendorong kolaborasi dengan sektor swasta agar target ambisius ini dapat dicapai.

Baca Juga: Energi Baru dan Terbarukan: Belajar dari Negara-Negara yang Berhasil Bertransisi

Pembangunan PLTS 100 GW Jadi Langkah Besar Transisi Energi Indonesia

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan PLTS dengan kapasitas mencapai 100 GW dalam waktu tiga tahun.

Program ini menjadi salah satu inisiatif energi terbarukan terbesar dalam sejarah Indonesia sekaligus menjadi langkah penting menuju ketahanan energi nasional.

Rencana tersebut terdiri atas dua skema utama, yaitu:

  • Sekitar 80 GW PLTS skala desa yang dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) dan dikelola melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
  • Sekitar 20 GW PLTS yang akan terhubung langsung ke jaringan listrik nasional.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa pemerintah sedang menyesuaikan seluruh perencanaan kelistrikan nasional agar mampu mengakomodasi tambahan kapasitas energi surya tersebut.

Salah satu fokus utama pembangunan PLTS adalah mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga diesel, terutama di kawasan Indonesia Timur yang selama ini masih menghadapi biaya listrik tinggi.

Program ini juga menjadi bagian dari target pemerintah untuk mencapai elektrifikasi 100% pada tahun 2029.

Pada tahap awal, pemerintah berencana memprioritaskan pengembangan sekitar 13 GW terlebih dahulu, terutama di wilayah yang telah memiliki infrastruktur distribusi listrik memadai.

Selain itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa Danantara telah mengembangkan proyek percontohan PLTS berkapasitas 1 MW di Kabupaten Sumenep.

Prototipe tersebut akan dievaluasi bersama Kementerian ESDM dan Kementerian Pendidikan Tinggi sebelum diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah.

Tantangan Besar Mewujudkan Target Pembangunan PLTS

Meski memiliki potensi besar, target pembangunan PLTS hingga 100 GW dalam tiga tahun bukanlah pekerjaan mudah.

Saat ini kapasitas PLTS Indonesia masih berada di kisaran 1 GW. Artinya, Indonesia harus menambah sekitar 33 GW setiap tahun atau hampir 3 GW setiap bulan selama tiga tahun berturut-turut.

Sebagai perbandingan, banyak negara berkembang di Asia rata-rata hanya mampu menambah kapasitas PLTS sekitar 5–10 GW per tahun.

Menurut Dr. Dessy Rachmawatie, M.Si., pakar ekonomi energi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FEB UMY), target tersebut merupakan lompatan yang sangat besar dalam sejarah pembangunan energi Indonesia.

Ia menilai terdapat tiga tantangan utama yang perlu segera diselesaikan, yaitu:

  • Infrastruktur jaringan listrik yang masih terbatas.
  • Regulasi dan perizinan lahan yang masih kompleks.
  • Model bisnis yang mampu menarik investor sekaligus tetap menjaga kepentingan nasional.

Karena itu, pemerintah perlu melakukan reformasi regulasi, mempercepat proses perizinan, memperluas skema pembiayaan inovatif seperti blended finance, serta membuka peluang investasi yang lebih besar bagi sektor swasta dan mitra internasional.

Pemerintah sendiri memperkirakan kebutuhan investasi untuk program ini mencapai lebih dari US$100 miliar atau sekitar Rp1.767 triliun.

Sekitar 70% pendanaan diharapkan berasal dari Independent Power Producer (IPP) sehingga kolaborasi dengan sektor swasta menjadi faktor yang sangat penting.

Belajar dari Keberhasilan Tiongkok dalam Mengembangkan Energi Surya

Menurut Dessy, Indonesia dapat mengambil pelajaran dari keberhasilan Tiongkok membangun industri energi surya.

Tiongkok tidak langsung membangun kapasitas pembangkit dalam jumlah besar. Sebaliknya, negara tersebut lebih dahulu memperkuat industri dalam negeri melalui inovasi teknologi, pembiayaan, serta pengembangan rantai pasok.

Strategi tersebut akhirnya mampu menjadikan Tiongkok sebagai salah satu pemimpin industri panel surya dunia dalam waktu sekitar 25 tahun.

Indonesia dinilai saat ini masih berada pada tahap early adoption sehingga memiliki peluang untuk membangun fondasi industri energi terbarukan yang lebih kuat. Beberapa perkembangan positif sebenarnya sudah mulai terlihat, seperti:

  • Pengembangan PLTS terapung.
  • Peningkatan penggunaan PLTS atap pada sektor industri.
  • Pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu di Sulawesi.

Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, pembangunan PLTS tidak hanya menghasilkan listrik bersih, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa, membuka lapangan kerja hijau, mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Baca Juga: Energi Angin: Cara Kerja, Contoh Pemanfaatan, dan Tantangannya

Bersama TBS Energi Utama, Pembangunan PLTS dan Energi Terbarukan Terus Berkembang

Target pembangunan PLTS nasional akan semakin mudah dicapai apabila didukung oleh perusahaan yang secara konsisten mengembangkan proyek energi terbarukan di Indonesia.

Salah satunya adalah TBS Energi Utama, yang dalam beberapa tahun terakhir terus memperluas portofolio energi bersih melalui berbagai proyek strategis.

Pada sektor tenaga air, melalui anak usaha PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS Energi Utama mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH) pada 2020.

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 2 x 3 MW di Lampung tersebut resmi mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 sehingga kini menyuplai 6 MW listrik bersih ke sistem Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).

Masih pada 2020, TBS Energi Utama juga mengakuisisi PT Bayu Alam Sejahtra (BAS) untuk mengembangkan potensi pembangkit listrik tenaga bayu di Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai bagian dari diversifikasi energi terbarukan.

Di sektor energi surya, TBS Energi Utama tengah mengembangkan PLTS Terapung Tembesi di Batam dengan kapasitas 46 MWp.

Proyek ini telah mencapai Financial Closing pada 2024 dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2026, sekaligus terhubung ke jaringan listrik nasional.

Keberadaan PLTS terapung tersebut diharapkan mampu memberikan berbagai manfaat, mulai dari pengurangan emisi karbon, peningkatan kualitas udara, penciptaan lapangan kerja hijau, hingga mendorong transfer teknologi dan kolaborasi dengan masyarakat sekitar.

Berbagai pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi terbarukan tidak hanya menjadi wacana, tetapi telah diwujudkan melalui proyek nyata.

Dengan pengalaman mengembangkan PLTM 6 MW di Lampung, PLTS Terapung 46 MWp di Batam, serta eksplorasi energi angin di NTT, PT Toba Bara Sejahtra Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung transisi energi Indonesia.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan perusahaan seperti TBS Energi Utama akan menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan PLTS sekaligus mewujudkan sistem energi nasional yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan.