
Panel surya mengubah energi matahari menjadi listrik yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk mendukung kegiatan pertanian melalui konsep agrivoltaik.
Teknologi ini memungkinkan lahan digunakan untuk menghasilkan pangan sekaligus energi bersih, sehingga membuka peluang peningkatan pendapatan petani dan pemanfaatan lahan yang lebih efisien.
Selama ini, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kerap membutuhkan lahan yang luas. Kondisi tersebut dapat menimbulkan tantangan ketika lahan yang tersedia juga dibutuhkan untuk kegiatan pertanian.
Agrivoltaik hadir sebagai solusi yang menggabungkan kedua kebutuhan tersebut. Lantas, bagaimana cara kerjanya dan seberapa besar potensinya untuk diterapkan di Indonesia?
Mengenal Agrivoltaik dan Cara Kerjanya
Agrivoltaik atau agrivoltaics merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian dengan pembangkit listrik tenaga surya pada lahan yang sama.
Dalam penerapannya, panel surya dipasang pada ketinggian tertentu atau diberi jarak antarpanel agar tanaman tetap memperoleh sinar matahari yang cukup.
Dengan demikian, petani dapat terus membudidayakan tanaman sambil memanfaatkan energi listrik yang dihasilkan panel surya.
Baca Juga: Solar Panel untuk Industri: 10 Manfaat Energi Bersih
Bagaimana Panel Surya Mengubah Energi Matahari di Lahan Pertanian?
Pada sistem agrivoltaik, panel surya mengubah energi cahaya matahari menjadi listrik melalui teknologi fotovoltaik (PV). Ketika cahaya mengenai sel surya, energi tersebut menghasilkan arus listrik yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Sementara itu, sebagian cahaya matahari tetap mencapai tanaman melalui celah antarpanel atau ruang di bawah instalasi. Pengaturan posisi, ketinggian, dan kemiringan panel menjadi faktor penting agar produksi listrik tidak menghambat pertumbuhan tanaman.
Jenis Tanaman yang Cocok untuk Agrivoltaik
Tidak semua tanaman membutuhkan intensitas cahaya matahari yang sama. Oleh sebab itu, jenis tanaman yang dibudidayakan harus disesuaikan dengan intensitas cahaya matahari yang diterima di area bawah panel surya.
Beberapa tanaman yang berpotensi dikembangkan melalui sistem agrivoltaik antara lain:
- Sayuran hijau: bayam, selada, kangkung, dan sawi yang relatif toleran terhadap naungan parsial.
- Tanaman herbal: jahe, kunyit, serta beberapa tanaman rempah yang dapat tumbuh dalam kondisi cahaya tertentu.
- Sayuran buah: terong dan tomat dengan pengaturan pencahayaan sesuai kebutuhan pertumbuhannya.
- Tanaman pakan ternak: rumput yang dibudidayakan di sekitar instalasi panel surya.
Pemilihan tanaman tetap membutuhkan pengujian berdasarkan kondisi tanah, iklim, dan desain instalasi.
Manfaat Agrivoltaik bagi Pertanian dan Lingkungan
Penerapan agrivoltaik menawarkan berbagai keuntungan karena memungkinkan produksi pangan dan listrik berlangsung secara bersamaan.
1. Mengoptimalkan Penggunaan Lahan
Agrivoltaik mengurangi kebutuhan pemisahan lahan antara pertanian dan pembangkit listrik. Dengan satu kawasan yang memiliki dua fungsi, penggunaan lahan menjadi lebih efisien tanpa harus sepenuhnya mengorbankan kegiatan budidaya tanaman.
2. Membuka Peluang Pendapatan Tambahan
Selain memperoleh penghasilan dari hasil panen, petani berpeluang mendapatkan manfaat ekonomi dari produksi listrik.
Pendapatan tersebut dapat berasal dari pemanfaatan listrik untuk menekan biaya operasional maupun kerja sama penyewaan lahan kepada pengembang PLTS.
3. Menghemat Penggunaan Air
Naungan panel membantu mengurangi paparan panas langsung ke permukaan tanah sehingga penguapan air dapat ditekan.
Menurut kajian yang dikutip World Resources Institute (WRI), sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penerapan agrivoltaik berpotensi mengurangi penguapan air hingga 30% berkat naungan yang dihasilkan panel surya.
4. Mengurangi Biaya Operasional Pertanian
Listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengoperasikan pompa irigasi, penyimpanan hasil panen, dan peralatan pengolahan pertanian. Dengan begitu, ketergantungan terhadap bahan bakar diesel maupun listrik dari sumber konvensional berpotensi berkurang.
5. Mendukung Pengurangan Emisi Karbon
Selain meningkatkan efisiensi pertanian, sistem ini memperluas pemanfaatan energi terbarukan. Ketika panel surya mengubah energi matahari menjadi listrik, kebutuhan energi dari bahan bakar fosil dapat dikurangi sehingga membantu menekan emisi gas rumah kaca.
Perkembangan Agrivoltaik di Asia
Sejumlah negara di Asia mulai mengembangkan agrivoltaik untuk memenuhi kebutuhan energi bersih tanpa mengurangi lahan produksi pangan. Teknologi ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan listrik dan keterbatasan lahan pertanian.
China menjadi salah satu negara yang aktif menerapkan sistem agrivoltaik. Sejak 2011, negara tersebut telah mengembangkan lebih dari 500 proyek yang menggabungkan instalasi panel surya dengan pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan teh.
Sementara itu, Korea Selatan melihat agrivoltaik sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan karena sekitar 70% wilayahnya berupa pegunungan. Melalui sistem ini, lahan pertanian tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan sekaligus listrik.
Di Asia Tenggara, Indonesia dan Filipina juga memiliki potensi pengembangan yang besar berkat paparan sinar matahari yang melimpah. Namun, penerapannya masih membutuhkan dukungan regulasi, investasi, serta kerja sama dengan masyarakat setempat.
Pengalaman berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa teknologi panel surya mengubah energi matahari menjadi listrik dapat diintegrasikan dengan kegiatan pertanian untuk mendukung ketahanan pangan dan transisi energi secara bersamaan.
Potensi dan Tantangan Agrivoltaik di Indonesia
Seperti yang disebutkan, Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan agrivoltaik karena mendapatkan paparan sinar matahari sepanjang tahun dan memiliki sektor pertanian yang luas.
Salah satu contoh pengembangannya terdapat di Baron Technopark, Yogyakarta. Penelitian di kawasan tersebut menunjukkan bahwa sayuran seperti sawi dan terong dapat dibudidayakan dalam sistem yang terintegrasi dengan panel surya.
Meski demikian, penerapan agrivoltaik masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain:
- Biaya investasi: struktur panel yang lebih tinggi membutuhkan biaya pembangunan tambahan.
- Kesesuaian tanaman: pemilihan tanaman perlu memperhatikan tingkat toleransi terhadap naungan agar pertumbuhannya tetap optimal di bawah panel surya.
- Penyesuaian pertanian: sistem irigasi, penggunaan alat, dan pemeliharaan perlu direncanakan secara khusus.
- Regulasi: pengembangan proyek membutuhkan kepastian perizinan, pemanfaatan lahan, dan mekanisme penjualan listrik.
Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, perusahaan energi, institusi riset, dan masyarakat untuk mendukung penerapan agrivoltaik serta mengatasi berbagai kendala yang muncul.
Baca Juga: Pembangunan PLTS 100 GW di Indonesia, Bisakah Target 3 Tahun Tercapai?
Peran TBS dalam Mendukung Pengembangan Energi Terbarukan
Agrivoltaik menunjukkan bahwa produksi pangan dan energi bersih dapat berjalan berdampingan.
Pengembangan energi terbarukan di Indonesia juga mengedepankan penggunaan sumber daya secara efisien agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, TBS terus memperluas portofolio energi bersih melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga air dan tenaga surya.
Pengembangan dimulai pada 2020, saat TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), melalui PT Toba Bara Energi (TBAE).
AEH mengembangkan PLTM di Lampung dengan kapasitas total 6 MW melalui dua unit pembangkit masing-masing 3 MW. Proyek tersebut mulai beroperasi secara komersial pada 22 Januari 2025.
Pembangkit berkapasitas 6 MW ini mendukung pasokan listrik bersih di wilayah Sumatera Bagian Selatan, sekaligus memberikan manfaat melalui pengembangan infrastruktur, akses energi, dan pelestarian lingkungan.
Tak hanya AEH, akuisisi tersebut turut mencakup PT Bayu Alam Sejahtera (BAS), yang menjajaki potensi pengembangan energi angin di Nusa Tenggara Timur.
Lalu, di sektor tenaga surya, TBS juga mengembangkan PLTS Terapung Tembesi di Batam berkapasitas 46 MWp.
Proyek yang masih dalam tahap pembangunan ini telah mencapai financial closing pada 2024 dan ditargetkan mulai beroperasi komersial serta terhubung ke jaringan listrik nasional pada 2026.
Selain mengurangi emisi dan mendukung kualitas udara, pengembangannya diharapkan menciptakan lapangan kerja hijau, membuka peluang transfer teknologi, serta memperkuat kolaborasi dengan masyarakat setempat.
Melalui proyek-proyek tersebut, TBS berkomitmen untuk selalu berkontribusi dalam memperluas pemanfaatan energi terbarukan dan mendukung transisi energi Indonesia.