tbs

Ekosistem baterai kendaraan listrik mencakup seluruh proses, mulai dari penyediaan bahan baku, produksi, penggunaan, hingga daur ulang baterai.

Pengembangan ekosistem yang terintegrasi ini menjadi langkah penting untuk memperkuat industri kendaraan listrik sekaligus mendukung mobilitas berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai negara dengan cadangan nikel yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun industri baterai dari hulu hingga hilir. Upaya ini juga dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dalam negeri.

Lantas, bagaimana alur ekosistem baterai kendaraan listrik bekerja dan sejauh mana perkembangannya di Indonesia? Simak penjelasan berikut.

Apa Itu Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik?

Ekosistem baterai kendaraan listrik adalah rangkaian kegiatan yang saling terhubung, mulai dari penambangan mineral, pengolahan bahan baku, pembuatan baterai, hingga pemanfaatannya pada kendaraan listrik.

Ekosistem ini juga mencakup infrastruktur pengisian daya, penukaran baterai, penggunaan kembali, serta daur ulang baterai yang sudah tidak optimal.

Dari sisi ekonomi, pengembangan industri tersebut berpotensi membuka lapangan kerja, meningkatkan ekspor, dan mendorong pertumbuhan industri pendukung di Indonesia.

Baca Juga: Mengenal Battery Management System untuk Keamanan Kendaraan Listrik

Bagaimana Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Bekerja?

Secara umum, ekosistem baterai kendaraan listrik berjalan melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan.

1. Penyediaan Bahan Baku

Proses dimulai dari penambangan mineral seperti nikel, kobalt, mangan, dan litium. Indonesia sendiri memiliki sumber daya nikel yang antara lain tersebar di Maluku Utara dan Sulawesi.

2. Pengolahan Mineral

Mineral hasil tambang kemudian dimurnikan menjadi bahan yang memenuhi kebutuhan industri baterai. Tahapan ini berlangsung di fasilitas pengolahan atau smelter.

3. Produksi Baterai

Material yang telah diproses digunakan untuk membuat sel baterai, kemudian dirangkai menjadi paket baterai yang siap dipasang pada kendaraan listrik.

4. Penggunaan dan Infrastruktur Pendukung

Setelah digunakan pada kendaraan, baterai membutuhkan pengisian daya melalui charging station atau penukaran melalui fasilitas battery swapping.

5. Penggunaan Kembali dan Daur Ulang

Baterai yang mengalami penurunan performa dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain apabila masih layak. Sementara itu, baterai yang tidak dapat digunakan lagi diproses untuk memperoleh kembali material berharganya.

Dari Bahan Baku hingga Menjadi Baterai Kendaraan Listrik

Meski bermanfaat untuk memproduksi baterai, tetapi bijih nikel hasil pertambangan tidak bisa langsung digunakan. Mineral tersebut harus melalui pengolahan dan pemurnian hingga memenuhi standar industri.

Proses ini berkaitan erat dengan kebijakan hilirisasi Indonesia yang bertujuan meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.

Melalui larangan ekspor bijih nikel mentah dan pengembangan fasilitas pengolahan, Indonesia berupaya memperluas kegiatan industri dari pertambangan menuju produksi material serta baterai siap pakai.

Dengan demikian, manfaat ekonomi yang akan dirasakan tidak hanya berasal dari penjualan bahan mentah, tetapi juga dari kegiatan manufaktur dan industri pendukung.

Peran Charging dan Battery Swapping

Infrastruktur pengisian dan penukaran baterai menjadi bagian penting dalam mendukung penggunaan kendaraan listrik sehari-hari. Keduanya memberikan sejumlah manfaat bagi pengguna maupun pengembangan industri, antara lain:

  • Mengurangi kekhawatiran kehabisan daya: pengguna lebih mudah menemukan fasilitas pengisian atau penukaran baterai.
  • Mempercepat penggantian baterai: khusus motor listrik, battery swapping memungkinkan pengguna menukar baterai tanpa menunggu pengisian.
  • Mendukung keterjangkauan kendaraan: skema sewa baterai dapat mengurangi harga pembelian awal kendaraan.
  • Memantau kondisi baterai: operator swapping dapat mengawasi performa baterai dan menarik unit yang tidak lagi memenuhi standar penggunaan.

Apa yang Terjadi Saat Baterai Tidak Lagi Optimal?

Penurunan kapasitas baterai tidak selalu berarti baterai harus langsung dibuang. Terdapat dua jalur pengelolaan yang dapat dilakukan berdasarkan kondisi baterai.

1. Penggunaan Kembali (Second Life)

Baterai yang masih layak dapat dimanfaatkan sebagai sistem penyimpanan energi untuk panel surya, sumber listrik cadangan bangunan, atau fasilitas pengisian kendaraan listrik.

2. Daur Ulang Baterai

Apabila sudah tidak layak digunakan, baterai dapat diproses untuk mengambil kembali material seperti nikel, litium, dan kobalt.

Kedua pengelolaan tersebut membantu mengurangi limbah berbahaya sekaligus menekan kebutuhan bahan baku baru dari pertambangan.

Mengapa Ekosistem Baterai Perlu Terintegrasi?

Keterhubungan seluruh tahapan produksi hingga pengelolaan baterai bekas memberikan beberapa manfaat penting, yaitu sebagai berikut:

  • Meningkatkan Efisiensi Industri. Rantai pasok yang terhubung membantu mengurangi biaya logistik dan memperlancar proses produksi baterai.
  • Menjaga Ketersediaan Bahan Baku. Integrasi memudahkan produsen memperoleh pasokan material secara berkelanjutan sesuai kebutuhan produksi.
  • Mendukung Standar Keberlanjutan. Keterlacakan bahan baku membantu industri memantau dampak lingkungan sepanjang proses produksi.
  • Memperkuat Ekonomi Sirkular. Baterai bekas dapat dikumpulkan, dimanfaatkan kembali, atau didaur ulang sehingga materialnya kembali memasuki rantai produksi.

Perkembangan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik di Indonesia

Pada 29 Juni 2025, Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya pembangunan proyek ekosistem baterai terintegrasi konsorsium ANTAM–IBC–CBL di Karawang dan Halmahera Timur.

Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi awal 6,9 GWh yang ditargetkan meningkat menjadi 15 GWh, setara kebutuhan baterai sekitar 250.000–300.000 mobil listrik.

Pengembangannya mencakup pertambangan nikel, fasilitas pengolahan mineral, produksi material katoda, pembuatan sel baterai, serta fasilitas daur ulang.

Dengan rencana investasi hampir US$6 miliar, proyek ini diproyeksikan menciptakan sekitar 35.000 lapangan kerja langsung maupun tidak langsung.

Tantangan Pengembangan Ekosistem Baterai

Meskipun potensinya besar, pengembangan industri baterai nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti berikut ini:

  • Kebutuhan Investasi Besar. Pembangunan fasilitas pengolahan mineral dan produksi baterai membutuhkan modal, teknologi, serta tenaga kerja terampil.
  • Pemerataan Infrastruktur. Jaringan charging dan swapping perlu diperluas, terutama di luar kota besar.
  • Pengelolaan Baterai Bekas. Indonesia membutuhkan sistem pengumpulan dan fasilitas daur ulang yang memadai agar baterai tidak mencemari lingkungan.
  • Standardisasi dan Penerimaan Pasar. Perbedaan spesifikasi baterai antarprodusen serta kekhawatiran konsumen mengenai harga dan jarak tempuh masih menjadi tantangan.

Baca Juga: Limbah Baterai Motor Listrik: Dampak bagi Lingkungan dan Solusi Daur Ulangnya

Menuju Ekosistem Baterai yang Lebih Berkelanjutan Bersama TBS

Pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik perlu menerapkan prinsip ekonomi sirkular sehingga baterai yang telah digunakan dapat dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.

Dalam mendukung mobilitas listrik nasional, TBS GoTo Group mendirikan Electrum melalui PT Energi Kreasi Bersama pada 2021, untuk mengembangkan ekosistem yang mencakup kendaraan listrik, teknologi baterai, infrastruktur charging dan swapping, serta pembiayaan.

Pada Februari 2022, Presiden Joko Widodo meluncurkan kolaborasi Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits. Electrum juga mendukung KTT G20 dan B20 Bali melalui penyediaan 50 motor listrik, 11 shelter, dan 150 mitra pengemudi Gojek.

Pada Oktober 2024, Electrum mulai memperkenalkan motor listrik H3i di IMOS.

Kemudian, pada Desember 2024, Electrum memperoleh pendanaan US$15 juta dari ADB, Australian Climate Finance Partnership, dan DBS Indonesia untuk memperluas armada serta jaringan penukaran baterai.

Pengembangan berlanjut melalui kehadiran motor listrik H1 pada 2025, disertai pencapaian operasional berikut.

  • Lebih dari 15.000 motor listrik beroperasi pada 2025.
  • Lebih dari 500 lokasi stasiun penukaran baterai.
  • Lebih dari 19.000 penukaran baterai setiap hari.
  • Lebih dari 3.200 ton emisi CO₂ berhasil dihindari.

Melalui Electrum, TBS terus memperkuat ekosistem kendaraan listrik Indonesia dengan menghadirkan solusi mobilitas yang lebih efisien dan berkelanjutan.