tbs

Net Zero Emission menjadi salah satu target global yang harus dicapai untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menjaga kenaikan suhu bumi tetap di bawah 1,5°C.

Bagi Indonesia, target ini bukan hanya tentang mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga mendorong transformasi energi, membuka peluang ekonomi hijau, dan menciptakan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Perubahan iklim kini dirasakan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga meningkatnya suhu udara menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

Karena itu, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu berkolaborasi dalam mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) melalui berbagai langkah nyata, mulai dari transisi energi hingga pengembangan energi terbarukan.

Apa Itu Net Zero Emission?

Net Zero Emission adalah kondisi ketika jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer sama dengan jumlah emisi yang berhasil diserap atau dihilangkan secara permanen.

Dengan kata lain, dengan diberlakukannya Net Zero Emission, maka tidak ada lagi penambahan emisi bersih yang mempercepat pemanasan global.

Target ini tidak berarti seluruh aktivitas manusia berhenti menghasilkan emisi. Masih akan ada emisi yang dihasilkan dari sektor industri, transportasi, maupun pertanian.

Namun, emisi tersebut harus ditekan semaksimal mungkin, kemudian sisa emisinya dinetralkan melalui berbagai metode, seperti penyerapan karbon oleh hutan atau teknologi penghilangan karbon.

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dunia perlu menurunkan emisi gas rumah kaca sekitar 45% pada 2030 dibandingkan tingkat emisi tahun 2010, kemudian mencapai Net Zero Emission sekitar 2050 agar peluang menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C tetap terbuka.

Baca Juga: Pembangkit Listrik Tenaga Surya: Jenis, Cara Kerja dan Manfaatnya

Mengapa Net Zero Emission Penting?

Meningkatnya suhu bumi berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, curah hujan semakin tidak menentu, permukaan laut terus meningkat, hingga risiko gagal panen bertambah.

Bagi dunia usaha, perubahan iklim juga membawa risiko ekonomi yang besar, mulai dari gangguan rantai pasok hingga meningkatnya biaya operasional.

Karena itu, semakin banyak negara dan perusahaan menetapkan target Net Zero Emission sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang. Secara umum, terdapat lima langkah utama yang banyak digunakan perusahaan dalam mencapai target NZE, yaitu:

  • Mengukur seluruh emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.
  • Menyusun strategi untuk mengurangi emisi secara bertahap.
  • Menyeimbangkan emisi yang tersisa melalui penyerapan karbon atau teknologi penghilangan karbon.
  • Melakukan pelaporan secara transparan.
  • Memastikan seluruh proses diverifikasi oleh pihak independen.

Cara Mencapai Net Zero Emission

Mencapai Net Zero Emission memerlukan perubahan besar di berbagai sektor. Sejumlah penelitian menunjukkan terdapat beberapa strategi utama yang dapat dilakukan.

1. Memperkuat Regulasi

Kebijakan pemerintah menjadi fondasi penting dalam mengurangi emisi. Regulasi yang jelas memberikan kepastian bagi dunia usaha untuk berinvestasi pada teknologi rendah karbon.

2. Mengurangi Emisi Secara Menyeluruh

Penurunan emisi tidak hanya dilakukan di sektor energi, tetapi juga pada transportasi, industri, bangunan, hingga pertanian sehingga seluruh sumber emisi dapat ditekan secara bersamaan.

3. Mengembangkan Teknologi Penangkapan Karbon

Teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) dapat membantu mengurangi emisi dari sektor yang sulit didekarbonisasi.

Namun, penerapannya perlu didukung tata kelola yang baik serta mempertimbangkan aspek biaya dan lingkungan.

4. Membangun Perdagangan Karbon yang Kredibel

Perdagangan karbon dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat pengurangan emisi. Agar efektif, sistem pemantauan, pelaporan, dan verifikasi harus berjalan secara transparan.

5. Menjalankan Transisi yang Adil

Setiap negara memiliki kondisi ekonomi dan sumber daya yang berbeda. Oleh karena itu, proses menuju Net Zero Emission perlu mempertimbangkan aspek keadilan, termasuk dukungan pendanaan dan transfer teknologi bagi negara berkembang.

6. Menjaga Keseimbangan Lingkungan dan Sosial

Pengurangan emisi tidak boleh mengorbankan keanekaragaman hayati maupun kehidupan masyarakat. Karena itu, seluruh kebijakan perlu mempertimbangkan dampak sosial dan ekologis secara bersamaan.

7. Menciptakan Ekonomi Hijau

Transisi menuju energi bersih tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga membuka peluang investasi baru, menciptakan lapangan kerja hijau, dan meningkatkan daya saing ekonomi dalam jangka panjang.

Komitmen Indonesia Menuju Net Zero Emission

Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 sebagai bentuk komitmen dalam mengatasi perubahan iklim.

Pemerintah juga menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% dengan upaya sendiri dan hingga 43,20% dengan dukungan internasional pada 2030.

Selain itu, Indonesia menargetkan pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat.

Untuk mewujudkannya, pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi terbarukan, pengembangan teknologi, riset, regulasi yang mendukung, hingga kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat.

Baca Juga: Energi Angin: Cara Kerja, Contoh Pemanfaatan, dan Tantangannya

Bersama TBS Energi Utama Mendukung Percepatan Net Zero Emission di Indonesia

Perjalanan menuju Net Zero Emission membutuhkan kontribusi nyata dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta. Salah satu perusahaan yang aktif mendukung transisi energi di Indonesia adalah TBS Energi Utama melalui berbagai proyek energi terbarukan.

Sejak 2020, melalui anak usahanya PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS Energi Utama memperkuat portofolio energi bersih dengan mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 2x3 MW di Lampung.

Selain itu, TBS juga mengakuisisi PT Bayu Alam Sejahtera (BAS) yang mengembangkan potensi energi angin di Nusa Tenggara Timur.

Berkat akusisi tersebut, Pembangkit Minihidro AEH resmi beroperasi secara komersial pada 22 Januari 2025 dan kini memasok 6 MW listrik bersih ke wilayah Sumatera Bagian Selatan.

Selain menghasilkan energi ramah lingkungan, proyek ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan akses listrik, dan pelestarian lingkungan.

TBS juga mengembangkan Floating Solar PV Power Plant di Tembesi, Batam. Proyek ini telah mencapai Financial Closing pada 2024 dan ditargetkan mulai beroperasi penuh di 2026 serta terhubung ke jaringan listrik nasional.

Ke depannya, pembangkit listrik tenaga surya terapung tersebut diharapkan mampu mengurangi emisi karbon, meningkatkan kualitas udara, menciptakan lapangan kerja hijau, mendorong transfer teknologi, serta memperkuat pembangunan berkelanjutan di Batam dan Indonesia.

Melalui berbagai proyek energi terbarukan tersebut, TBS Energi Utama menunjukkan komitmennya dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia sekaligus mempercepat transisi menuju masa depan yang lebih bersih, tangguh, dan berkelanjutan.