tbs

Pengolahan sampah makanan menjadi solusi penting untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat, seperti pupuk organik dan energi terbarukan.

Di antara berbagai metode yang tersedia, pengomposan dan produksi biogas memiliki keunggulan berbeda sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan volume sampah, ketersediaan lahan, serta kebutuhan pengelolaan limbah.

Sampah makanan dari rumah tangga, hotel, restoran, kantin, dan industri pangan sering kali menimbulkan masalah bau, meningkatkan biaya pembuangan, serta membebani tempat pemrosesan akhir (TPA).

Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik juga dapat menghasilkan gas metana ketika terurai tanpa oksigen di tempat pembuangan.

Oleh karena itu, pengolahan sampah makanan perlu dilakukan secara terencana. Selain mengurangi limbah, proses ini dapat mendukung ekonomi sirkular dengan mengubah bahan yang sebelumnya dibuang menjadi sumber daya bernilai.

Baca Juga: Recycle: Cara Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya, Ini Proses dan Contohnya

Mengenal Metode Pengolahan Sampah Makanan

Dua metode yang banyak digunakan untuk mengolah sampah organik adalah pengomposan dan pengolahan biogas. Meski sama-sama membantu mengurangi volume sampah, tetapi memiliki mekanisme dan hasil akhir yang berbeda.

1. Pengomposan untuk Menghasilkan Pupuk Organik

Pengomposan merupakan proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dengan bantuan oksigen. 

Berbagai jenis sampah organik, mulai dari kulit buah, potongan sayuran, ampas kopi, hingga daun kering dan sisa makanan, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos.

Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur tanah, menambah bahan organik, dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Proses pengomposan cukup mudah diterapkan oleh rumah tangga, sekolah, pengelola kebun, maupun pelaku usaha skala kecil, terutama jika tersedia area yang cukup untuk mengolah sampah organik.

Namun, pengomposan membutuhkan pengaturan kelembapan, sirkulasi udara, dan pemilahan bahan. Pengelolaan yang tidak sesuai dapat menyebabkan munculnya aroma tidak sedap selama proses pembusukan serta memperlambat penguraian bahan organik.

2. Biogas untuk Menghasilkan Energi Terbarukan

Berbeda dengan kompos, biogas dihasilkan melalui proses pencernaan anaerobik, yaitu penguraian bahan organik oleh mikroorganisme tanpa oksigen di dalam reaktor tertutup.

Proses tersebut menghasilkan gas yang mengandung metana dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak, pemanasan, atau pembangkit listrik, bergantung pada sistem pengolahannya.

Sisa prosesnya berupa material yang dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik.

Pengolahan biogas cocok untuk fasilitas yang menghasilkan sampah organik secara rutin dalam jumlah besar

Meski demikian, fasilitas ini membutuhkan investasi awal, pengoperasian, serta pemeliharaan yang lebih kompleks dibandingkan pengomposan sederhana.

Kompos vs Biogas: Apa Perbedaannya?

Perbedaan utama kedua metode terletak pada kebutuhan oksigen, produk yang dihasilkan, penggunaan lahan, dan potensi pemanfaatan energi. Berikut perbandingannya.

  • Kebutuhan oksigen: pengomposan umumnya membutuhkan oksigen, sedangkan produksi biogas berlangsung tanpa oksigen.
  • Hasil pengolahan: kompos menghasilkan pembenah tanah, sementara biogas menghasilkan gas energi dan residu yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk.
  • Produksi energi: pengomposan menghasilkan pupuk organik tanpa menghasilkan bahan bakar, sedangkan biogas dapat mengubah sampah organik menjadi energi yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
  • Kebutuhan lahan: sistem pengomposan terbuka umumnya memerlukan area yang luas untuk mendukung proses penguraian, sedangkan instalasi biogas dengan tangki tertutup dapat mengoptimalkan penggunaan ruang.
  • Biaya: pengomposan sederhana cenderung lebih murah untuk memulai, sedangkan biogas membutuhkan modal awal lebih besar tetapi berpotensi memberikan penghematan operasional.

Tidak ada metode yang selalu unggul dalam semua kondisi. Efektivitasnya bergantung pada karakteristik sampah, skala kegiatan, biaya, dan kemampuan pengelola dalam menjalankan sistem.

Mana yang Lebih Efektif untuk Industri?

Bagi usaha yang menghasilkan sampah makanan setiap hari, pilihan metode sebaiknya didasarkan pada kebutuhan operasional dan manfaat yang ingin diperoleh.

Kompos untuk Skala Kecil

Pengomposan dapat menjadi pilihan bagi rumah tangga, sekolah, kebun, dan usaha kecil yang memiliki ruang untuk mengolah sampah.

Pengomposan menjadi pilihan yang sesuai bagi pihak yang ingin menekan jumlah sampah organik sekaligus memanfaatkannya sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman.

Biogas untuk Skala Besar

Hotel, restoran, kantin besar, pabrik makanan, serta peternakan dapat mempertimbangkan biogas apabila memiliki pasokan bahan organik yang stabil. Selain mengurangi sampah yang dibuang, fasilitas ini berpotensi menekan penggunaan energi konvensional.

Meski begitu, sampah perlu dipilah dan disesuaikan dengan kebutuhan teknologi. Tidak semua jenis sampah makanan dapat langsung dimasukkan ke reaktor tanpa persiapan.

Perhitungan kapasitas, biaya pengolahan, dan pemanfaatan hasilnya juga penting sebelum investasi dilakukan.

Manfaat Lingkungan dari Pengolahan Sampah Makanan

Baik pengomposan maupun biogas berkontribusi terhadap pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Pengomposan membantu mengurangi sampah yang dikirim ke TPA sekaligus mengembalikan bahan organik ke tanah.

Sementara itu, biogas dapat mengurangi kebutuhan pembuangan sampah organik, menghasilkan energi terbarukan, dan membantu menekan emisi gas rumah kaca apabila sistemnya dirancang serta dioperasikan dengan baik.

Pemanfaatan biogas melalui proses penangkapan gas metana dapat mendukung upaya menekan pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

Namun, manfaat ini bergantung pada pengendalian kebocoran, pengelolaan residu, dan penggantian energi fosil yang benar-benar terjadi.

Langkah awal yang tidak kalah penting adalah mencegah sampah makanan sejak sumbernya.

Perencanaan pembelian bahan baku, pengaturan porsi, penyimpanan yang tepat, dan penyaluran makanan layak konsumsi dapat mengurangi jumlah limbah yang perlu diolah.

Pengolahan Sampah Makanan di Asia dan Indonesia

Negara-negara Asia menerapkan pendekatan yang beragam dalam mengelola sampah organik.

Korea Selatan mengembangkan pemilahan sampah makanan dan sistem pengolahan dengan pengomposan dan pencernaan anaerobik. Sementara Jepang mendorong daur ulang sampah dari sektor pangan melalui target serta kebijakan bagi pelaku usaha.

Di Asia Tenggara, Singapura mengembangkan fasilitas pengolahan sampah makanan dan memperkuat kewajiban pemilahan bagi kelompok usaha tertentu secara bertahap.

Di Indonesia, pengelolaan sampah berpedoman pada regulasi pemerintah pusat yang kemudian diterapkan dan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing daerah.

Ketentuan teknis dan kewajiban pelaku usaha dapat berbeda menurut wilayah, sehingga bisnis perlu mengikuti aturan setempat.

Di Indonesia, pengolahan sampah makanan berpotensi membantu mengurangi tekanan terhadap TPA yang semakin terbebani.

Pemilahan dari sumber, pengomposan, dan pemanfaatan biogas dapat menjadi bagian dari solusi, terutama di kawasan perkotaan dan pusat kegiatan komersial yang menghasilkan sampah organik secara rutin.

Baca Juga: Strategi Kelola Sampah Ramah Lingkungan dan Pengelolaan Limbah Berkelanjutan

TBS Memperkuat Ekosistem Pengelolaan Limbah Terintegrasi di Asia Tenggara

Sebagai bagian dari pengembangan layanan lingkungan, TBS Energi Utama (TBS) memperluas kapabilitas pengelolaan limbah melalui penguatan bisnis di Indonesia dan Singapura.

Pada 2023, TBS mengakuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH Environmental Indonesia, yang bergerak dalam pengelolaan limbah medis, bahan berbahaya dan beracun (B3), limbah rumah tangga, serta elektronik.

Keduanya kemudian dikonsolidasikan di bawah PT Solusi Bersih TBS (SBT), subholding khusus pengelolaan limbah.

Lalu, pada Maret 2025, TBS menyelesaikan akuisisi penuh Sembcorp Environment (SembEnviro), perusahaan Singapura yang memiliki keahlian dalam pengelolaan sampah perkotaan, daur ulang, dan solusi lingkungan.

Pada September 2025, SembEnviro berganti nama menjadi Cora Environmental untuk menyatukan identitas bisnis pengelolaan limbah TBS.

Melalui AMES, ARAH Environmental Indonesia, dan Cora Environmental, TBS membangun platform pengelolaan limbah terintegrasi yang mendukung agenda TBS2030.

Hingga 2025, TBS telah memiliki lima fasilitas pengelolaan limbah di Indonesia dan Singapura, memproses lebih dari 970.000 ton limbah, serta melayani lebih dari 475.000 pelanggan aktif.

Ini menjadi bukti bahwa TBS selalu mendukung upaya membangun operasional bisnis yang lebih efisien, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.