tbs

Energi bersih dan terjangkau menjadi bagian penting dari upaya berbagai negara menghadapi perubahan iklim sekaligus memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.

Pengalaman sejumlah negara di Asia menunjukkan bahwa transisi energi membutuhkan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal, dukungan investasi, modernisasi jaringan listrik, serta kebijakan yang mampu mendorong penggunaan energi terbarukan.

Peralihan menuju energi rendah emisi bukan sekadar mengganti pembangkit berbahan bakar fosil dengan energi terbarukan.

Negara juga perlu memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses listrik yang andal dan terjangkau, pekerja terdampak memperoleh dukungan, serta pembangunan infrastruktur berjalan seiring dengan pertumbuhan kebutuhan energi.

Mengapa Energi Bersih dan Terjangkau Penting bagi Asia?

Asia menghadapi tantangan energi yang beragam. Pertumbuhan ekonomi dan industri meningkatkan permintaan listrik, sedangkan sejumlah wilayah masih menghadapi keterbatasan akses terhadap energi.

Kondisi geografis kepulauan, seperti Indonesia, juga membuat pembangunan infrastruktur energi tidak dapat menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua wilayah.

Pengalaman Pakistan, Bangladesh, dan Vietnam berikut menunjukkan bagaimana kondisi lokal dapat mendorong munculnya solusi yang berbeda.

Baca Juga: Contoh Energi Alternatif: Jenis, Manfaat, dan Potensinya untuk Masa Depan

Pakistan: Energi Surya untuk Menghadapi Kenaikan Biaya

Ketika harga energi meningkat, semakin banyak masyarakat Pakistan yang memanfaatkan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa energi terbarukan dapat menjadi alternatif ketika biaya energi konvensional semakin membebani masyarakat.

Bangladesh: Memperluas Akses Listrik

Bangladesh memanfaatkan energi surya untuk membantu menyediakan listrik bagi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.

Pendekatan ini memperlihatkan pentingnya solusi energi terdesentralisasi bagi daerah dengan kondisi geografis tertentu.

Vietnam: Kebijakan dan Investasi Mendorong Energi Terbarukan

Vietnam berkembang pesat dalam pemanfaatan energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin. Dukungan kebijakan, investasi swasta, serta pembaruan regulasi membantu mempercepat pembangunan kapasitas energi terbarukan.

Namun, pertumbuhan yang cepat juga menimbulkan tantangan baru. Kapasitas pembangkit yang berkembang lebih cepat daripada jaringan listrik menyebabkan masalah kemacetan jaringan dan pembatasan produksi listrik terbarukan.

Pelajaran Vietnam untuk Transisi Energi Indonesia

Pengalaman Vietnam menunjukkan bahwa pembangunan pembangkit energi terbarukan perlu diikuti kesiapan jaringan listrik.

Pemerintah Vietnam melalui strategi pengembangan sistem ketenagalistrikan juga meningkatkan perhatian terhadap penyimpanan energi, pembangkit hidro pompa, serta koneksi antardaerah.

Bagi Indonesia, pendekatan tersebut relevan karena sistem kelistrikan terdiri atas banyak jaringan yang tersebar di berbagai pulau. Pengembangan tenaga surya dan angin perlu berjalan bersama dengan modernisasi jaringan serta teknologi penyimpanan energi.

Vietnam juga menggunakan berbagai kebijakan untuk menarik investasi swasta, termasuk insentif energi terbarukan dan skema Direct Power Purchase Agreement (DPPA).

Skema tersebut memungkinkan konsumen listrik tertentu untuk membeli energi langsung dari produsen energi terbarukan.

Indonesia dapat mengambil pelajaran dari kebijakan yang dilakukan Vietnam bahwa kepastian regulasi dan mekanisme pasar yang jelas, sangat penting untuk menarik investasi dalam proyek energi bersih.

Energi Bersih dan Terjangkau Membutuhkan Solusi yang Lokal

Tidak ada satu solusi yang dapat diterapkan di semua wilayah. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, pendekatan terdesentralisasi dapat membantu menjawab kebutuhan energi di daerah yang belum terjangkau infrastruktur skala besar.

Microgrid, pembangkit listrik tenaga surya lokal, dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dapat dikembangkan sesuai karakteristik setiap daerah. Pemanfaatan kembali teknologi yang sudah ada juga dapat menjadi pilihan untuk menekan biaya.

Salah satu contohnya adalah penggunaan kembali baterai kendaraan listrik yang sudah tidak digunakan untuk kebutuhan kendaraan, tetapi masih memiliki kapasitas penyimpanan energi.

Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penyimpanan energi untuk kebutuhan masyarakat.

Transisi Energi Juga Harus Memperhatikan Masyarakat

Peralihan dari energi fosil juga memiliki dampak terhadap pekerja dan masyarakat yang selama ini bergantung pada industri tersebut. Oleh karena itu, konsep just transition atau transisi yang adil menjadi bagian penting dalam pembangunan energi bersih.

Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa masyarakat lokal perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan. Dukungan pelatihan, pembiayaan, dan penciptaan lapangan kerja baru dapat membantu pekerja berpindah menuju sektor ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Pendanaan internasional juga dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses tersebut.

Program seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) dirancang untuk membantu negara berkembang membiayai transisi energi, termasuk pengurangan ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbasis batu bara.

Baca Juga: Mengapa Transisi Energi Indonesia Tidak Bisa Ditunda dan Apa Saja Tantangannya?

Peran TBS dalam Mengembangkan Energi Terbarukan di Indonesia

Di Indonesia, pendekatan terhadap energi bersih juga dapat dilakukan dengan menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi wilayah.

TBS mengembangkan berbagai inisiatif yang menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat dikombinasikan dengan kebutuhan lokal.

1. Pemanfaatan Baterai EV di Sumba

Di Sumba, TBS mengeksplorasi pemanfaatan kembali baterai kendaraan listrik bekas Electrum sebagai penyimpanan energi.

Pendekatan ini tidak hanya mendukung ekonomi sirkular, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan teknologi penyimpanan energi untuk kebutuhan komunitas.

2. PV Agri di Pulau Semau

TBS juga mengembangkan proyek PV Agri di Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur. Proyek ini mengintegrasikan energi surya dengan sistem irigasi pertanian.

Listrik dari tenaga surya digunakan untuk mengoperasikan sistem irigasi sehingga membantu menyediakan pasokan air yang lebih andal bagi petani sekaligus mendukung produktivitas pertanian.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa energi bersih dapat memberikan manfaat lebih luas ketika dikembangkan bersama kebutuhan dasar masyarakat, seperti air dan pangan.

3. PLTM Sumberjaya, Lampung

TBS juga memperluas portofolio energi terbarukan melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Sumberjaya di Lampung.

Pada 2020, melalui PT Toba Bara Energi (TBAE), TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang PLTM berkapasitas 2 x 3 MW, dan PT Bayu Alam Sejahtera (BAS) yang mengeksplorasi peluang energi angin di Nusa Tenggara Timur.

PLTM Sumberjaya yang dikembangkan AEH berhasil mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dengan kapasitas total 6 MW. Pembangkit ini berkontribusi terhadap pasokan energi bersih di wilayah Sumatera bagian Selatan.

4. PLTS Terapung Tembesi, Batam

Di Batam, TBS juga mengembangkan PLTS Terapung Tembesi. Proyek ini telah menyelesaikan financial closing pada 2024 dan ditargetkan beroperasi secara komersial serta terintegrasi ke jaringan listrik nasional pada 2026.

Dengan kapasitas 46 MWp, proyek PLTS terapung ini diharapkan mendukung pengurangan emisi, meningkatkan kualitas udara, menciptakan lapangan kerja hijau, serta mendorong transfer teknologi dan kolaborasi dengan masyarakat lokal.

Membangun Masa Depan Energi Bersih dan Terjangkau

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa transisi energi tidak memiliki satu pola yang berlaku untuk semua.

Bagi Indonesia, kombinasi antara energi terbarukan, jaringan listrik yang lebih modern, penyimpanan energi, kebijakan yang mendukung investasi, dan pendekatan berbasis kebutuhan lokal, menjadi bagian penting untuk menuju sistem energi yang lebih tangguh.

Melalui pengembangan PLTM Sumberjaya, PLTS Terapung Tembesi, pemanfaatan kembali baterai EV di Sumba, dan proyek PV Agri di Semau, TBS Group terus mengeksplorasi solusi energi yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.

Semua hal ini sesuai dengan komitmen TBS untuk selalu mendukung pengembangan energi bersih dan terjangkau di Indonesia.