
Gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif setelah melalui proses penangkapan dan pengolahan.
Selain dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar dan listrik, emanfaatannya juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan pengelolaan sampah, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Daripada terlepas ke atmosfer dan memperburuk perubahan iklim, gas metana dari TPA dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan energi yang lebih berkelanjutan.
Apa Itu Gas Metana dari TPA?
Gas metana dihasilkan melalui aktivitas mikroorganisme yang memecah bahan organik di lingkungan dengan kadar oksigen rendah.
Proses tersebut berlangsung ketika sampah seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah organik lainnya mengalami pembusukan di dalam tumpukan sampah. Gas yang terbentuk dari proses ini disebut gas TPA atau landfill gas.
Secara umum, gas TPA terdiri atas metana dan karbon dioksida sebagai komponen utama. Selain itu, terdapat pula sedikit gas lainnya serta kandungan uap air. Metana sendiri memiliki nilai energi yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik maupun panas.
Namun, gas TPA perlu diolah terlebih dahulu untuk mengurangi kandungan air, hidrogen sulfida, dan zat pengotor lainnya agar aman digunakan.
Baca Juga: Mengenal Emisi Karbon: Penyebab, Dampak, dan Cara Menguranginya
Bagaimana Proses Penangkapan Gas Metana di TPA?
Penangkapan gas metana melalui beberapa tahap berikut.
1. Mengumpulkan Gas dari Timbunan Sampah
Operator memasang sumur ekstraksi vertikal atau horizontal di area TPA. Sumur ini dilengkapi pipa berlubang untuk menyalurkan gas menuju sistem pengumpulan.
Blower atau alat pengisap menciptakan tekanan negatif untuk menarik gas dari timbunan sampah, kemudian mengalirkannya ke fasilitas pengolahan melalui jaringan pipa.
Penempatan sumur disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik sampah. Pemeriksaan berkala diperlukan untuk menjaga kelancaran aliran gas dan meminimalkan risiko kebocoran.
2. Memurnikan Gas Sebelum Digunakan
Gas yang terkumpul masih mengandung uap air, partikel, dan senyawa yang berpotensi merusak mesin. Oleh karena itu, gas perlu melalui proses pemisahan cairan, pendinginan, dan penyaringan.
Pemurnian juga membantu mengurangi hidrogen sulfida yang menimbulkan bau menyengat dan dapat menyebabkan korosi.
Untuk memastikan gas aman dan layak dimanfaatkan, pengelola perlu memeriksa beberapa parameter secara berkala, termasuk tingkat oksigen, tekanan, serta kadar metana di dalam gas.
Jika belum memenuhi standar pembangkitan energi, gas dapat dibakar melalui fasilitas flare untuk mengurangi pelepasan metana ke atmosfer.
3. Mengubah Gas Menjadi Energi
Setelah memenuhi persyaratan teknis, gas metana dapat dimanfaatkan melalui beberapa cara:
- Pembangkit listrik. Gas dibakar untuk menghasilkan tenaga mekanis yang menggerakkan generator listrik.
- Sumber panas. Energi pembakaran dimanfaatkan untuk kebutuhan industri atau operasional fasilitas.
- Bahan bakar gas terbarukan. Pemurnian lanjutan meningkatkan konsentrasi metana sehingga menghasilkan gas berkualitas lebih tinggi untuk penggunaan tertentu.
Pemilihan teknologi bergantung pada volume, kestabilan pasokan, kemurnian gas, dan kebutuhan energi di sekitar TPA.
Apa Manfaat Mengubah Gas Metana Menjadi Energi?
Jika dirancang dan dioperasikan dengan baik, pemanfaatan gas metana dari TPA memberikan sejumlah manfaat lingkungan dan ekonomi.
1. Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Penangkapan metana membantu menekan pelepasannya ke atmosfer. Saat dibakar, metana terutama berubah menjadi karbon dioksida dan uap air.
Meskipun karbon dioksida tetap merupakan gas rumah kaca, penangkapan dan penghancuran metana dapat mengurangi dampak pemanasannya.
2. Mengurangi Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil
Listrik dari pengolahan gas TPA dapat menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan batu bara, minyak bumi, dan gas fosil. Besarnya pengurangan emisi bergantung pada sumber energi yang digantikan dan teknologi pembangkit yang digunakan.
3. Meningkatkan Keselamatan dan Kualitas Lingkungan
Pengumpulan gas secara terkontrol membantu mengurangi penumpukan gas di sekitar TPA dan bangunan di sekitarnya. Pengolahan yang tepat juga membantu mengendalikan bau serta sejumlah senyawa pencemar.
4. Membuka Peluang Ekonomi
Pengembangan fasilitas pemanfaatan gas TPA turut membuka lapangan pekerjaan bagi berbagai tenaga profesional, mulai dari insinyur dan teknisi hingga operator, kontraktor, serta penyedia peralatan.
Listrik atau gas yang dihasilkan juga dapat dijual untuk menambah pendapatan pengelola fasilitas.
Agar tetap menguntungkan dalam jangka panjang, proyek perlu memperhitungkan investasi, biaya pemeliharaan, kualitas gas, dan kestabilan pasokan.
Pemanfaatan Gas Metana Menjadi Energi di Asia dan Indonesia
China telah menerapkan teknologi Landfill Gas to Energy (LFGTE) untuk mengubah gas hasil penguraian sampah menjadi listrik. Contohnya adalah fasilitas Beijing Asuwei dan Shanghai Laogang.
Beijing Asuwei mulai beroperasi secara komersial pada Juni 2007 dan menjadi proyek LFGTE pertama di China Utara yang terhubung dengan jaringan listrik.
Proyek ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 20.000 rumah tangga per tahun, menghemat sekitar 28.000 ton batu bara, dan mengurangi emisi setara 200.000 ton karbon dioksida setiap tahun.
Sementara itu, fasilitas Shanghai Laogang menggunakan 11 generator dengan kapasitas gabungan sekitar 15 megawatt (MW). Produksi listrik tahunannya dilaporkan mencapai sekitar 100.000 megawatt-jam (MWh).
Pengembangan Pemanfaatan Gas Metana di Indonesia
Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi penangkapan metana dari TPA menggunakan sumur ekstraksi, jaringan pipa, blower pengisap, dan perangkat pemurnian.
Upaya tersebut dikembangkan melalui serangkaian riset langsung di lapangan serta kolaborasi dengan pihak pengelola sampah, salah satunya di wilayah Malang, Jawa Timur.
Gas yang terkumpul dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai bahan bakar memasak atau untuk mendukung operasional fasilitas pengolahan sampah. Gas tersebut juga berpotensi menghasilkan listrik dalam skala kecil.
Namun, kestabilan pasokan masih menjadi tantangan karena jumlah dan kualitas metana dipengaruhi kondisi timbunan, komposisi sampah, serta proses penguraian.
Baca Juga: Apa Itu Jejak Karbon? Arti, Penyebab, Dampak, dan Upaya Menguranginya
TBS dan Perannya dalam Mengelola Limbah Terintegrasi di Asia Tenggara
Untuk mendukung pengelolaan limbah yang lebih terintegrasi, TBS terus mengembangkan bisnisnya dengan memperkuat kehadiran di pasar Indonesia dan Singapura.
Salah satu langkah strategisnya dilakukan pada 2023 melalui akuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH Environmental Indonesia. Keduanya kemudian dikonsolidasikan di bawah PT Solusi Bersih TBS (SBT).
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade menangani limbah medis di Singapura, AMES mampu mengolah limbah tersebut dalam jumlah lebih dari 5.000 ton setiap tahunnya.
Sementara itu, ARAH beroperasi di 16 provinsi di Indonesia, didukung lebih dari 5.000 titik pengumpulan dan kapasitas insinerasi lebih dari 10.000 ton per tahun.
TBS menuntaskan pengambilalihan seluruh saham Sembcorp Environment (SembEnviro) pada Maret 2025. Beberapa bulan kemudian, tepatnya September 2025, perusahaan tersebut resmi menggunakan nama baru, yaitu Cora Environmental.
Perusahaan Singapura ini bergerak di bidang pengelolaan sampah perkotaan, daur ulang, dan layanan lingkungan, dengan pengolahan lebih dari 900.000 ton limbah setiap tahun.
TBS memperkuat dan memperluas ekosistem pengelolaan limbah terintegrasinya dengan menggabungkan kapabilitas AMES, ARAH Environmental Indonesia, dan Cora Environmental.
Langkah ini sejalan dengan roadmap TBS2030 untuk mendukung keberlanjutan, mengurangi dampak lingkungan, dan menciptakan nilai jangka panjang di kawasan.