tbs

Battery management system (BMS) merupakan teknologi penting yang menjaga baterai kendaraan listrik (EV) tetap aman, efisien, dan memiliki umur pakai lebih panjang.

Sistem ini bekerja dengan memantau kondisi baterai, mengatur suhu, menyeimbangkan sel, serta melindungi baterai dari berbagai kondisi berbahaya seperti overcharging, overdischarging, dan overheating.

Perkembangan EV di Asia, termasuk Indonesia, membuat kebutuhan terhadap BMS semakin penting.

Selain mendukung performa kendaraan, teknologi ini juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang aman dan andal, mulai dari mobil listrik hingga sepeda motor dan infrastruktur battery swapping.

Apa Itu Battery Management System?

Battery management system atau BMS adalah sistem elektronik yang berfungsi mengontrol, memantau, dan melindungi baterai yang dapat diisi ulang.

Pada kendaraan listrik, BMS menjadi semacam “otak” baterai karena terus mengumpulkan data dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi baterai.

Beberapa parameter utama yang dipantau antara lain State of Charge (SOC) atau tingkat daya yang tersisa dan State of Health (SOH) atau kondisi kesehatan baterai. Selain itu, BMS memantau tegangan, arus, serta temperatur setiap bagian baterai.

Dengan pemantauan tersebut, BMS dapat menjaga baterai tetap bekerja dalam batas aman. Jika terjadi kondisi yang berpotensi merusak baterai, sistem dapat memberikan peringatan atau melakukan tindakan perlindungan secara otomatis.

Baca Juga: Mobil Listrik saat Banjir: Panduan Aman di Musim Hujan

Komponen Utama Battery Management System

Agar dapat bekerja dengan baik, battery management system terdiri dari beberapa komponen yang saling terhubung.

1. Sensor Monitoring

Sensor memantau tegangan, arus, dan temperatur baterai secara real-time. Data ini menjadi dasar bagi BMS untuk mengetahui kondisi baterai.

2. Controller dan Microprocessor

Komponen ini memproses data dari sensor untuk memperkirakan kondisi baterai, termasuk SOC dan SOH, sekaligus menentukan tindakan yang perlu dilakukan.

3. Balancing Circuit

Balancing circuit menjaga agar tingkat pengisian setiap sel baterai tetap seimbang. Hal ini penting karena satu battery pack terdiri dari banyak sel dengan karakteristik yang dapat berbeda.

4. Protection Circuit

Sirkuit perlindungan membantu mencegah kerusakan akibat overcurrent, overvoltage, undervoltage, overheating, maupun kondisi berbahaya lainnya.

5. Communication Interface

BMS dapat berkomunikasi dengan sistem kendaraan dan perangkat eksternal melalui protokol seperti CAN, UART, dan RS485. Komunikasi ini memungkinkan informasi kondisi baterai digunakan oleh sistem kendaraan.

Bagaimana Battery Management System Bekerja?

Secara sederhana, BMS bekerja dengan memantau, menganalisis, lalu mengambil tindakan berdasarkan kondisi baterai. Proses tersebut berlangsung terus-menerus selama baterai digunakan maupun diisi ulang, seperti berikut ini.

1. Memantau Kondisi Baterai

BMS mengukur tegangan, arus, temperatur, SOC, dan SOH. Informasi tersebut membantu sistem mengetahui berapa banyak energi yang tersisa dan seberapa baik kondisi baterai.

2. Melindungi Baterai

BMS mencegah baterai bekerja di luar batas aman. Misalnya, overvoltage protection mencegah pengisian berlebihan, sedangkan undervoltage protection mencegah baterai mengalami pengosongan terlalu dalam.

Sistem juga memberikan perlindungan terhadap arus berlebihan serta suhu yang terlalu tinggi atau rendah. Dengan demikian, risiko kerusakan baterai dan gangguan keselamatan dapat ditekan.

3. Menyeimbangkan Sel Baterai

Setiap battery pack terdiri dari banyak sel. Jika tingkat pengisian sel tidak seimbang, kapasitas dan performa battery pack dapat menurun.

BMS dapat melakukan balancing secara aktif dengan memindahkan energi dari sel yang memiliki muatan lebih tinggi ke sel yang lebih rendah. Pada metode pasif, kelebihan energi dilepaskan dalam bentuk panas melalui resistor.

Keduanya proses tersebut bertujuan menjaga keseimbangan sel dan memperpanjang umur baterai.

4. Mengatur Suhu

Temperatur sangat memengaruhi kinerja dan keselamatan baterai. Oleh karena itu, BMS dapat bekerja bersama sistem pendingin atau pemanas untuk menjaga baterai dalam rentang temperatur yang sesuai.

Pengaturan ini juga penting untuk mengurangi risiko thermal runaway, yaitu kondisi ketika kenaikan suhu memicu peningkatan suhu lebih lanjut dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada baterai.

Peran BMS pada Perkembangan EV di Asia dan Indonesia

Pertumbuhan kendaraan listrik di Asia membuat teknologi battery management system semakin strategis.

Pengembangan BMS kini tidak hanya berfokus pada kendaraan, tetapi juga pada teknologi pengisian, battery swapping, analisis kesehatan baterai, hingga pengelolaan baterai setelah masa pakainya berakhir.

Di Indonesia, kebutuhan tersebut semakin relevan karena pemerintah mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan peningkatan nilai tambah industri baterai.

Pengembangan BMS juga perlu mempertimbangkan kondisi penggunaan lokal, termasuk temperatur lingkungan yang relatif tinggi.

Selain kendaraan roda empat, sepeda motor listrik menjadi bagian penting dari perkembangan EV Indonesia.

Pada sistem battery swapping, BMS memiliki peran penting karena kondisi baterai perlu diperiksa dan datanya harus dapat dikomunikasikan dengan cepat ketika baterai ditukar.

Ke depan, BMS juga diperkirakan semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI), analisis data, smart charging, dan teknologi baterai generasi baru.

Pengembangan tersebut dapat membantu memprediksi umur baterai, mendeteksi masalah lebih awal, serta meningkatkan efisiensi pengisian.

Perkembangan BMS masih menghadapi tantangan, seperti akurasi estimasi kondisi baterai, pengelolaan temperatur ekstrem, keamanan data, efisiensi pengisian, serta prediksi umur baterai.

Namun, dengan berbagai inovasi yang terus dikembangkan, baterai EV berpotensi untuk menjadi semakin aman, efisien, dan mudah dikelola.

Baca Juga: Transportasi Modern dan Perannya dalam Membangun Mobilitas Berkelanjutan

TBS dan Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia

Salah satu perusahaan yang ikut mengembangkan ekosistem kendaraan listrik Indonesia adalah TBS. Pada 2021, TBS dan GoTo membentuk PT Energi Kreasi Bersama (Electrum) untuk mengembangkan ekosistem mobilitas listrik yang terintegrasi.

Electrum mencakup berbagai aspek, mulai dari perakitan kendaraan, teknologi baterai, battery swapping, charging station, hingga pembiayaan kendaraan listrik. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai nilai kendaraan listrik di Indonesia.

Pada Februari 2022, Presiden Joko Widodo meresmikan kerja sama pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, yang melibatkan Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits.

Di tahun yang sama, Electrum juga mendukung G20 Summit dan B20 Forum di Bali dengan menyediakan 50 sepeda motor listrik, 11 shelter, dan 150 mitra pengemudi Gojek.

Dukungan terhadap pengembangan ekosistem tersebut berlanjut pada Desember 2024. Saat itu, Electrum memperoleh paket pembiayaan US$15 juta dari Asian Development Bank (ADB), Australian Climate Finance Partnership, dan Bank DBS Indonesia.

Pendanaan ini digunakan untuk pengadaan kendaraan dan pengembangan jaringan battery swapping, dengan proyeksi pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 123.000 ton per tahun.

Dari sisi produk, Electrum meluncurkan Sepeda motor listrik H3i pada IMOS Oktober 2024, yang menawarkan pilihan pengisian melalui listrik rumah maupun jaringan battery swapping. Setahun kemudian, Electrum meluncurkan H1 sebagai pilihan kendaraan listrik baru.

Hingga 2025, ekosistem Electrum telah mencatat lebih dari 15.000 unit kendaraan listrik yang beroperasi, didukung lebih dari 500 lokasi battery swapping di Jakarta.

Dampak dari pembangunan infrastruktur tersebut adalah lebih dari 19.000 aktivitas battery swap setiap hari dan membantu menghindari lebih dari 3.200 ton emisi CO₂.

Pada akhirnya, battery management system bukan sekadar komponen elektronik dalam kendaraan listrik. Teknologi ini merupakan bagian penting dari perjalanan menuju mobilitas yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.

Melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik, termasuk kendaraan, baterai, dan infrastruktur swapping, TBS terus mengambil bagian dalam mendorong transformasi energi dan mobilitas berkelanjutan di Indonesia.