tbs

Stasiun pengisian kendaraan listrik tenaga surya memanfaatkan panel surya untuk menghasilkan listrik yang digunakan untuk mengisi daya kendaraan listrik, baik mobil maupun motor.

Teknologi ini menawarkan cara pengisian yang lebih ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada jaringan listrik, serta berpotensi mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang lebih berkelanjutan.

Perkembangan kendaraan listrik (EV) di berbagai negara Asia mendorong kebutuhan terhadap infrastruktur pengisian yang semakin luas dan efisien.

Tidak hanya mengandalkan listrik dari jaringan, stasiun pengisian kini mulai menggabungkan energi terbarukan, terutama tenaga surya, dengan sistem penyimpanan baterai dan teknologi pengelolaan energi pintar.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja teknologi ini dan seperti apa penerapannya di Asia, termasuk Indonesia? Simak artikel ini sampai selesai.

Baca Juga: Transportasi Modern dan Perannya dalam Membangun Mobilitas Berkelanjutan

Apa Itu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Tenaga Surya?

Stasiun pengisian kendaraan listrik tenaga surya adalah fasilitas pengisian daya EV yang menggunakan energi matahari sebagai salah satu sumber listriknya.

Caranya menggunakan panel photovoltaic (PV) untuk menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik, yang kemudian dapat digunakan untuk mengisi baterai kendaraan.

Berbeda dari stasiun pengisian konvensional yang sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik, sistem tenaga surya dapat menghasilkan listrik di lokasi.

Energi tersebut bisa digunakan secara langsung, disimpan dalam baterai, atau dikombinasikan dengan jaringan listrik sebagai sumber cadangan.

Dengan sistem ini, penggunaan energi terbarukan dapat semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari, termasuk kebutuhan mobilitas.

Bagaimana Cara Kerja Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Tenaga Surya?

Secara sederhana, sistem ini menggabungkan panel surya, penyimpanan energi, inverter, dan titik pengisian kendaraan listrik.

1. Panel Surya Menangkap Energi Matahari

Panel surya menjadi komponen utama. Sel photovoltaic yang terdapat di dalam panel menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik arus searah atau direct current (DC).

Jumlah listrik yang dihasilkan bergantung pada intensitas matahari, posisi panel, cuaca, serta ada atau tidaknya bayangan yang menghalangi panel.

2. Energi Diubah dan Disimpan

Listrik dari panel dapat dialirkan ke inverter untuk dikonversi sesuai kebutuhan sistem. Sebagian energi juga dapat disimpan dalam battery energy storage system (BESS).

Penyimpanan ini penting karena matahari tidak tersedia sepanjang waktu. Energi yang dikumpulkan pada siang hari dapat digunakan ketika malam hari atau saat produksi listrik dari panel menurun.

3. Listrik Dialirkan ke Kendaraan

Energi kemudian disalurkan ke charging point untuk mengisi baterai kendaraan listrik. Jenis pengisiannya dapat berbeda, mulai dari pengisian yang lebih lambat hingga fast charging atau ultra-fast charging.

Sistem kontrol juga dapat memantau kebutuhan kendaraan, kapasitas baterai, kondisi jaringan, dan penggunaan energi. Jika produksi energi surya berlebih, listrik dapat disimpan atau, pada sistem tertentu, dialirkan kembali ke jaringan.

Mengapa Pengisian EV dengan Tenaga Surya Penting?

Penggunaan energi surya pada stasiun pengisian kendaraan listrik memiliki beberapa manfaat.

1. Mengurangi Emisi

Energi matahari merupakan sumber energi terbarukan yang tidak menghasilkan emisi karbon saat digunakan untuk menghasilkan listrik.

Menggabungkan energi surya dengan kendaraan listrik dapat membantu mengurangi emisi yang berkaitan dengan aktivitas transportasi dan konsumsi listrik.

2. Mengurangi Ketergantungan pada Jaringan Listrik

Produksi listrik langsung di lokasi membuat stasiun pengisian tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik. Jika dilengkapi baterai dan sistem yang tepat, fasilitas tertentu juga dapat tetap beroperasi ketika terjadi gangguan jaringan.

Namun, kemampuan beroperasi secara mandiri tidak otomatis dimiliki semua stasiun. Sistem tersebut membutuhkan desain khusus, seperti penyimpanan baterai, grid-forming inverter, dan perlindungan kelistrikan.

3. Membantu Mengendalikan Biaya Energi

Setelah panel surya terpasang, energi matahari tidak membutuhkan biaya bahan bakar. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membantu operator mengurangi paparan terhadap perubahan harga listrik dan meningkatkan efisiensi biaya operasional.

Perkembangan Stasiun Pengisian Tenaga Surya di Asia

Penerapan stasiun pengisian kendaraan listrik tenaga surya mulai berkembang di berbagai negara Asia. Misalnya saja di Singapura, dengan sejumlah fasilitas pengisian cepat menggunakan tenaga surya yang dipadukan dengan sistem penyimpanan baterai.

Sementara itu, di China sudah ada beberapa proyek yang menggabungkan panel surya berkapasitas besar, penyimpanan energi skala megawatt, dan teknologi pengisian pintar.

Lalu, ada juga proyek di Filipina yang memanfaatkan stasiun pengisian bertenaga surya, yang dapat beroperasi secara mandiri atau menyalurkan kelebihan listrik ke jaringan.

Kemudian ada India dan Thailand, yang juga mulai mengombinasikan tenaga surya dengan penggunaan kembali baterai dan sistem BESS.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur pengisian kendaraan listrik di Asia tidak hanya berfokus pada jumlah titik pengisian, tetapi juga bagaimana energi yang digunakan dapat menjadi lebih berkelanjutan.

Bagaimana Stasiun Pengisian Tenaga Surya Bekerja di Indonesia?

Di Indonesia, stasiun pengisian kendaraan listrik tenaga surya dapat memanfaatkan paparan sinar matahari yang relatif melimpah sepanjang tahun. Listrik dari panel surya dapat digunakan langsung untuk pengisian atau disimpan dalam baterai.

Sejumlah penerapan telah hadir di berbagai lokasi, termasuk lingkungan universitas, seperti Universitas Negeri Surakarta (UNS) Surakarta dan Universitas Indonesia (UI), serta kawasan resor, seperti The Apurva Kempinski Bali.

Untuk menjaga ketersediaan listrik, sistem juga dapat menggunakan skema hybrid yang menggabungkan tenaga surya dengan jaringan PLN atau sumber cadangan lainnya.

Meski mulai berkembang, tetapi Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan, antara lain biaya investasi awal, kebutuhan lahan, kapasitas panel dan baterai, serta pengelolaan energi yang harus disesuaikan dengan pola penggunaan kendaraan.

Baca Juga: Battery Recycling: Tantangan Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik

TBS dan Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia

Pengembangan infrastruktur energi dan mobilitas listrik juga menjadi bagian dari transformasi energi di Indonesia.

Pada 2021, TBS bersama GoTo Group mendirikan PT Energi Kreasi Bersama atau Electrum untuk membangun ekosistem mobilitas listrik terintegrasi.

Electrum mencakup berbagai aspek, mulai dari perakitan kendaraan, teknologi baterai, infrastruktur battery swapping, stasiun pengisian, hingga skema pembiayaan.

Pada Februari 2022, Presiden Joko Widodo meresmikan peluncuran ekosistem kendaraan listrik kolaboratif yang melibatkan Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits.

Kemudian, di tahun yang sama, Electrum juga berpartisipasi dalam KTT G20 dan B20 Bali dengan menyediakan 50 motor listrik, 11 shelter, serta 150 mitra driver Gojek untuk melayani delegasi.

Pada Desember 2024, Electrum kemudian mengamankan pendanaan US$15 juta dari Asian Development Bank, Australian Climate Finance Partnership, dan Bank DBS Indonesia.

Pendanaan tersebut mendukung pengadaan kendaraan serta perluasan jaringan battery swapping, yang diproyeksikan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 123.000 ton per tahun.

Tak hanya fokus pada penyediaan fasilitas, perkembangan produk juga terus dilakukan oleh TBS.

Motor listrik Electrum H3i diluncurkan di IMOS pada Oktober 2024, dengan pilihan pengisian di rumah maupun akses jaringan swapping, dan di 2025, Electrum H1 hadir untuk memberikan pilihan kendaraan listrik tambahan bagi konsumen.

Hingga 2025, Electrum telah memiliki lebih dari 500 Battery Swapping Station, lebih dari 15.000 motor listrik di Jakarta dan sekitarnya, serta lebih dari 19.000 penukaran baterai per hari. Ekosistem tersebut berkontribusi dalam menghindari lebih dari 3.200 ton CO2.

Di Indonesia, pengembangan ekosistem kendaraan listrik membutuhkan kolaborasi antara teknologi, infrastruktur, energi, dan pembiayaan.

TBS melalui Electrum terus mengambil bagian dalam perjalanan tersebut dengan mengembangkan kendaraan listrik, battery swapping, dan ekosistem mobilitas yang mendukung transisi menuju transportasi yang lebih berkelanjutan.