
Energi tak terbarukan masih menjadi bagian penting dari sistem energi global pada 2026, meskipun penggunaan energi terbarukan terus berkembang.
Peralihan menuju energi yang lebih bersih memang semakin cepat, tetapi perubahan tersebut tidak terjadi secara instan.
Infrastruktur energi yang sudah terbangun, kebutuhan industri, pertumbuhan ekonomi, serta faktor ketahanan energi membuat sejumlah sumber energi tak terbarukan masih digunakan di berbagai negara, termasuk di Asia dan Indonesia.
Apa Itu Energi Tak Terbarukan?
Energi tak terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber daya alam dengan jumlah terbatas dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terbentuk kembali.
Oleh karena proses pembentukannya yang dapat berlangsung hingga jutaan tahun, sumber daya tersebut tidak dapat dipulihkan dalam skala waktu kehidupan manusia.
Beberapa karakteristik utama energi tak terbarukan meliputi:
- Persediaannya terbatas.
- Memiliki kepadatan energi yang tinggi.
- Didukung infrastruktur yang sudah berkembang.
- Harganya dipengaruhi kondisi pasar dan geopolitik.
- Sebagian besar menghasilkan emisi lebih tinggi dibandingkan energi terbarukan.
Baca Juga: 5 Kelebihan Energi Terbarukan dan Peluangnya bagi Industri Berkelanjutan
Contoh Energi Tak Terbarukan
Berikut adalah contoh energi tak terbarukan yang penting untuk diketahui.
1. Minyak Bumi
Minyak bumi merupakan salah satu contoh energi tak terbarukan yang paling banyak digunakan. Selain sebagai bahan bakar kendaraan, minyak bumi menjadi bahan baku berbagai produk industri.
Hasil pengolahannya antara lain bensin, solar, avtur, pelumas, aspal, plastik, resin, dan berbagai bahan kimia. Oleh karena itu, peran minyak bumi tidak hanya berkaitan dengan sektor energi, tetapi juga industri manufaktur dan petrokimia.
2. Batu Bara
Batu bara masih memiliki peran besar dalam pembangkit listrik dan industri, terutama produksi baja dan semen. Di Asia, penggunaannya masih kuat karena kebutuhan listrik dan industri terus meningkat.
Data IEA menunjukkan bahwa China, India, dan negara-negara ASEAN menyumbang sekitar 77% konsumsi batu bara global pada 2024. Di Asia Tenggara, batu bara bahkan masih menyumbang sekitar 48% pembangkitan listrik pada 2025.
3. Gas Alam
Gas alam termasuk energi tak terbarukan yang banyak digunakan untuk pembangkit listrik, kebutuhan rumah tangga, industri, dan petrokimia. Pembangkit listrik combined cycle juga dapat mengubah gas menjadi listrik dengan efisiensi tinggi.
Gas alam sering dianggap sebagai bahan bakar transisi karena emisinya lebih rendah daripada batu bara ketika digunakan untuk menghasilkan energi.
Namun, gas alam tetap merupakan bahan bakar fosil sehingga penggunaannya masih bergantung pada sumber daya yang terbatas.
4. Energi Nuklir
Energi nuklir dihasilkan melalui proses fisi, yaitu pemecahan inti atom untuk menghasilkan panas. Panas tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan uap dan menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Energi nuklir berbeda dari batu bara, minyak, dan gas karena tidak menggunakan proses pembakaran.
Namun, bahan bakarnya, seperti uranium, merupakan sumber daya mineral yang terbatas. Karena itu, energi nuklir dapat masuk dalam pembahasan energi tak terbarukan.
5. Uranium
Uranium merupakan bahan bakar utama dalam banyak reaktor nuklir. Sebelum digunakan, uranium perlu melalui berbagai proses pengolahan dan, untuk jenis bahan bakar tertentu, pengayaan.
Peran uranium semakin strategis ketika sejumlah negara kembali mengembangkan energi nuklir sebagai bagian dari ketahanan energi dan upaya menekan emisi dari sektor listrik.
6. Plutonium
Plutonium memiliki penggunaan yang jauh lebih terbatas dibandingkan uranium. Material ini dapat dihasilkan dalam reaktor nuklir dan digunakan dalam jenis bahan bakar atau sistem nuklir tertentu.
Oleh karena sifatnya yang sensitif dan memiliki kaitan dengan teknologi militer, penggunaannya berada di bawah pengawasan serta regulasi yang sangat ketat.
7. LPG
Liquefied Petroleum Gas atau LPG terdiri dari propana dan butana yang diperoleh dari pengolahan minyak bumi dan gas alam. LPG banyak digunakan untuk memasak, pemanasan, serta berbagai kebutuhan industri dan komersial.
Keunggulannya adalah mudah disimpan dan didistribusikan dalam tabung atau tangki bertekanan. Namun, karena berasal dari bahan bakar fosil, LPG tetap termasuk sumber energi yang tidak terbarukan.
8. Oil Sands
Oil sands atau pasir minyak mengandung bitumen, yaitu hidrokarbon berat yang dapat diolah menjadi minyak sintetis. Ekstraksinya membutuhkan teknologi lebih kompleks dibandingkan minyak konvensional.
Pengembangannya menghadapi tantangan berupa penggunaan lahan dan air serta dampak emisi yang relatif tinggi. Oleh karena itu, oil sands menjadi salah satu sumber energi tak terbarukan yang banyak dibahas dalam konteks lingkungan.
9. Shale Oil
Shale oil berasal dari batuan yang mengandung hidrokarbon dan dapat diekstraksi menggunakan pengeboran horizontal serta hydraulic fracturing atau fracking.
Teknologi tersebut membantu meningkatkan produksi minyak di beberapa negara dan mengubah dinamika pasar energi global.
Namun, penggunaan air, potensi gangguan terhadap lingkungan, dan risiko aktivitas seismik menjadi beberapa isu yang terus diperhatikan.
10. Gambut
Gambut terbentuk dari material tumbuhan yang mengalami proses penguraian secara sangat lambat di kawasan basah.
Oleh karena membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk terbentuk kembali, gambut dapat dikategorikan sebagai sumber energi tak terbarukan ketika digunakan sebagai bahan bakar.
Penggunaannya relatif kecil dibandingkan minyak, batu bara, dan gas alam, tetapi tetap penting di beberapa wilayah tertentu.
Baca Juga: Mengapa Transisi Energi Indonesia Tidak Bisa Ditunda dan Apa Saja Tantangannya?
Energi Tak Terbarukan di Asia
Asia menjadi salah satu kawasan yang paling penting dalam pembahasan energi tak terbarukan. Pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, urbanisasi, dan meningkatnya kebutuhan listrik membuat permintaan energi kawasan ini tetap tinggi.
Di Asia Tenggara, bahan bakar fosil masih mendominasi bauran energi. IEA mencatat bahwa batu bara, minyak, dan gas masih menjadi sumber utama, meskipun investasi energi bersih terus meningkat.
Pada saat yang sama, transisi energi mulai berjalan. Energi surya dan angin tumbuh cepat, sedangkan sejumlah negara juga mengembangkan jaringan listrik, penyimpanan energi, kendaraan listrik, dan pembangkit rendah emisi.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Indonesia masih memiliki ketergantungan yang besar terhadap energi fosil, terutama batu bara, minyak, dan gas. Batu bara juga mempunyai peran penting dalam pembangkit listrik serta industri pengolahan mineral.
Namun, pengembangan energi bersih semakin diperkuat. Berdasarkan RUPTL PLN 2025–2034 yang disahkan melalui Keputusan Menteri ESDM No. 188.K/TL.03/MEM.L/2025, PLN merencanakan pembangunan pembangkit listrik dengan total kapasitas 69.512 MW.
Dari jumlah tersebut, 42.569 MW atau 61,2% berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT), sedangkan 16.687 MW berasal dari pembangkit berbasis energi fosil. RUPTL tersebut juga menetapkan target bauran EBT dalam pembangkitan listrik sebesar 34,3% pada 2034.
Dalam pernyataan Kementerian ESDM, total kapasitas EBT dan sistem penyimpanan energi (storage) dalam RUPTL mencapai sekitar 52,9 GW atau 76% dari total tambahan kapasitas. Angka tersebut terdiri dari sekitar 42,6 GW EBT dan 10,3 GW storage.
Data tersebut menunjukkan bahwa energi tak terbarukan masih menjadi bagian dari sistem ketenagalistrikan Indonesia, tetapi arah pengembangan kapasitas baru semakin memberikan ruang bagi EBT dan teknologi penyimpanan energi.
Perluasan Proyek Energi Terbarukan TBS
Perubahan tersebut juga terlihat dari strategi TBS yang memperluas bisnis menuju energi terbarukan sebagai bagian dari transformasi menuju bisnis yang lebih berkelanjutan.
Salah satu pencapaiannya adalah PLTM Sumber Jaya di Lampung melalui PT Adimitra Energi Hidro.
Pembangkit berkapasitas 2x3 MW atau 6 MW tersebut mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dan memasok energi bersih ke wilayah Sumatera Bagian Selatan.
TBS juga mengembangkan PLTS Terapung Tembesi di Batam berkapasitas 46 MWp. Proyek tersebut telah mencapai financial closing dan dikembangkan melalui kerja sama dengan PLN Nusantara Power.
Selain dua proyek tersebut, TBS memiliki pipeline pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan menargetkan pengembangan proyek di sektor surya, angin, hidro, serta sumber energi lainnya.
Portofolio tersebut menjadi bagian dari strategi TBS untuk memperluas bisnis energi hijau hingga 2030.
Jadi, melalui pengembangan PLTM Sumber Jaya 6 MW di Lampung, PLTS Terapung Tembesi 46 MWp di Batam, serta pipeline proyek energi terbarukan lainnya, TBS menunjukkan langkah nyata dalam mendukung transisi energi Indonesia.