tbs

Pengolahan sampah plastik dapat dilakukan dengan memilah sampah, menggunakannya kembali, mendaur ulang menjadi produk baru, hingga menyerahkannya kepada pengelola sampah yang memiliki fasilitas khusus.

Di tingkat yang lebih luas, pengurangan plastik sekali pakai, penerapan ekonomi sirkular, sistem EPR, serta kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan industri, diperlukan untuk mengatasi masalah sampah plastik di Indonesia dan Asia Tenggara.

Sampah plastik menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Plastik yang tidak dikelola dengan baik dapat menumpuk di tempat pembuangan, mencemari tanah dan perairan, serta berpotensi terbawa hingga ke laut.

Karena itu, pengelolaan sampah tidak cukup hanya dilakukan setelah sampah dihasilkan, tetapi juga perlu dimulai dari upaya mengurangi penggunaannya.

Baca Juga: Dampak Pembakaran Sampah: Bahaya bagi Kesehatan, Lingkungan, dan Solusinya

Tips Pengolahan Sampah Plastik di Rumah

Pengolahan sampah plastik dapat dimulai dari lingkungan rumah dengan langkah sederhana. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.

1. Memilah Sampah Plastik

Langkah pertama adalah memisahkan sampah plastik dari sampah lainnya, terutama sampah organik. Pemilahan juga dapat dilakukan berdasarkan jenis plastik karena tidak semua plastik dapat diproses dengan cara yang sama.

Botol plastik, misalnya, dapat dikumpulkan untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Sementara itu, jenis plastik tertentu membutuhkan proses lanjutan sebelum dapat menjadi bahan baku produk baru.

2. Menggunakan Kembali sebagai Pot Tanaman

Botol air minum, jus, atau kemasan susu dapat digunakan sebagai pot tanaman.

Caranya cukup sederhana, yaitu membuat beberapa lubang pada badan atau bagian bawah kemasan, memasukkan tanah dan tanaman, kemudian meletakkannya atau menggantungnya di tempat yang sesuai.

Cara ini membantu memperpanjang masa penggunaan plastik sekaligus menghasilkan barang yang bermanfaat.

3. Memanfaatkannya untuk Menyiram Tanaman

Botol plastik juga dapat dimanfaatkan sebagai alat penyiram tanaman. Buat beberapa lubang kecil pada botol, kemudian tanam sebagian botol di dalam tanah dan isi dengan air. Air akan merembes perlahan melalui lubang tersebut.

Kemasan pembersih yang sudah dicuci bersih juga dapat digunakan sebagai wadah penyiram tanaman dengan memotong bagian leher botol.

4. Mengolahnya Menjadi Karya Seni

Sampah plastik yang masih layak digunakan dapat diubah menjadi berbagai karya seni yang memiliki fungsi. Contohnya adalah karpet dari anyaman kantong plastik, hiasan dari tutup botol, hingga berbagai kerajinan rumah tangga.

Selain mengurangi sampah, kegiatan ini dapat menjadi peluang ekonomi apabila hasil kerajinan memiliki nilai jual.

5. Membuat Rumah Kaca Sederhana

Botol plastik bekas juga dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah kaca sederhana bagi tanaman. Bagian dasar botol dapat dipotong, tutupnya dilepas, kemudian botol diletakkan mengelilingi tanaman atau bedeng.

Pemanfaatan ini dapat membantu melindungi tanaman dari angin sekaligus mengurangi kebutuhan membeli material baru.

6. Membuat Ecobrick

Ecobrick merupakan salah satu cara memanfaatkan sampah plastik yang sulit digunakan kembali. Sampah plastik dipotong atau dicacah, kemudian dimasukkan ke dalam botol plastik hingga penuh dan padat.

Botol yang sudah menjadi ecobrick dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti membuat meja, kursi, atau material tambahan untuk konstruksi tertentu.

7. Menyerahkan Sampah kepada Pengelola

Tidak semua orang memiliki waktu, peralatan, atau kemampuan untuk mengolah sampah sendiri. Dalam kondisi tersebut, sampah plastik dapat disetorkan kepada bank sampah atau pihak pengelolaan sampah terintegrasi.

Sampah yang terkumpul selanjutnya dapat disalurkan ke industri daur ulang untuk diproses menjadi material atau produk baru.

Strategi Pengolahan Sampah Plastik di Asia Tenggara

Persoalan plastik tidak hanya terjadi di tingkat rumah tangga. Negara-negara Asia Tenggara juga menghadapi tantangan dalam mengelola pertumbuhan sampah, termasuk sampah yang berakhir di sungai dan laut.

Karena itu, pengolahan sampah plastik perlu didukung kebijakan yang lebih menyeluruh.

1. Mengurangi Produksi dan Penggunaan Plastik

Pengurangan plastik sekali pakai menjadi salah satu langkah penting.

Pemerintah dapat menerapkan regulasi, sedangkan masyarakat dapat mengurangi penggunaan kantong plastik, sedotan, dan kemasan sekali pakai dengan memilih produk yang dapat digunakan kembali.

2. Memperkuat Sistem Pengumpulan dan Daur Ulang

Infrastruktur pengelolaan sampah perlu diperkuat, terutama di kawasan perkotaan dan pesisir. Teknologi daur ulang juga perlu dikembangkan agar lebih banyak jenis plastik dapat diproses dan tidak berakhir di lingkungan.

3. Menerapkan EPR

Extended Producer Responsibility (EPR) mendorong produsen bertanggung jawab terhadap produk dan kemasan yang mereka hasilkan sepanjang siklus hidupnya.

Penerapan EPR di Asia Tenggara masih berbeda-beda. EPR bersifat wajib untuk kemasan plastik di Filipina, bersifat sukarela di Indonesia, dan masih dalam tahap pengembangan di Thailand.

Penguatan regulasi EPR dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus mendorong produsen membuat produk yang lebih mudah digunakan kembali atau didaur ulang.

4. Memperluas Sistem Reuse dan Zero Waste

Penggunaan kembali atau reuse perlu diprioritaskan sebelum sampah mencapai tahap akhir pengelolaan. Sistem reuse dan refill dapat membantu mengurangi sampah dari sumbernya sekaligus menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja.

Di sisi lain, pendekatan zero waste dapat dilakukan melalui pengurangan sampah, pemilahan, penggunaan kembali, pengomposan sampah organik, dan daur ulang.

Sistem pengelolaan yang terdesentralisasi juga dapat membantu menciptakan lapangan kerja hijau serta mengurangi dampak lingkungan.

5. Mencegah Perdagangan Limbah yang Bermasalah

Negara-negara Asia Tenggara juga perlu memperkuat pengawasan terhadap impor limbah, khususnya limbah plastik berbahaya, tercampur, atau sulit didaur ulang.

Penerapan Basel Convention dan sistem pelacakan limbah lintas negara dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.

Selain itu, teknologi yang berpotensi mempertahankan produksi plastik, seperti insinerasi waste-to-energy dan solusi yang mengklaim mampu mengatasi seluruh masalah plastik, perlu dinilai berdasarkan dampak lingkungan dan kesehatan sepanjang siklus hidupnya.

Baca Juga: Sistem Pengelolaan Sampah: Dari 3R Menjadi 9R untuk Masa Depan Lebih Hijau

Peran TBS dalam Pengelolaan Limbah Terintegrasi

Pengolahan sampah plastik membutuhkan dukungan dari sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi. Salah satu perusahaan yang memperkuat kapabilitas pengelolaan limbah di kawasan adalah TBS.

Langkah awal dilakukan pada 2023 melalui akuisisi Asia Medical Enviro Services (AMES) dan ARAH, dua pemain utama di bidang limbah medis, B3, rumah tangga, serta elektronik.

Kedua entitas tersebut kemudian dikonsolidasikan di bawah PT Solusi Bersih TBS (SBT) sebagai sub-holding khusus pengelolaan limbah.

Pada Maret 2025, TBS menyelesaikan akuisisi penuh Sembcorp Environment (SembEnviro), perusahaan Singapura yang bergerak dalam pengelolaan sampah kota, daur ulang, dan solusi lingkungan.

Akuisisi ini memperkuat skala, teknologi, dan jangkauan pasar TBS di kawasan tersebut. Selanjutnya, pada September 2025, SembEnviro resmi berganti nama menjadi CORA Environment.

Identitas tersebut menyatukan unit pengelolaan limbah TBS dalam satu merek sekaligus mempertegas ambisi perusahaan dalam menghadirkan solusi waste-to-resource di Asia Tenggara.

Bersama AMES, ARAH, dan CORA dalam satu platform, TBS menjalankan roadmap TBS2030 untuk mewujudkan target keberlanjutan, mengurangi dampak lingkungan, dan menghadirkan nilai jangka panjang bagi kawasan.

Saat ini, TBS memiliki 5 fasilitas pengolahan yang berlokasi di Indonesia dan Singapura. Pada 2025, fasilitas tersebut memproses lebih dari 970.000 ton limbah dan melayani lebih dari 475.000 pelanggan aktif.

Pengolahan sampah plastik dapat dimulai dari tindakan sederhana seperti memilah, menggunakan kembali, membuat ecobrick, atau menyetorkan sampah kepada pengelola.

Namun, penyelesaian masalah plastik dalam skala Indonesia dan Asia Tenggara membutuhkan dukungan sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi, kebijakan yang kuat, pengurangan plastik dari sumbernya, serta kolaborasi berbagai pihak.

Dengan kapabilitas pengelolaan limbah yang terus diperkuat, TBS berupaya mengambil peran dalam membangun solusi pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan di Asia Tenggara.