tbs

Baterai kendaraan listrik bekas tidak selalu menjadi limbah setelah performanya menurun karena masih dapat digunakan kembali atau didaur ulang untuk mengambil material bernilai di dalamnya.

Namun, pengelolaan baterai yang sudah tidak digunakan ini, menghadapi tantangan biaya, keselamatan, teknologi, serta kesiapan infrastruktur, termasuk di Asia dan Indonesia.

Di balik perkembangan kendaraan listrik (EV) yang semakin banyak digunakan untuk mengurangi emisi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil, terdapat satu pertanyaan penting: ke mana baterai kendaraan listrik pergi setelah masa pakainya berakhir?

Setelah digunakan selama bertahun-tahun, kapasitasnya akan menurun dan umumnya dianggap tidak lagi optimal untuk kendaraan ketika performanya berada di sekitar 70–80% dari kapasitas awal.

Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti baterai sudah tidak memiliki nilai. Lalu, apa yang bisa dilakukan dengan baterai ini? Berikut penjelasan lengkapnya.

Ini yang Terjadi pada Baterai Kendaraan Listrik Bekas

Ada beberapa kemungkinan setelah baterai kendaraan listrik tidak lagi memenuhi kebutuhan kendaraan. Baterai dapat diperbaiki, digunakan kembali untuk kebutuhan lain, atau didaur ulang.

1. Digunakan Kembali untuk Second Life

Baterai dengan kapasitas yang sudah menurun masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang tidak memerlukan performa setinggi kendaraan. Konsep ini dikenal sebagai second life battery.

Beberapa penggunaan yang telah dikembangkan antara lain penyimpanan energi dari panel surya, sistem penyeimbang jaringan listrik, serta cadangan energi untuk kebutuhan industri dan rumah tangga.

Namun, penggunaan kembali baterai belum selalu lebih murah dibandingkan menggunakan baterai baru. Biaya pemeriksaan, pembongkaran, transportasi, pengujian, dan pemasangan menjadi tantangan tersendiri.

Karena itu, pemanfaatan second life masih membutuhkan pengembangan teknologi dan model bisnis yang lebih efisien.

2. Didaur Ulang untuk Mengambil Material

Pilihan lainnya adalah mendaur ulang baterai. Di dalam baterai EV terdapat berbagai material bernilai, seperti lithium, nikel, kobalt, mangan, grafit, tembaga, dan aluminium.

Material tersebut dapat dipisahkan dan digunakan kembali sebagai bahan baku. Dengan begitu, proses daur ulang dapat membantu mengurangi kebutuhan penambangan bahan mentah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

Baca Juga: Second Life Battery: Potensi Baterai Kendaraan Listrik Jadi Penyimpan Energi

Bagaimana Baterai EV Didaur Ulang?

Baterai kendaraan listrik terdiri dari beberapa modul yang di dalamnya terdapat banyak sel. Sel tersebut menyimpan dan melepaskan energi melalui reaksi elektrokimia.

Jenis baterai juga dapat dibedakan berdasarkan material katodanya, seperti nickel-cobalt-aluminium (NCA), lithium iron phosphate (LFP), dan nickel-manganese-cobalt (NMC). Perbedaan komposisi ini memengaruhi cara baterai diproses ketika didaur ulang.

1. Pyrometallurgy

Pyrometallurgy menggunakan proses panas untuk mengolah baterai. Baterai terlebih dahulu diproses secara mekanis, kemudian materialnya dipanaskan pada temperatur tinggi untuk memisahkan dan mengambil logam tertentu.

Metode ini sudah digunakan dalam industri, tetapi membutuhkan energi yang besar dan tidak selalu mampu mengambil seluruh material bernilai dari baterai.

2. Hydrometallurgy

Berbeda dengan pyrometallurgy, hydrometallurgy menggunakan larutan kimia untuk memisahkan material dari baterai. Material baterai diproses dalam larutan tertentu sehingga logam dapat diekstraksi dan dipisahkan.

Pengembangan metode ini penting untuk meningkatkan tingkat pemulihan material sekaligus menciptakan proses daur ulang yang lebih efisien.

Tantangan Keselamatan Baterai Lithium-Ion

Pengelolaan baterai kendaraan listrik bekas tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga keselamatan.

Baterai lithium-ion yang rusak, terutama akibat kecelakaan, dapat mengalami thermal runaway, yaitu kondisi ketika peningkatan suhu memicu reaksi berantai yang menghasilkan panas sangat tinggi.

Risiko tersebut membuat baterai yang rusak membutuhkan penanganan, penyimpanan, dan transportasi khusus. Baterai tidak boleh dibuang sembarangan karena mengandung material dan bahan kimia yang dapat membahayakan manusia maupun lingkungan.

Masalah lain muncul ketika baterai bekas masuk ke pasar tanpa standar pengujian dan pemasangan yang memadai.

Karena itu, pengembangan ekosistem daur ulang dan penggunaan kembali harus dibarengi regulasi, standar keselamatan, serta tenaga yang memiliki kompetensi.

Ke Mana Baterai Kendaraan Listrik Pergi di Asia?

Asia menjadi salah satu kawasan penting dalam industri baterai kendaraan listrik. Negara seperti China, Korea Selatan, dan Jepang memiliki pendekatan berbeda dalam mengembangkan ekosistem baterai bekas.

China mengandalkan skala industri dan integrasi rantai pasok untuk mengembangkan pengumpulan serta daur ulang baterai.

Korea Selatan melihat daur ulang sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing industri dan teknologi.

Sementara itu, Jepang cenderung mengembangkan teknologi melalui pendekatan yang lebih hati-hati dan berorientasi pada penelitian.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan baterai EV bukan hanya persoalan lingkungan. Baterai juga berkaitan dengan keamanan pasokan bahan baku, industri manufaktur, teknologi, dan daya saing ekonomi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia juga perlu mulai membangun ekosistem pengelolaan baterai kendaraan listrik bekas. Baterai yang kapasitasnya sudah menurun sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai limbah apabila masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.

Pemanfaatan kembali dapat mendukung ekonomi sirkular sekaligus mengurangi potensi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Pada saat yang sama, diperlukan sistem yang jelas untuk memastikan baterai dikumpulkan, diperiksa, digunakan kembali, atau didaur ulang secara aman.

Baca Juga: Mobil Listrik saat Banjir: Panduan Aman di Musim Hujan

Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia Bersama TBS

Pengelolaan baterai merupakan bagian penting dari ekosistem kendaraan listrik yang berkelanjutan.

Karena itu, pengembangan kendaraan listrik tidak cukup hanya dengan menyediakan kendaraan dan infrastruktur pengisian atau penukaran baterai, tetapi juga perlu memperhatikan seluruh rantai nilai dari hulu hingga hilir.

Pada 2021, TBS bersama GoTo Group mendirikan PT Energi Kreasi Bersama (Electrum) untuk membangun ekosistem mobilitas listrik terintegrasi di Indonesia.

Electrum mencakup perakitan kendaraan, teknologi baterai, infrastruktur battery swapping, stasiun pengisian, hingga skema pembiayaan.

Pada Februari 2022, Presiden Joko Widodo meresmikan peluncuran ekosistem kendaraan listrik kolaboratif yang melibatkan Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits.

Di tahun yang sama, Electrum juga mendukung KTT G20 dan B20 Bali dengan menyediakan 50 motor listrik, 11 shelter, dan 150 mitra pengemudi Gojek.

Lalu, pada Desember 2024, Electrum memperoleh pendanaan US$15 juta dari Asian Development Bank, Australian Climate Finance Partnership, dan Bank DBS Indonesia.

Pendanaan tersebut mendukung pengadaan kendaraan serta perluasan jaringan battery swapping yang diproyeksikan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 123.000 ton per tahun.

Perkembangan Electrum berlanjut pada Oktober 2024 melalui peluncuran motor listrik H3i di IMOS dengan pilihan pengisian di rumah maupun akses jaringan swapping. Setahun kemudian di 2025, Electrum H1 hadir sebagai pilihan terbaru bagi konsumen.

Hingga 2025 lalu, lebih dari 15.000 kendaraan listrik Electrum telah beroperasi, didukung lebih dari 500 lokasi battery swapping station di Jakarta dan sekitarnya.

Jaringan tersebut mencatat lebih dari 19.000 kali penukaran baterai setiap hari dan berkontribusi menghindari lebih dari 3.200 ton emisi CO2.

Melalui pengembangan Electrum, TBS terus mengambil peran dalam membangun ekosistem kendaraan listrik Indonesia, mulai dari kendaraan, baterai, battery swapping, hingga infrastruktur pendukungnya.

Upaya ini menjadi bagian dari langkah TBS dalam mendorong mobilitas yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat rantai nilai kendaraan listrik nasional.