tbs

Emisi metana dari tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi salah satu ancaman lingkungan yang perlu mendapat perhatian lebih serius karena metana memiliki daya pemanasan jauh lebih kuat daripada karbon dioksida, terutama dalam jangka pendek.

Di Asia, termasuk Indonesia, tingginya jumlah sampah organik yang berakhir di TPA membuat pengendalian emisi metana menjadi bagian penting dari upaya mengatasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.

Selama ini, pembahasan mengenai perubahan iklim sering berfokus pada karbon dioksida (CO₂). Padahal, ada gas rumah kaca lain yang tidak kalah penting, yaitu metana (CH₄).

Gas ini terbentuk ketika material organik seperti sisa makanan membusuk dalam kondisi tanpa oksigen, termasuk di TPA yang tidak dikelola dengan baik.

Baca Juga: Apa Itu Jejak Karbon? Arti, Penyebab, Dampak, dan Upaya Menguranginya

Mengapa Emisi Metana Berbahaya bagi Iklim?

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), metana berkontribusi terhadap sekitar seperempat pemanasan global saat ini.

Dalam 20 tahun pertama setelah dilepaskan ke atmosfer, metana mampu memerangkap panas sekitar 80 kali lebih efektif dibandingkan CO₂.

Metana memang bertahan di atmosfer jauh lebih singkat, yaitu sekitar 12 tahun, sedangkan sebagian CO₂ dapat bertahan selama ratusan tahun.

Namun, kekuatan pemanasan metana yang tinggi membuat pengurangan emisinya dapat memberikan dampak relatif cepat terhadap laju pemanasan global.

Kadar metana di atmosfer saat ini juga telah meningkat lebih dari dua setengah kali lipat dibandingkan masa sebelum era industri.

Artinya, pengendalian metana bukan hanya kebutuhan untuk masa depan, tetapi menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan iklim saat ini.

Metana Juga Bisa Berasal dari Banyak Sektor

Sebenarnya, TPA bukan satu-satunya sumber metana. Sektor energi dan pertanian juga memberikan kontribusi besar.

Dalam industri minyak dan gas, metana dapat dilepaskan melalui kebocoran, venting, dan flaring selama proses ekstraksi, pengolahan, serta transportasi.

Lebih dari 75% emisi metana dari operasi minyak dan gas serta sekitar 50% emisi dari batu bara saat ini berpotensi dikurangi menggunakan teknologi yang sudah tersedia.

Sementara itu, sektor pertanian dapat mengurangi metana melalui pengelolaan kotoran ternak, peningkatan produktivitas dan kesehatan hewan, pemberian pakan yang tepat, serta metode budidaya padi, seperti alternate wetting and drying.

Emisi Metana dari TPA di Asia dan Indonesia

Seperti yang disebutkan di atas, TPA merupakan salah satu sumber utama emisi metana akibat aktivitas manusia.

Secara global, TPA diperkirakan menyumbang sekitar 11% emisi metana antropogenik. Jumlah tersebut berpotensi meningkat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan semakin banyaknya sampah yang dihasilkan.

Masalah ini sangat relevan di Asia karena pertumbuhan kota berlangsung cepat, sedangkan sistem pengelolaan sampah di sejumlah wilayah masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Di Indonesia, lebih dari 63% sampah perkotaan merupakan material yang mudah terurai atau biodegradable. Ketika sampah organik tersebut langsung ditimbun tanpa pengelolaan yang memadai, proses pembusukan anaerobik dapat menghasilkan metana.

Kondisi ini semakin kompleks karena sebagian TPA masih menerapkan sistem open dumping atau controlled landfill.

Dari analisis terhadap 341 TPA, sekitar 43,1% beroperasi sebagai open dumping dan 41,6% sebagai controlled landfill. Sementara itu, hanya 5,3% yang tergolong sanitary landfill.

Keterbatasan penutupan sampah, pemantauan, serta pemulihan gas juga menyebabkan metana lebih mudah terlepas ke atmosfer.

Bahkan, sejumlah TPA besar seperti Tamangapa, Antang, Benowo, dan Bantar Gebang dilaporkan memiliki emisi metana lebih dari 100.000 Mg per tahun.

Ancaman Tidak Berhenti pada Perubahan Iklim

Dampak emisi metana dari TPA bukan hanya berkaitan dengan pemanasan global. Gas yang terkumpul juga dapat meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan apabila tidak dikelola dengan baik.

Dalam dua dekade, tercatat 63 insiden kebakaran TPA di Indonesia, dengan metana disebut sebagai salah satu penyebab utama dalam 26 kasus.

Selain itu, pengelolaan sampah yang buruk dapat menimbulkan bau, menurunkan kualitas udara, serta melepaskan volatile organic compounds (VOCs) dan zat berbahaya lainnya.

Karena itu, pengendalian metana perlu dilakukan bersamaan dengan perbaikan sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan.

Cara Mengurangi Emisi Metana dari Sampah

Sektor persampahan sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengurangi emisi metana. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain menangkap dan mengolah landfill gas (LFG), melakukan flaring, serta memanfaatkan gas TPA untuk menghasilkan energi.

Teknologi biocover juga menjadi salah satu solusi yang semakin banyak diperhatikan.

Lapisan biologis ini membantu mikroorganisme mengoksidasi metana sebelum gas tersebut mencapai atmosfer. Selain menekan emisi, biocover yang dirancang dengan baik dapat membantu mengurangi bau dan emisi VOC.

Pengurangan sampah organik dari sumbernya juga tidak kalah penting. Pemilahan sisa makanan, komposting, pengolahan dengan anaerobic digestion, serta pemanfaatan larva black soldier fly dapat mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA.

Langkah sederhana di tingkat rumah tangga pun memiliki peran. Ketika sisa makanan dipisahkan dan diolah, jumlah material organik yang berakhir di TPA dapat berkurang.

Baca Juga: Strategi Kelola Sampah Ramah Lingkungan dan Pengelolaan Limbah Berkelanjutan

Peran Energi Terbarukan dan Masa Depan Rendah Emisi bersama TBS

Upaya mengatasi perubahan iklim juga perlu disertai dengan transisi menuju energi yang lebih bersih. TBS secara strategis memperluas portofolionya di sektor energi terbarukan melalui sejumlah proyek.

Melalui anak perusahaan PT Toba Bara Energi (TBAE), pada 2020 TBS mengakuisisi PT Adimitra Energi Hidro (AEH), pengembang PLTM 2x3 MW di Lampung.

Proyek tersebut mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 22 Januari 2025 dan kini menyumbang 6 MW energi bersih bagi wilayah Sumatera Bagian Selatan.

TBS juga mengembangkan PLTS Terapung Tembesi di Batam dengan kapasitas 46 MWp. Proyek ini telah mencapai financial closing pada 2024 dan ditargetkan beroperasi komersial penuh serta terhubung dengan jaringan listrik nasional pada 2026.

Pembangkit tersebut diharapkan membantu mengurangi emisi karbon, meningkatkan kualitas udara, menciptakan lapangan kerja hijau, serta mendorong alih teknologi dan kolaborasi dengan masyarakat setempat.

Selain itu, melalui PT Bayu Alam Sejahtera (BAS), TBS turut menjajaki potensi pengembangan energi angin di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Emisi metana dari TPA merupakan persoalan lingkungan yang tidak boleh lagi dianggap sebagai sekadar masalah sampah.

Pengelolaan sampah yang lebih baik, pemanfaatan teknologi pengendalian metana, pengurangan sampah organik, serta transisi menuju energi terbarukan perlu berjalan secara bersamaan.

Komitmen terhadap lingkungan dapat dimulai dari pengelolaan sampah, sekaligus diperkuat melalui pengembangan energi bersih.

Melalui PLTM 6 MW di Lampung yang telah mencapai COD pada Januari 2025 dan PLTS Terapung Tembesi 46 MWp yang sedang dibangun, TBS terus mengambil bagian dalam mendorong masa depan energi yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia.